nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Sarafal Anam, Eleminasi Benih Terorisme

Demon Fajri, Jurnalis · Senin 07 Oktober 2019 13:43 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 10 07 337 2113811 sarafal-anam-eleminasi-benih-terorisme-UTWDiOMxRX.jpg Sarafal Anam di Kelurahan Jembatan Kecil, Kecamatan Singaran Pati, Kota Bengkulu, Diyakini Mampu Eliminasi Beni-Benih Radikalisme (foto: Okezone/Demon Fajri)

BENGKULU - Terorisme selalu identik dengan kekerasan. Di mana terorisme merupakan salah satu kejahatan yang menjadi perhatian di Indonesia. Bahkan, dunia.

Hal tersebut musti ada upaya mengeleminasi benih-benih munculnya terorisme di lingkungan masyarakat. Mulai dari pencegahan, penanggulangan, penindakan serta rehabilitasi akibat terorisme.

Salah satu cara itu tradisi tutur lisan. Di mana tutur lisan merupakan suatu proses komunikasi, dalam menyampaikan pesan sesuai dengan tafsiran terhadap pesan lisan dalam kondisi yang disesuaikan. Sarafal Anam, misalnya.

Di mana Sarafal Anam merupakan salah satu 'Kekuatan Kearifan Lokal Membendung Hoak dan Disrupsi Informasi' di suku Lembak, kelurahan Dusun Besar, kelurahan Panorama, kelurahan Jembatan Kecil kecamatan Singaran Pati Kota Bengkulu provinsi Bengkulu. 

Sarafal Anam, Kearifan Lokal Suku Lembak 

Sarafal Anam di kelurahan Jembatan Kecil kecamatan Singaran Pati Kota Bengkulu (foto: Okezone/Demon Fajri)

Sarafal Anam, begitulah masyarakat Suku Lembak di kota Bengkulu provinsi Bengkulu, menyebutnya. Sarafal Anam merupakan salah satu kesenian dan budaya masyarakat suku Lembak.

Kesenian sarafal anam disajikan dalam bentuk seperti mengiramakan sebuah lagu. Namun lagu yang digunakan bernuansa Islami serta berisi puji-pujian terhadap Allah, SWT, Rasul atau Nabi.

Budaya yang juga bernafaskan Islam, adat dan budaya suku lembak ini diketahui sudah masuk kisaran tahun 1500-an beriringan dengan masuknya perkembangan agama Islam di Bengkulu.

"Sarafal anam merupakan adat dan budaya yang bernafaskan Islami dan tidak terlepas dari syariat Islam. Ini kearifan lokal suku Lembak di Kota Bengkulu," kata ketua Adat kelurahan Dusun Besar kecamatan Singaran Pati kota Bengkulu, Abdullah, saat ditemui Okezone, Senin 23 September 2019.

Kesenian sarafal anam masih mengakar hingga sekarang. Khususnya masyarakat asli Lembak di Kota Bengkulu dan sekitarnya. Di kelurahan Jembatan Kecil, Panorama kelurahan Dusun Besar kecamatan Singgaran Pati, contohnya.

Biasanya sarafal anam disajikan pada acara tertentu. Saat pesta perkawinan atau pernikahan suku Lembak, acara aqiqah atau cukur rambut bayi dalam bahasa lembak Nenjor, hatam Quran atau tamat kaji dan acara Maulid Nabi.

Senin 23 September 2019, kota Bengkulu provinsi Bengkulu, bercuaca cerah berawan. Termasuk di kelurahan Dusun Besar kecamatan Singaran Pati. Langit biru dipenuhi gumpalan awan, berserakan.

Hari itu, sinar matahari begitu menyengat, panas. Menusuk kesela-sela setiap bagian kulit. Hembusan angin sepoi-sepoi menyapu setiap bagian yang ada di daerah itu. Debu, misalnya.

Menempel di pakaian dan celana serta kendaraan yang lalu lalang. Termasuk pemukiman penduduk di jalan Danau RT.22 RW.07 No.07 kelurahan Dusun Besar kecamatan Singaran Pati Kota Bengkulu.

Rumah permanen itu dihuni ketua Adat kelurahan Dusun Besar kecamatan Singaran Pati kota Bengkulu. Abdullah, namanya. Pria berkulit gelap ini tinggal bersama istri dan anaknya.

Siang itu pria berkulit gelap ini sedang duduk di teras rumahnya, santai. Mengenakan celana pendek berwarna kuning serta dibaluti baju kaos dalam berwarna putih yang mulai lusuh.

Pria ini satu dari puluhan anggota klub kesenian sarapal anam di daerah-nya. Klub Sarafal Anam atau group Berdikir di kalangan masyarakat suku Lembak tetap dilestarikan secara turun menurun.

Di mana kearifan lokal sarafal anam tersebut dapat dijadikan kekuatan dalam membendung hoak dan disrupsi informasi di lingkungan masyarakat di Kota Bengkulu dan sekitarnya.

Sebab, kesenian sarafal anam tidak hanya dimainkan ketika acara tertentu dalam suku Lembak. Namun, kesenian yang menggunakan alat musik pukul gendang ini memiliki jadwal latihan setiap minggu.

Latihan itu di gelar klub kesenian sarafal anam. Klub sarafal anam persatuan muda sepakat (PMS), kelurahan Panorama dan klub persatuan pemuda sepakat (PPS) kelurahan Dusun Besar kecamatan Singaran Pati kota Bengkulu.

Jadwal latihan setiap minggu di helat pada Senin malam. Ba'da salat Isya atau setelah salat Isya, tepatnya. Seperti, klub sarafal anam persatuan muda sepakat (PMS) kelurahan Panorama kecamatan Singaran Pati kota Bengkulu.

Latihan itu digelar di rumah anggota yang tergabung dalam group sarafal anam, secara bergantian. Dari pertemuan dalam setiap latihan tersebut masyarakat suku Lembak menjalin silaturahmi.

Berangkat dari silaturahmi itu anggota klub saling bertukar informasi di lingkungan masing-masing. Baik di tingkat RT maupun RW di wilayah masing-masing.

Tidak hanya itu, dari latihan sarapal anam yang melibatkan tidak kurang dari puluhan masyarakat suku lembak, tentu mampu mendeteksi masuknya paham radikalisme dan terorisme di lingkungan masyarakat.

"Latihan sarapal anam tidak hanya melibatkan orang dewasa, orangtua. Kami juga melibatkan dan merangkul generasi muda. Mulai dari tingkat SMP, SMA maupun mahasiswa," jelas pria yang dipercaya sebagai Pembina group sarafal anam Persatuan Pemuda Sepakat (PPS) kelurahan Dusun Besar kecamatan Singaran Pati kota Bengkulu.

Selain bertukar pikiran dan informasi, latihan sarafal anam juga mampu mengisi hal-hal yang baik dan bermanfaat untuk generasi muda yang terlibat secara langsung. Lalu, mempererat tali persaudaraan.

Di mana generasi muda diberikan edukasi. Baik edukasi bahaya terorisme, informasi hoaks dan disrupsi informasi.

Cara tersebut tentu mampu menangkal paham radikalisme, hoaks serta disrupsi informasi. Bahkan, generasi muda akan lebih terbuka dan peka terhadap lingkungan atas bahaya-bahaya di daerah masing-masing.

Keterlibatan generasi muda suku Lembak, sampai Abdullah, mencapai 20 orang dari 52 anggota group sarafal anam Persatuan Muda Sepakat (PMS) kelurahan Panorama kecamatan Singaran Pati kota Bengkulu.

Group sarafal anam dengan melibatkan generasi muda tersebut, lanjut Abdullah, sudah berlangsung sejak dua tahun terakhir atau sejak 2017. Di mana setiap latihan dan belajar sarapal anam memakan waktu tidak kurang dari 3 jam.

"Anggota sarafal anam, khususnya generasi yang ikut serta dalam latihan sarafal anam juga diberikan arahan dalam mencari jati diri," jelas Abdullah.

"Mereka mendapatkan edukasi agar tidak memberikan informasi yang belum tentu kebenarannya atau informasi hoaks di media sosial," sampai Abdullah.

Dalam latihan sarafal anam, masyarakat suku Lembak menggunakan rebana berukuran besar. Rebana itu dari kulit sapi dan kambing untuk ditabuh ketika mengiringi dan melafaskan pujian-pujian untuk Allah, SWT, Rasul dan Nabi.

Di bagian dalam rabana terdapat lilitan rotan yang melingkar. Mengikuti bentuk rebana. Fungsinya, untuk menambahkan efek nyaring saat rebana di tabuh. Memainkan kesenian sarafal anam dilakukan secara berdiri maupun sambil duduk.

"Sarapal anam salah satu untuk menyalurkan hobi dalam melestarikan budaya suku Lembak bagi generasi muda," ujar Abdullah.

Kearifan Lokal, Tangkal Potensi Radikalime 

Sarafal Anam di kelurahan Jembatan Kecil kecamatan Singaran Pati Kota Bengkulu (foto: Okezone/Demon Fajri)

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) telah melakukan penelitian guna mengangkal terorisme, pada tahun 2017. Di mana kearifan lokal dan kesejahteraan menjadi daya tangkal signifikan potensi radikalisme.

Selain itu, salah satu temuan survey di 32 provinsi. Potensi radikalisme pada masyarakat Indonesia, berada pada kondisi perlu di waspadai dengan angka 55,12 poin dari rentang 0 hingga 100.

Lalu, di tahun 2018, BNPT melanjutkan hasil penelitian. Efektivitas kearifan lokal dalam menangkal radikalisme di era milenial. Hasil dari masyarakat percaya bahwa 63,60 persen (kategori tinggi), kearifan lokal masih mampu memfilter paham radikalisme

Hasil survey juga menemukan, bahwa aktivitas keagamaan masih tinggi mencapai 77,73 persen. Namun, pemahaman keagamaan dengan skor yang masih rendah. Yakni, 25,82 persen.

"Kearifan lokal merupakan salah satu penangkal nomor satu dalam pencegahan terorisme. Hal tersebut berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan pada tahun 2017 dan 2018," kata Sekretaris Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Provinsi Bengkulu, Usman Yasin, ketika ditemui Okezone, Senin 23 September 2019.

Di Bengkulu, sampai Usman, pengetahuan masyarakat Bengkulu terhadap kearifan lokal, sebesar 16,11 dengan kategori rendah. Rata-rata skor 30,09. Di mana Bengkulu peringkat ke 29 dari 32 provinsi di Indonesia.

Sementara, kepercayaan masyarakat Bengkulu terhadap Kearifan Lokal sebesar 52,86 masuk kategori rendah dengan rata-rata skor 30,09. Dalam hal ini Bengkulu berada di posisi 32 dari 32 provinsi di Indonesia.

Untuk potensi radikalisme di Bengkulu, sebesar 32,91 kategori rendah dengan rata-rata skor 42,58. Di mana Bengkulu berada di posisi 31 dari 32 provinsi di Indonesia.

"Faktor tertinggi daya tangkal terorisme secara nasional, kearifan lokal dan kesejahteraan," sampai Usman.

Budaya Tutur Lisan, Kekuatan Daya Perekat

Masyarakat di provinsi berjuluk "Bumi Rafflesia", Bengkulu, masih memiliki kekayaan kearifan lokal tradisi tutur lisan. Masyarakat meyakini kearifan lokal budaya tutur lisan sebagai satu kekuatan daya perekat.

Tidak hanya itu, kearifan lokal juga sebagai kontrol moral dalam menjaga pola hubungan masyarakat yang harmonis, baik dalam masyarakat yang homogen ataupun heterogen. Bahkan, mampu membendung hoaks dan disrupsi informasi dan terorisme.

Di mana tradisi tutur lisan sebagai proses komunikasi, dalam menyampaikan pesan sesuai dengan tafsiran terhadap pesan-pesan lisan dalam kondisi yang disesuaikan.

Sekaligus pertukaran informasi antar individual melalui bahasa lisan, sistem simbol, tanda atau tingkah laku serta sebagai media komunikasi dalam berkomunikasi antar individu dan kelompok masyarakat.

Tradisi tutur lisan, terang Usman, dapat dijadikan sebagai media penghubung untuk menyampaikan maksud dan tujuan kepada individu atau sekelompok orang (petatah-petitih).

Sehingga pemerintah desa, kota dan pusat berperan aktif untuk membantu menjaga dan melestarikan budaya tutur lisan yang ada di setiap daerah di Indonesia, termasuk di provinsi yang dihuni tidak kurang dari 1,9 juta ini.

"Tradisi tutur lisan sebagai pengembangan dan pelestarian budaya daerah," ujar Usman.

Sarafal Anam di kelurahan Jembatan Kecil kecamatan Singaran Pati Kota Bengkulu (foto: Okezone/Demon Fajri)	 

Terapkan Kearifan Lokal Budaya Tutur Lisan

Kearifan lokal tradisi tutur lisan dalam sarafal anam mengandung nilai-nilai budaya kesenian. Seperti, nilai sosial yang memiliki ikatan kebersamaan, kekeluargaan dan solidaritas yang kuat antar sesama anggota klub.

Selain itu, adanya nilai kerohanian. Di mana sarafal anam mengandung nilai religi atau Islami yang tinggi. Sebab lagu yang dibawakan berisi tentang puji-pujian terhadap Allah, SWT, Rasul atau Nabi.

Kesenian sarafal anam juga munculnya nilai estetika atau nilai keindahan yang tinggi. Hal tersebut ditandai dengan irama lagu dan bunyi tabuhan dari rebana yang menghasilkan sebuah harmonisasi nabda yang indah.

"Kesenian ini masih dipelihara masyarakat suku Lembak. Sebab sarafal anam sudah menjadi salah satu budaya kebanggaan masyarakat suku Lembak," terang Ketua Koordinator Bidang Pelestarian Adat dan Budaya (BMA) provinsi Bengkulu, Abdullah.

Ditambahkan tokoh masyarakat Suku Lembak kelurahan Panorama kecamatan Singaran Pati kota Bengkulu, Usman Yasin, kearifan lokal sarafal anam dapat mengidentifikasi paham radikalisme membendung hoak dan disrupsi informasi.

Di mana keunggulannya dari sarafal anam, terang Usman, sastra tutur lisan yang dilakukan dalam setiap pertemuan dalam belajar sarafal anam terdapat petuah yang disampaikan kepada anggota sarapan anam.

Latihan sarapal anam, lanjut Usman, tentu dapat mendeteksi masyarakat mana yang tidak ingin bergaul dalam lingkungan masyarakat. Hal tersebut di ketahui melalui pertukaran informasi dari setiap anggota.

Berangkat dari hal tersebut, jelas Usman, di lingkungan masyarakat yang tidak suka bergaul akan terpantau. Hal tersebut membuat ruang gerak pendatang terbatas.

"Melalui sarafal anam bisa menyampaikan pesan-pesan," kata Usman.

Ditambahkan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) provinsi Bengkulu, Rohimin, pencegahan paham radikalisme dapat dilakukan melalui tutur lisan di lingkungan masyarakat.

Dari MUI sendiri, sampai Rohimin, selalu mengajak masyarakat untuk menjauhi paham radikalisme, menyebarluaskan informasi hoaks melalui media sosial dan disrupsi informasi.

Pencegahan itu dilakukan melalui ceramah agama di majelis taklim, masjid, serta pertemuan-pertemuan lainnya. Selain itu, MUI juga bekerjasama dengan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda).

Rohimin menyebut, kearifan lokal memang dapat dilakukan dan diterapkan dalam pencegahan radikalisme di lingkungan masyarakat. Sebab, setiap daerah memiliki kearifan lokal yang dapat disampaikan melalui budaya tutur lisan.

"Kami dari MUI ikut berperan dalam membendung hoak dan disrupsi informasi dengan melakukan sosialisasikan dan penyuluhan kepada ormas dan masyarakat melalui ceramah-ceramah agama dalam setiap pertemuan," terang Rohimin.

Pencegahan paham redikalisme dan teroris mustinya ada koordinasi dengan stakeholder di tingkat provinsi, kota/kabupaten. Melibatkan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT), Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB).

Di mana koordinasi tersebut dilakukan secara maksimal. Sebab munculnya paham radikalisme didudga disebabkan dari pemahaman agama yang salah dan bukan dalam konteks ajaran Islam dan agama lain.

Tidak hannya itu, dari Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) provinsi Bengkulu, juga meningkatkan koordinasi dengan Kesbangpol kota/kabupaten di Bengkulu.

Di mana Kesbangpol kota/kabupaten menjadi garda terdepan dan bersentuhan langsung dengan masyarakat.

"Dalam mendukung pencegahan itu kami mengadakan kegiatan dengan medeteksi dini melalui koordinasi dengan Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat. Kami juga mensosialisasikan dalam rangka upaya meredam paham radikalisme dan terorisme," kata Kepala Badan Kesbangpol provinsi Bengkulu, Khairil Anwar, Jumat 27 September 2019.

Berdasarkan hasil survey Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT) dan lembaga lainnya, pada tahun 2017, provinsi Bengkulu memiliki potensi radikalisme cukup tinggi.

Dengan persentase 58,58 persen di susul Gorontalo 58,48 persen, Sulawesi Selatan 58,42 persen, Lampung 58,38 persen dan Kalimantan Utara 58,30 persen.

Namun, dengan upaya pencegahan yang telah dilakukan mulai dari koordinasi dengan FKPT, FKUB, FKDM serta berkoordinasi dengan Kesbangpol di Bengkulu, potensi radikalisme, pada tahun 2018, menjadi peringkat ke 32 dari 32 provinsi di Indonesia.

Pencegahan paham radikalisme dan terorisme di Bengkulu, dari peringkat pertama menjadi urutan paling bawah. Hal tersebut tidak terlepas dari upaya sosialisasi dengan melibatkan berbagai lembaga dan instansi.

Mulai dari Badan Musyawarah Adat (BMA) provinsi, kota/kabupaten, ketua adat se provinsi Bengkulu. Dengan melakukan pendekatan kearifan lokal yang ada di setiap daerah di Bengkulu.

"Pencegahan melalui kearifan lokal merupakan salah satu langkah membendung paham radikalisme, hoaks di lingkungan masyarakat di Bengkulu," jelas Khairil.

Tangkal Hoaks dan Paham Radikalisme, Cerdas Bermedia Sosial 

Saat ini kebanyakan anak muda dan remaja mencari identitas melalui media internet. Sehingga hal tersebut dapat dimanfaatkan kelompok teroris.

Dengan merekrut anggota baru, mengadakan pelatihan, propaganda, pendidikan dan pembinaan jaringan kelompok-nya, misalnya. Hal tersebut dalam bentuk tulisan, video dan ajakan yang disebarkan melalui website, media sosial dan blog.

Sebab, bagi kelompok teroris media internet efektif dan efisien untuk menyebarluaskan kebencian, memperluas jaringan, ataupun mencari anggota baru untuk mengikuti paham yang diajarkan.

Sebab internet memberikan banyak kemudahan pada era milenials. Berdasarkan data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) 2018, di Indonesia, pada 2017 jumlah pengguna Internet mencapai 143,26 juta jiwa.

Tingginya pertumbuhan pengguna Internet, sekira 143,26 juta atau 54,68 persen dari total penduduk Indonesia, diikuti dengan makin ketatnya kontrol pemerintah.

Dari data Nielsen sepanjang tahun 2014 hingga 2017, media internet tumbuh 21 persen dengan kenaikan durasi mengakses 50 persen.

Derasnya arus informasi di era ini berbagai platform digital, utamanya situs dan media sosial terus mengalami pemblokiran dan penyensoran. Hal tersebut dalam rangka melawan arus berita palsu, penyebaran ideologi radikal dan pornografi.

Pemerintah memblokir hampir satu juta situs yang memuat konten negatif sepanjang tahun 2018. Selama tahun 2018, Kemenkominfo telah melakukan pemblokiran terhadap 961.456 situs yang memuat konten negatif.

Dari jumlah itu telah dilakukan normalisasi sebanyak 430 situs, karena adanya klarifikasi dari pemilik situs dan kepatuhan terhadap aturan yang ada.

Ilustrasi (foto: Shutterstock) 

Sementara dalam empat tahun terakhir, situs yang diblokir semakin banyak jumlah situs diblokir yang mengandung unsur radikalisme. Namun, pada 2014 tidak ada situs memuat radikalisme yang diblokir.

Pada 2015, ada 37 situs berunsur radikalisme yang diblokir. Jumlahnya naik menjadi 48 situs diblokir pada 2016 dan melonjak menjadi 111 situs diblokir pada tahun lalu.

Tidak hanya itu, pemerintah juga memblokir konten yang dianggap negatif di aplikasi Live Chat. Konten yang diblokir sepanjang 2018 sebanyak 2.334 konten dari 11 aplikasi Live Chat.

Kepala Bidang (Kabid) Penyelenggaraan E-Government, Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik (Dikominfotik) provinsi Bengkulu, Indra Venni mengatakan, site operastor seluler di Bengkulu, sebanyak 805 site.

Jumlah itu tersebar di 10 kabupaten/kota di provinsi berjuluk "Bumi Rafflesia" ini. Di mana ratusan site itu di miliki 5 provider atau penyelenggara jasa internet.

Selain itu, kata Indra, Diskominfotik provinsi Bengkulu telah memasang jaringan internet di organisasi perangkat daerah (OPD), Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD).

Lalu, Sekolah Luar Biasa (SLB), Sekolah Menengah Atas (SMA), objek wisata dan kampung nelayan yang tersebar di seluruh pelosok Bengkulu. Jaringan internet yang terpasang tersebut dapat di akses secara gratis.

"Kami sudah memasang jaringan internet 125 titik untuk OPD, UPTD, SLB, SLB dan 56 titik untuk objek wisata dan kampung nelayan di seluruh provinsi Bengkulu," kata Indra, kepada Okezone, Rabu 25 September 2019.

Ilustrasi (foto: Shutterstock) 

Dilanjutkan Kepala Bidang Hubungan Media dan TIK, Dikominfotik provinsi Bengkulu, Wilysa Mardani, Diskominfotik mengimbangi akses internet gratis dengan memberikan edukasi disertai sosialisasi dalam penggunaan internet sehat.

Hal tersebut guna menangkal dan membendung hoaks di setiap daerah. Sebab, masyarakat harus mencerna setiap konten yang disebarkan di media sosial dari berbagai platform. Sehingga masyarakat pengguna jasa internet tidak ikut menyebarkan berita palsu atau hoaks.

"Untuk membendung hoaks, konten negatif dan radikalisme. Musti adanya edukasi secara intens kepada masyarakat, sehingga hal tersebut dapat terbendung dan tidak menyebar di media sosial. Masyarakat harus cerdas bermedia sosial," sampai Wilysa, ketika ditemui Okezone, Rabu 25 September 2019.

Verifikasi, Kunci Menekan Sebaran Informasi Palsu

Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bengkulu, Hary Siswoyo mengatakan, eskalasi era digital hari ini memang telah membiak kemana-mana dan membawa dampak. Salah satu yang paling mengkhawatirkan adalah mudahnya informasi palsu merayap ke setiap orang.

Sementara di sisi lain. Publik kita masih gagap dalam menyikapinya. Karena itu butuh kesadaran bersama siapa pun. Untuk tidak mudah mempercayai informasi yang beredar di internet.

"Verifikasi dan verifikasi menjadi kunci penting menekan sebaran informasi palsu. Uji kebenaran informasinya dengan alat pengecek fakta atau literasi sebelum kemudian dilempar ke tempat lain," kata Harry, kepada Okezone, Kamis 26 September 2019.

"Jika terbukti palsu maka simpan dan stop sebarannya. Lalu ingatkan penyebarnya bahwa itu palsu dan tak pantas untuk disebarkan yang lain," tegas Harry.

Ilustrasi (foto: Shutterstock) 

Tidak sehatnya penggunaan media sosial membuat pengguna media sosial tersadung kasus. Dari data Southeast Asia Freedom of Expression Network (SAFEnet), sepanjang 2018 terdapat 292 kasus terkait UU ITE.

Jumlah itu meningkat dibanding tahun 2017, 140 kasus. Kasus sepanjang 2018, melebihi dari total kasus sejak 2011 hingga 2017. Yakni, 216 kasus.

Adapun total kasus terkait UU ITE yang terpantau di situs Mahkamah Agung (MA) Republik Indonesia (RI), lima tahun terakhir mencapai 508 kasus.

Di mana kasus paling populer adalah pidana yang berhubungan dengan penghinaan dan pencemaran nama baik atau defamasi yang menggunakan pasal 27 ayat 3 UU ITE dan atau juncto pasal 45 ayat 3 UU No.19/2016.

Di posisi kedua adalah kasus ujaran kebencian, dengan menggunakan pasal 28 ayat 2 UU ITE dan atau juncto Pasal 45A ayat 2.

Prinsipnya, terang Harry, hoaks sudah pasti meresahkan siapa pun namun menyebarnya ulang jauh lebih membahayakan dari hoaks itu sendiri.

"Jadi. Pastikan diri untuk selalu mengecek fakta dan kemudian juga terlibat untuk mengingatkan orang lain agar melakukan hal serupa," sampai Harry.

Harry menyarankan, berhenti mengumbar data pribadi ke internet lalu tanamkan di dalam diri bahwa tidak semua hal yang ada di internet benar dan patut dipercayai.

Generasi milenial butuh literasi digital yang memadai. Tanpa ini sangat mungkin mereka terjebak dalam informasi palsu dan kejahatan internet.

"Harus bijak dan hati-hati menggunakan media sosial. Baik dalam penggunaan kata, jangan terpancing hasutan atau provokasi dan lain-lain," tambah Harry.

Upaya membendung hoax di media sosial, sampai Kabid Humas Polda Bengkulu, AKBP Sudarno, Polda Bengkulu telah melakukan literasi kepada kalangan pelajar dan mahasiswa.

Langkah itu, kata Sudarno, dengan melakukan sosialisasi ke sekolah tingkat SMA serta mahasiswa perguruan tinggi negeri (PTN) dan perguruan tinggi swasta (PTS) di Bengkulu.

"Sosialisasi yang kita berikan kepada pelajar dan mahasiswa/i dengan topik utama bermedia sosial sehat," jelas Sudarno, Jumat 27 September 2019.

Selain sosialisasi, lanjut Sudarno, Polda Bengkulu juga melakukan pemantauan terhadap medsos setiap hari, sebagai bentuk upaya preventif. Jika ditemukan konten hoaks maka akan membubuhkan stemple hoaks.

Sudarno menyampaikan, jumlah berita hoaks yang beredar khususnya berita palsu di Bengkulu, pihaknya belum mendata secara pasti. Meskipun demikian, Polda Bengkulu selalu memantau setiap hari konten medsos di wilayah bengkulu.

"Pengguna medsos yang memposting hoaks kami undang untuk klarifikasi tetapi kalau didalamnya juga ada tindak pidana maka dilakukan penegakan hukum,'' tegas Sudarno.

Sarafal Anam di kelurahan Jembatan Kecil kecamatan Singaran Pati Kota Bengkulu (foto: Okezone/Demon Fajri)	 

Untuk menghindari penyebaran berita palsu di medsos, Sudarno menyarankan, terkhusus untuk kaum milenial agar cerdas bermedsos. Caranya, dengan mengenali ciri-ciri berita atau konten hoaks.

Selain itu, tambah Sudarno, yang tak kalah pentingnya adalah dengan membaca berita yang ada di medsos hingga selesai atau tuntas serta tidak hanya membaca sebatas judul dan langsung share.

"Pengguna medsos harus mau cek dan ricek sumber berita dan mau googling tentang konten postingan, apakah informasi yang diterima itu betul atau tidak (jangan langsung share)," terang Sudarno.

Berdasarkan data Indonesia Digital Landscape 2018, pengguna internet berdasarkan umur 12-14 tahun 9,9 persen, 15-19 tahun 10,9 persen, 20-24 tahun 11,6 persen.

Lalu, 25-29 tahun 14,2 persen, 30-34 tahun 11,8 persen, 35-39 tahun 10,9 persen. Di usia tersebut termasuk dalam digital native. Di mana generasi yang lahir dan hidup di era internet menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Kemudian, 40-44 tahun 10,1 persen, 45-49 tahun 9,1 persen, 50-54 tahun 5,0 persen, 55-59 tahun 3,1 persen. Usia ini merupakan generasi immigrant.

Di mana generasi pendahulu yang mengenal internet, saat mereka telah dewasa. Geneasi ini harus belajar beradaptasi dengan internet

Sementara untuk penggunaan internet melalui komputer atau tablet dalam sehari masyarakat Indonesia, selama 5 jam 6 menit. Dengan menggunakan internet di ponsel selama 3 jam 10 menit. Kemudian, menggunakan internet melalui media sosial.

Social networking system, seperti Facebook (FB), Twitter, Instagram (Ig) dan YouTube maupun social platform seperti WhatsApp (WA), Line, selama 2 jam 52 menit. Terakhir, pengguna internet menonton tv, selama 2 jam 29 menit.

Direktur Sosialisasi, Komunikasi dan Jaringan, Badan Pembinaan Ideologi Pancasila Indonesia (BPIP), Aris Heru Utomo mengatakan, perubahan perilaku masyarakat sejak internet booming diikuti dengan perubahan komunikasi antara brand dan masyarakat.

Aris mencontohkan, ciri-ciri hoaks. Yakni, menciptakan kecemasan, kebencian, permusuhan, sumber tidak jelas dan tidak ada yang bisa dimintai tanggung jawab atau klarifikasi, pesan sepihak, menyerang dan tidak netral atau berat sebelah.

Lalu, mencatut nama tokoh berpengaruh atau pakai nama mirip media terkenal, memanfaatkan fanatisme atas nama ideologi, agama, suara rakyat, judul dan pengantarnya provokatif dan tidak cocok dengan isinya.

Selanjutya, memberi penjulukan, minta supaya di-share atau diviralkan, menggunakan argumen dan data yang sangat teknis supaya terlihat ilmiah dan dipercaya.

Kemudian, artikel yang ditulis biasanya menyembunyikan fakta dan data serta memelintir pernyataan narasumbernya, berita ini biasanya ditulis oleh media abal-abal, di mana alamat media dan penanggung jawab tidak jelas.

Terakhir, manipulasi foto dan keterangannya. Foto-foto yang digunakan biasanya sudah lama dan berasal dari kejadian di tempat lain dan keterangannya juga dimanipulasi.

"Hoaks dapat di cegah dengan cara pengguna internet musti hati-hati dengan judul provokatif. cermati alamat situs, periksa fakta, cek keaslian foto dan ikut serta dalam group anti-hoac," kata Aris, saat di Kota Bengkulu, Sabtu 14 September 2019.

1
6

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini