nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

BMKG: 114 Gempa Susulan Dirasakan Warga Maluku dari Total 1.044

Sabtu 05 Oktober 2019 13:02 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 10 05 337 2113216 bmkg-114-gempa-susulan-dirasakan-warga-maluku-dari-total-1-044-LKrrM8xw6T.jpg Ilustrasi seismograf (Foto: Shutterstock)

JAKARTA – Aktivitas gempa susulan masih saja terjadi pascagempa Maluku dengan dengan magnitudo 6,5 pada Kamis 26 September 2019 lalu. Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) merilis, per Sabtu (5/10/2019) pukul 09.00 WIT, tercatat sebanyak 114 gempa dirasakan warga dari total 1.044 kali gempa susulan.

Secara keseluruhan, jika dilihat dari grafik gempa susulan (aftershock) terjadi penurunan yang signifikan. Masyarakat diharapkan tidak terpancing dengan isu yang tidak benar atau hoaks adanya gempa besar dan tsunami.

Kepala Bidang Mitigasi Gempa dan Tsunami BMKG, Daryono menyebut, sumber gempa Maluku berasal dari dari segmen Sesar Kairatu. Berupa sesar mendatar dengan strike relatif dari barat ke timur.

Jika melihat catatan historis, gempa dan tsunami pernah terjadi pada segmen sesar tersebut, tepatnya pada 30 September 1899. Ketika itu gempa berkekuatan M 7,8 menyebabkan tsunami ini mengakibatkan sekitar 4.000 orang tewas. 

Ia menjelaskan, pelajaran yang perlu ditarik dari gempa Maluku, masyarakat perlu mewaspadai jalur sesar aktif. Selain itu, meskipun gempa dengan magnitudo relatif kecil kekuatannya dapat merusak bangunan. Karenanya, penting untuk pendirian bangunan tahan gempa dan tata ruang pantai aman tsunami.

Kerusakan Akibat Gempa Maluku

"Seiring dengan potensi bahaya di kawasan sesar, evakuasi mandiri dan cara selamat menghadapi gempa perlu dilatihkan dalam upaya kesiapsiagaan terhadap gempa dan tsunami,” ujarnya, melansir iNews.id, Sabtu (5/10/2019).

Sementara itu, data Pos Komando (Posko) Penanganan Darurat Bencana Gempa Provinsi Maluku per 4 Oktober 2019, pukul 18.00 WIT, tercatat korban meninggal 37 orang, luka berat 36, luka ringan 1.231 dan mengungsi 111.490.

Jumlah pengungsian terbanyak teridentifikasi di Kabupaten Maluku Tengah (Malteng) dengan 65.694 orang, Seram Bagian Barat (SBB) 42.856 dan Kota Ambon 2.940. Data korban meninggal di Kabupaten Malteng 15, SBB 11 dan Ambon 11.

Gempa tidak hanya mengakibatkan korban jiwa tetapi kerusakan infrastruktur. Pada sektor pemukiman, total rumah rusak berat sejumlah 1.911 unit, rusak sedang 1.802 dan rusak ringan 3.486.

Posko di wilayah terdampak melakukan upaya diberbagai sektor, seperti kesehatan personel memberi bantuan makanan khusus bagi balita (PMT) dan mengidentifikasi makanan tambahan yang dibutuhkan selama di pengungsian. Di samping itu, posko mengoordinir pendistribusian logistik kepada warga terdampak.

Selama penanganan darurat, beberapa kendala dihadapi di lapangan. Pengungsian yang ada tersebar dan tidak berada pada titik kumpul di masing-masing desa atau dusun. Ini sangat menyulitkan terkait dengan pendataan angka pengungsi dan pendistribusian logistik.

Selain itu, beberapa jenis logistik diakui masih minim dari yang diharapkan oleh mereka yang masih mengungsi, seperti tenda atau terpal. Posko mengidentifikasi sejumlah kebutuhan yang masih diperlukan selama penanganan darurat ini, seperti selimut, matras, air minum, air bersih dan kebutuhan logistik kesehatan.

Di sisi lain, kebutuhan personel dengan latar belakang kesehatan juga masih dibutuhkan seperti dokter umum, bidan dan perawat, apoteker dan tenaga psikososial.

Beberapa kendala lain yaitu terbatasnya sarana dan prasarana dalam distribusi ari bersih, terputusnya akses jalan dan jembatan sehingga mempengaruhi pasokan bahan bakar ke SBB. Pendataan di berbagai sektor masih terus dilakukan pascagempa, sedangkan di wilayah Malteng terdapat kendala dalam kesulitan komunikasi pengiriman data.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini