nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Tembok Bekas Coretan Umpatan di Sekitar Gedung DPR Mulai Dicat Ulang

Fadel Prayoga, Jurnalis · Jum'at 04 Oktober 2019 20:13 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 10 04 337 2113057 tembok-bekas-coretan-umpatan-di-sekitar-gedung-dpr-mulai-dicat-ulang-Og31ukZSUH.jpg

JAKARTA - Sejumlah mahasiswa dan pelajar yang tergabung dalam kelompok Antivis Milenial (Z) beramai-ramai membersihkan dan mengecat kembali dinding dan tembok di sekitar Gedung DPR yang dicoret-coret massa pengunjuk rasa.

Mulanya dinding tersebut penuh dengan corat coret umpatan kepada wakil rakyat dan pemerintah akibat dicoret oleh beberapa demonstran saat aksi unjuk rasa beberapa waktu lalu.

Salah satu inisiator kegiatan itu, Arief Rosyid mengatakan bahwa aksi itu muncul sebagai bentuk tanggung jawab moral mereka setelah sempat mengotori fasilitas umum usai mengikuti aksi demonstrasi beberapa waktu lalu.

"Kami dari aktivis milenial dan kawan-kawan pelajar dari SMA dan SMK se-derajat mengapresiasi bahwa budaya demokrasi anak-anak muda tetap subur dan berkembang, baik aktivis yang turun kejalan maupun yang meramaikan dunia maya," kata Arief dalam keterangan tertulis, Jumat (4/10/2019).

Ilustrasi

Ia mengapresiasi aksi penyampaian pendapat itu. Namun, dirinya menyayangkan adanya unjuk rasa itu berujung kepada kericuhan.

"Setelah aksi demo kemarin kami melihat banyak coret-coretan dinding, maka dari itu kami dari aktivis milenial dan Aktivi(Z) bersama-sama membuat kegiatan ngecat bareng pasca demo, agar terlihat lebih rapih," ucap Arief.

Salah satu peserta aksi yang juga Presiden Forum OSIS DKI Jakarta, Alvinaldy Fitrah, menegaskan bahwa pelajar tidak salah ketika ikut terlibat dalam aksi penyampaian pendapat. Dia menilai, gerakan pelajar itu sebuah kemajuan dan bentuk kepedulian akan demokrasi.

"Pelajar tidak dapat disalahkan, yang perlu dilakukan adalah bersama menyiapkan wadah untuk menyampaikan aspirasi-aspirasi dan keresahannya dalam melihat isu-isu politik di Indonesia sesuai dengan ranahnya sebagai pelajar," kata Alvinaldy.

Seperti diketahui, gelombang demonstrasi penolakan terhadap sejumlah RUU bermasalah seperti RUU KPK dan RKUHP terus bergulir mulai dari tanggal 23 dan 24 September 2019 oleh mahasiswa di depan gedung DPR RI. Puncaknya, mahasiswa harus berhadapan dengan aparat ketika terjadi kerusuhan.

Selanjutnya, aksi dilakukan oleh ribuan pelajar SMK, STM, dan SMA se-Jabodetabek dengan mengusung tuntutan yang sama dengan mahasiswa namun aksi mereka juga harus berahir dengan kerusuhan.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini