Pengungsi Kerusuhan Wamena di Jayapura Mulai Terserang Penyakit

Salman Mardira, Okezone · Rabu 02 Oktober 2019 10:10 WIB
https: img.okezone.com content 2019 10 02 337 2111827 pengungsi-kerusuhan-wamena-di-jayapura-mulai-terserang-penyakit-HGRFLtPKz3.jpg Posko pengungsi kerusuhan Wamena di Jayapura. (Foto: Salman Mardira/Okezone)

JAYAPURA – Korban selamat dari kerusuhan di Kota Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua, yang mengungsi ke Jayapura, mulai terserang penyakit. Salah satunya adalah infeksi saluran pernapasan atas (ISPA).

Di posko pengungsian Wamena, di Kompleks Masjid Al Aqsa, Sentani, Kabupaten Jayapura, beberapa pengungsi mengeluh masalah pernapasan.

"Agak terganggu benapas. Di sini agak panas, beda dengan di Wamena. Di sana dingin," kata Satria (40), pengungsi dari Wamena, saat ditemui Okezone di Kompleks Masjid Al Aqsa, Rabu (2/10/2019).

Baca juga: Menkominfo: Akun Provokatif Terkait Papua di Medsos Berasal dari 20 Negara 

Ia mengatakan, tidur di tenda pengungsian tidak begitu nyenyak sehingga berpengaruh kondisi kesehatan. "Enggak enak di sini, ya namanya juga tempat pengungsian," ujarnya.

Karena kondisi Jayapura cuacanya lebih hangat dibandingkan Wamena, banyak anak kecil di tenda pengungsian rewel dan menangis.

Para pengungsi kerusuhan Wamena di Jayapura. (Foto: Salman Mardira/Okezone)

"Ini menangis terus dari tadi. Panas di sini karena biasa kita cuaca dingin di sana (Wamena)," tutur Satria sambil menenangkan anak balitanya yang terus menangis.

Tim kesehatan di posko pengungsian Wamena Kompleks Al Aqsa mencatat dalam empat hari terakhir ada 14 orang dari total 261 pengungsi di sana mengalami ISPA.

Baca juga: Ganjar Intens Pantau Kondisi Warga Jateng di Wamena Buntut Kerusuhan 

Anggota tim kesehatan di posko setempat, Dokter Nurisman Ado, mengatakan faktor pemicu ISPA di antaranya karena lingkungan pengungsian berbeda dengan tempat tinggal para pengungsi di Wamena.

"Di sini kan debunya juga banyak, terus cuaca juga," katanya.

Selain ISPA, ada enam pengungsi tercatat mengalami sakit kepala. Selebihnya hipertensi dan nyeri badan, salah satunya akibat faktor tidur yang kurang dan kecapekan karena rata-rata para pengungsi berlarian saat menyelamatkan diri saat kerusuhan di Wamena.

Kerusuhan yang terjadi di Wamena pada 23 September mengakibatkan 4.656 orang mengungsi ke berbagai daerah. Sebanyak 880 orang di antaranya berada di sejumlah posko di Kabupaten Jayapura.

Wakil Bupati Jayapura Giri Wijayantoro memastikan warga Wamena yang mengungsi ke kabupatennya tertangani dengan baik.

"Semua kita libatkan (menangani pengungsi)," kata Giri.

Baca juga: Cerita Keluarga asal Makassar Diselamatkan Pendeta saat Kerusuhan di Wamena 

Pemkab Jayapura, kata dia, juga siap menerima anak-anak pengungsi Wamena yang ingin melanjutkan sekolah di Jayapura, mengingat mereka sekarang tidak bisa sekolah karena layanan pendidikan di Wamena belum normal.

"Tapi ini terserah kepada orangtuanya masing-masing, prinsipnya kita siap."

Baca juga: Kisah Dewi yang Selamat dari Konflik Aceh dan Kerusuhan Wamena 

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini