nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Pierre Tendean, Blasteran Prancis Dibunuh PKI 2 Bulan Sebelum Menikah

Demon Fajri, Jurnalis · Senin 30 September 2019 07:04 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 09 29 337 2110796 pierre-tendean-blasteran-prancis-dibunuh-pki-2-bulan-sebelum-menikah-h2K7xvpiuV.jpg Pierre Tendean

PARTAI Komunis Indonesia (PKI) merupakan sejarah kelam bangsa Indonesia. Sejarah kelam itu adanya peristiwa di tahun 1965 atau 54 tahun lalu. Peristiwa kelam itu dikenal G-30/S PKI atau G 30 S/PKI atau Gerakan 30 September.

Peristiwa itu di Jakarta dan Yogyakarta. Di mana saat itu terjadi pemberontakan PKI, dengan menculik beberapa perwira TNI Angakatan Darat (AD).

Pembantaian itu dilakukan secara kejam. Di mana perwira TNI dibuang di sebuah tempat. Monumen Lubang Buaya, namanya.

Perwira TNI yang gugur tersebut mendapatkan gelar sebagai Pahlawan Revolusi atau Pahlawan Nasional.

Siapa saja sosok Pahlawan Revolusi dalam peristiwa pembantaian dalam G-30/S PKI itu? Berikut ulasannya dari berbagai sumber dan data yang diperoleh Okezone.

Kapten Pierre Tendean

Lubang Buaya

Pahlawan Kapten Pierre Andreas Tendean merupakan anak kedua dari tiga bersaudara. Pria ini dilahirkan dari seorang ibu berdarah Perancis dan ayah berdarah Minahasa.

Tendean tertarik pada dunia militer sejak masih kecil. Kemudian memilih berkarir dalam bidang militer. Namun, satu hal yang menarik dari Kapten Pierre Tendean adalah kisah cintanya yang berujung tragis.

Tidak banyak yang tahu Tendean memiliki seorang kekasih hati. Rukmini, namanya. Rukmini harus ditinggalkan selamanya karena dedikasinya untuk negara.

Dua Bulan Sebelum Menikah Meninggal Dunia

Pierre Tendean

Pada saat itu ia telah yakin dan memantapkan niat untuk menikahi sang pujaan hati. Masih menjabat sebagai ajudan Jenderal A.H Nasution.

Kemudianm, Tendean meminta restu dari orang tuanya untuk melamar Rukmini. Tendean menulis surat kepada orang tuanya memohon doa restu untuk menikah. Pada tanggal 31 Juli 1965, Tendean menemui calon mertuanya dan melamar putri mereka.

Saat itu Jenderal A.H Nasution dan Letnan Tendean sedang bertugas di Medan, Sumatera Utara. Kesempatan itu digunakan untuk meresmikan hubungannya dengan sang gadis.

Kemudian, disepakati hari pernikahan mereka berdua akan dilaksanakan pada November 1965. Namun, takdir berkata lain, pertemuan itu menjadi pertemuan terakhir mereka.

(kha)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini