nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Mayjen Sutoyo, Korban PKI Asal Kebumen Penolak Buruh Dipersenjatai

Demon Fajri, Jurnalis · Senin 30 September 2019 06:58 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 09 29 337 2110795 mayjen-sutoyo-korban-pki-asal-kebumen-penolak-buruh-dipersenjatai-naxbXPJ7w9.jpg Sutoyo Siswomiharjo

PARTAI Komunis Indonesia (PKI) merupakan sejarah kelam bangsa Indonesia. Sejarah kelam itu adanya peristiwa di tahun 1965 atau 54 tahun lalu. Peristiwa kelam itu dikenal G-30/S PKI atau G 30 S/PKI atau Gerakan 30 September.

Peristiwa itu di Jakarta dan Yogyakarta. Di mana saat itu terjadi pemberontakan PKI, dengan menculik beberapa perwira TNI Angakatan Darat (AD).

Pembantaian itu dilakukan secara kejam. Di mana perwira TNI dibuang di sebuah tempat. Monumen Lubang Buaya, namanya.

Lubang Buaya

Perwira TNI yang gugur tersebut mendapatkan gelar sebagai Pahlawan Revolusi atau Pahlawan Nasional.

Siapa saja sosok Pahlawan Revolusi dalam peristiwa pembantaian dalam G-30/S PKI itu? Berikut ulasannya dari berbagai sumber dan data yang diperoleh Okezone.

Mayor Jenderal Sutoyo Siswomiharjo

Sutoyo

Di pertengahan tahun 1960-an, kondisi perpolitikan Indonesia memanas. Hal tersebut dikarenakan rencana pembentukan angkatan kelima. Di mana buruh tani bakal dilengkapi dengan senjata.

Sutoyo salah satu jenderal yang turut menolak kebijakan tersebut. Hingga terjadi tragedi, tanggal 1 Oktober 1965. Sekira pukul 04.00, rumahnya didatangi satu peleton pasukan Cakrabirawa pimpinan Serma Surono.

Beberapa hari kemudian, Sutoyo ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa bersamaan dengan jenderal Angkatan Darat (AD) lain di Lubang Buaya, Jakarta Timur. Peristiwa penculikan jenderal AD tersebut dikenang dengan G-30-S/PKI.

Mundur dari Pegawai Negeri

Pria kelahiran Kebumen, Jawa Tengah, pada tanggal 23 Agustus 1922 ini menamatkan sekolah umum di Algemeene Middelbare School (AMS).

Pada masa pendudukan Jepang, Sutoyo mengikuti pelatihan di Balai Pendidikan Pegawai Tinggi Jakarta. Lalu, di terima menjadi pegawai negeri di kantor Kabupaten Purworejo. Namun, mengundurkan diri dengan hormat pada tahun 1944.

Sesudah proklamasi 1945, Sutoyo masuk Tentara Keamanan Rakyat (TKR) bagian kepolisian, yang kemudian berkembang menjadi Corps Polisi Militer (CPM).

Pada Juni 1946 diangkat menjadi ajudan Kolonel Gatot Subroto yang ketika itu menjadi Komandan Polisi Tentara (PT).

Dari situ, Sutoyo dipindahtugaskan ke Purworejo untuk menjabat sebagai Kepala Bagian Organisasi Resimen II Polisi Tentara di Purworejo. J

Empat tahun sesudah Indonesia mendapat kedaulatan penuh, Sutoyo naik pangkat menjadi Kepala Staf Markas Besar Polisi Militer.

Dua tahun kemudian, Sutoyo bertugas di London sebagai Asisten Atase Militer Republik Indonesia untuk Inggris.

Ke tanah air, Sutoyo mendapat Kursus C Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (Seskoad) di Bandung, Jawa Barat sebelum diangkat menjadi Pejabat Sementara Inspektur Kehakiman Angkatan Darat (Irkeh AD).

Berkat pengetahuan dan pengalaman yang luas di bidang hukum, pada 1961, Sutoyo diserahi tugas sebagai Inspektur Kehakiman/OditurJenderal Angkatan Darat (Irkeh/Ojen AD).

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini