nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Letjen S Parman, Dapat Firasat dari Burung Gereja Sebelum Dieksekusi PKI

Demon Fajri, Jurnalis · Senin 30 September 2019 05:01 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 09 29 337 2110791 letjen-s-parman-dapat-firasat-dari-burung-gereja-sebelum-dieksekusi-pki-av4tuuzTlS.jpg Foto: Ist

PARTAI Komunis Indonesia (PKI) merupakan sejarah kelam bangsa Indonesia. Sejarah kelam itu adanya peristiwa di tahun 1965 atau 54 tahun lalu. Peristiwa kelam itu dikenal G-30/S PKI atau G 30 S/PKI atau Gerakan 30 September.

Peristiwa itu di Jakarta dan Yogyakarta. Di mana saat itu terjadi pemberontakan PKI, dengan menculik beberapa perwira TNI Angakatan Darat (AD).

Pembantaian itu dilakukan secara kejam. Di mana perwira TNI dibuang di sebuah tempat. Monumen Lubang Buaya, namanya.

Perwira TNI yang gugur tersebut mendapatkan gelar sebagai Pahlawan Revolusi atau Pahlawan Nasional.

Siapa saja sosok Pahlawan Revolusi dalam peristiwa pembantaian dalam G-30/S PKI itu? Berikut ulasannya dari berbagai sumber dan data yang diperoleh Okezone.

Letnan Jenderal Siswondo Parman

Letjen S Parman

Siswondo Parman adalah pahlawan revolusi Indonesia dan tokoh militer Indonesia. Sebelum menjadi korban penculikan dalam peristiwa G-30-S/PKI, S Parman beserta istri telah memiliki firasat. Di mana pada Kamis 30 September 1965, banyak burung gereja dan burung sriti di kamar tamu.

Selain kedatangan burung gereja dan burung sriti. Parman juga menunjukkan isyarat sebelum meninggal dunia. Enam bulan sebelum G-30-S/PKI, Parman bersama sang istri berjalan ke Taman Makam Pahlawan, Kalibata, Jakarta Selatan.

Kepada sang istri, Parman berpesan setelah meninggal nanti dimakamkan di TMP Kalibata.

Parman merasa TMP adalah tempat istirahat abadinya yang membahagiakan. Parman juga berpesan agar di batu nisannya dibuat tulisan: Pejuang Sejati.

Dibawa Prajurit Tjakrabirawa

Pada pukul 03.01 WIB, Sumirahayu bangun dan sempat menikmati sejuknya udara Jakarta. Keheningan itu pecah ketika sejumlah kendaraan truk tentara merapat ke rumahnya.

Prajurit Tjakra itu mengatakan keadaan negara sedang genting. Karena curiga, Sumirahayu menanyakan surat perintah dan identitas si penjemput. Sementara S Parman ke kamar untuk berganti pakaian dengan seragam dinas ketentaraan.

Saat keluar, Parman kaget. Lantaran banyak prajurit Tjakra di halaman rumahnya. Parman memerintahkan sang istri menghubungi Menpangad Letjen Ahmad Yani. Sayangnya, sambungan telepon rumah sudah diputus.

S Parman pun di bawa prajurit Tjakrabirawa bukan ke Istana Negara untuk bertemu Presiden Soekarno.

Namun, S Parman di bawa ke Lubang Buaya di kawasan Halim, Jakarta Timur. Di Lubang Buaya, S. Parman dibunuh dan dimasukkan ke sumur tua bersama lima jenderal lainnya.

Jenazah S Parman baru ditemukan tiga hari kemudian. Tepatnya, pada 5 Oktober 1965. Jenazah mereka dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta Selatan.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini