nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Setahun Gempa-Tsunami Sulteng, Apa Kabar Para Penyintas?

Minggu 29 September 2019 02:32 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 09 29 337 2110568 setahun-gempa-tsunami-sulteng-apa-kabar-para-penyintas-enWAfLXYuk.jpg Para ibu masih mencari keberadaan anak mereka yang hilang di Desa Jono Oge (Foto: BBC News Indonesia)

10 OKTOBER 2018, Micha Matong menangis tersedu-sedu. Air mata tak henti-hentinya menetes saat membicarakan putrinya, Windy Fransisca, hampir dua pekan setelah gempa dan likuefaksi melanda Desa Jono Oge, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah.

Mengutip dari BBC News Indonesia Windy bersama 27 temannya dari SMA Negeri 2 Palu berada di desa tersebut saat kegiatan pembekalan rohani di gereja Jono Oge. Dari jumlah siswa sebanyak itu, 13 orang dinyatakan hilang. Windy termasuk di antara mereka yang hilang tersebut. Jasadnya tidak pernah ditemukan sampai sekarang.

Saat BBC News Indonesia menemui Micha 18 September 2019 lalu, dia tampak jauh lebih tegar. Dia tak lagi menangis ketika menceritakan perjuangannya memeriksa semua jenazah yang pernah ditemukan dari lokasi bencana likuefaksi di Desa Jono Oge demi mencari Windy. Micha yakin anaknya masih hidup.

"Sampai hari ini tidak ada satupun bukti atau saksi yang menyatakan langsung bahwa anak-anak kami sudah tiada," kata Micha.

Baca Juga: Korban Gempa dan Likuefaksi Palu Sudah Kembali ke Petobo 

Berdasarkan keyakinan itu, Micha dan para orang tua yang anaknya hilang di Jono Oge mencari beragam petunjuk dari sejumlah saksi tentang keberadaan anak-anak mereka. Sekecil apapun petunjuk itu.

 Yunus

Para orangtua yang kehilangan anak-anaknya juga rutin berkumpul, berbagi informasi, dan berdoa bersama guna saling menguatkan.

Informasi-informasi yang mereka kumpulkan selama setahun terakhir itu telah diserahkan kepada polisi. Namun karena keterangan para saksi kurang kuat, kasus anak-anak yang hilang ini tidak dapat dilanjutkan.

Menurut pengakuan Micha, orang-orang di sekitarnya telah menyarankan untuk berhenti mencari. "Mereka bilang, 'sudahlah, tidak usah dicari daripada buang waktu dan tenaga, lihatlah situasi, ini anak pasti tertelan lumpur'," ujar Micha.

Namun, Micha pantang menyerah. "Kami berdoa, suatu hari, kami yakin anak kami pasti akan kembali," tutup Micha.

Baca Juga: Kerugian Gempa Sulawesi Tengah Capai Rp18,48 Triliun

Keyakinan Micha dalam menemukan anaknya juga dirasakan Connie Lumentu. Anak Connie, Friardini, turut hilang bersama Windy saat gempa dan likuefaksi melanda Desa Jono Oge.

Connie yakin sekali Friardini masih hidup. Dia mendasarkan keyakinannya pada keterangan dua saksi dari Desa Langaleso, desa yang bersebelahan dengan area likuefaksi di Desa Jono Oge.

Kedua saksi itu, menurut Connie, menyatakan pernah melihat anaknya, bahkan memberikan makanan.

"Saya tunjukkan foto anak saya, dan saksi itu yakin apa yang dia lihat dengan foto yang saya tunjukkan itu cocok," kata Connie.

Pencarian selama 12 bulan berdampak pada kondisi kesehatan dan mental para orangtua yang anaknya hilang di Desa Jono Oge. Seska Sumilat, orangtua dari Gabriella, sempat mengalami koma akibat kadar gula darahnya terlalu tinggi pada awal tahun 2019 ini.

Tahun lalu, saat BBC News Indonesia menemuinya, Seska sempat berkata sembari berlinang air mata: "Saya manusia biasa, bukan malaikat yang kuat, saya cari di mana? Saya tidak tahu."

Ketika BBC News Indonesia menjumpai Micha, Connie, dan orang tua lainnya dalam pertemuan rutin, Seska tidak bisa hadir. "Saya memilih tidak hadir, untuk menguatkan hati saya," kata Seska melalui telepon.

"Saya meyakinkan diri bahwa Gabriella sudah aman di suatu tempat, jika dia masih hidup dan kembali, saya juga sangat bersyukur," tambahnya.

Yunus melupakan kenangan pahit dengan berkebun. Likuefaksi yang terjadi di Desa Jono Oge telah mengubah hidup Yunus, penyandang tunanetra yang selamat dalam bencana itu.

Tahun lalu, ketika BBC News Indonesia bertemu Yunus, dia sedang duduk termenung di lokasi pengungsian, tidak jauh dari Desa Jono Oge. Yunus kala itu dalam keadaan terguncang dan sekujur tubuhnya penuh luka. Istri dan anak buahnya meninggal dunia.

Keadaan mulai berubah setelah setahun berlalu. Saat menjumpai Yunus kembali, dia berada di hunian sementara (huntara) di Dolo, Sigi. Dia duduk di depan rumahnya dan sedang berbincang dengan para tetangga.

Setelah sejenak bercakap-cakap, dia mengajak ke kebunnya, sekitar 5 kilometer dari tempat ia bermukim. "Ke kebun untuk hilangkan ingatan (pahit) dan rasa sedih," kata Yunus.

Dia menceritakan bahwa dua bulan setelah bencana, dia sudah mulai membuka kebunnya. Dia merasakan bahwa rerumputan semakin tinggi karena ditinggal terlalu lama.

Maka setelah 'baparang' atau memotong rumput, Yunus menanami lahannya dengan bibit jagung. "Sudah panen sekali, dapat Rp 2 juta," tambahnya.

Yunus menjelaskan bahwa deret pohon jagung di kebunnya siap dipanen satu bulan lagi. Ini adalah panen kedua pada 2019.

Kebun jagungnya itulah tumpuan hidupnya. "Bantuan terus berkurang, maka itu lebih baik berkebun, untuk beli isi dapur dan sekolah anak," ungkap Yunus.

Anak pertama dan keduanya ternyata selamat dari likuefaksi. Mereka yang kini jadi kekuatan bagi Yunus untuk menjalani hidup.

Yunus menceritakan, jenazah istri dan anak bungsunya ditemukan 45 hari setelah bencana terjadi. Selama 45 hari itu pula Yunus masih berpikir dapat bertemu mereka dalam keadaan hidup.

"Tetapi ketika jenazah ditemukan, sudah tidak berpikir macam-macam lagi," tambahnya.

Keadaan ini pun diterima Yunus dengan ikhlas. "Kehidupan saya sekarang sudah baik, tenang, tinggal berpikir bagaimana mencari makan."

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini