Batal Baca Doa di Paripurna MPR, Keponakan Prabowo Walkout

Fahreza Rizky, Okezone · Jum'at 27 September 2019 14:44 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 09 27 337 2110064 batal-baca-doa-di-paripurna-mpr-keponakan-prabowo-walkout-hLKAEPxCWt.jpg Foto Ilustrasi Okezone

JAKARTA - Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) menggelar sidang paripurna akhir masa jabatan periode 2014-2019. Dalam acara itu biasanya selalu diakhiri penutupan doa yang dibacakan oleh anggota MPR.

Sebelum menutup agenda sidang paripurna, Ketua MPR Zulkifli Hasan langsung membacakan sendiri doa penutupan dengan alasan untuk mempersingkat waktu. Padahal, Anggota MPR dari Fraksi Gerindra, Rahayu Saraswati Djojohadikusumo telah didapuk menjadi pembaca doa.

Saras pun marah dan kecewa atas hal ini. Ia dan beberapa anggota Fraksi Gerindra lainnya walkout dari sidang paripurna akhir tersebut.

"Rasa kecewa, sedih, marah bercampur aduk," kata Saras kepada wartawan, Jumat (27/9/2019).

 Baca juga: Jokowi Kaji Penerbitan Perppu UU KPK, Ketua MPR: Harus Dihormati Semua Pihak

Saras

Keponakan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto itu menceritakan, dirinya mendapatkan tugas dari pimpinan fraksi Gerindra untuk membacakan doa di forum lembaga tersebut. Rahayu mengaku kaget diberi penugasan itu karena dirinya menjadi perempuan pertama non-Muslim yang diberi penugasan membacakan doa.

Namun demikian, sesaat sebelum sidang dimulai, dirinya didatangi oleh ketua dan sekretaris fraksi yang memberikan kabar kalau Ketua MPR Zulkifli Hasan keberatan jika dirinya jadi pembaca doa.

"Saya ajukan jika beliau keberatan karena saya perempuan, silahkan anggota legislatif laki-laki Kristiani yang lain yang bacakan doa yang sudah saya tuliskan. Namun dengan demikian pun, akhir kabar, doa dihapus dari rundown acara," jelasnya.

 Baca juga: Gelar Paripurna Akhir Masa Jabatan, MPR Sahkan Tatib 10 Pimpinan

Yang membuatnya sakit hati, dirinya sudah menuliskan doa tersebut sampai pukul 02.00 WIB dini hari. Tapi akhirnya apa yang dibuatnya tidak terpakai karena Zulhas keberatan.

"Begitu kagetnya dan sakit hatinya saya atas perlakuan ini dan kenyataan di forum lembaga tertinggi negara ini, di mana merupakan tugas kita sebagai benteng pertahanan persatuan bangsa ini, untuk membumikan 4 konsensus dasar negara, justru perwakilan perempuan dan non-Muslim tidak diberikan ruang untuk membacakan doa untuk bangsa dan negara yang kita cintai ini," tutur Rahayu.

Ia bahkan sempat meneteskan air mata karena hal ini. Setelah dirinya menjelaskan duduk perkaranya, ternyata anggota fraksi Gerindra lainnya mendukung sikapnya tersebut. Walhasil mereka walkout dari paripurna MPR.

"Setelah saya jelaskan di medsos grup fraksi, para pimpinan mendukung sikap saya, dan dimulai dari Pak Sufmi Dasco dan Pak Heri Gunawan, lalu saya, kami jalan keluar sebagai sikap kami pada pemikiran pimpinan sidang. Air mata tak kunjung berhenti dengan setiap langkah yang saya ambil berjalan keluar dari sidang penutup masa jabatan saya sebagai Anggota MPR RI," tuturnya.

"Pertanyaan saya kepada Bapak Zulkifli Hasan yang saya hormati, apakah yang bermasalah karena saya perempuan? Atau karena saya non-Muslim? " tanyanya.

Sekadar informasi, agenda sidang akhir masa jabatan MPR periode 2014-2019 yakni mengesahkan tata tertib soal pemilihan pimpinan MPR. Kemudian pembacaan rekomendasi dari MPR periode saat ini kepada MPR periode selanjutnya, khususnya mengenai perlunya Indonesia memiliki model Garis Besar Haluan Negara (GBHN). Agenda selanjutnya ialah menyampaikan kinerja MPR periode 2014-2019.

1
2
Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini