Mayoritas Kebakaran Hutan Terjadi di Lahan Milik Perorangan

Fakhrizal Fakhri , Okezone · Jum'at 27 September 2019 01:17 WIB
https: img.okezone.com content 2019 09 27 337 2109871 mayoritas-kebakaran-hutan-terjadi-di-lahan-milik-perorangan-H2FjNJigeM.jpg Ilustrasi kebakaran hutan

JAKARTA - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terjadi di lahan yang mayoritas milik perorangan. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mencatat seluas 328 ribu hektare terjadi karhutla pada 2019.

Namun, sebesar 300 ribu hektare di antaranya merupakan milik perorangan. Hanya 28 ribu hekatare lahan yang terbakar merupakan milik perusahaan.

"Kalau kita lihat yang terbakar itu dari 328 ribu yang terbakar kayu-kayu ada 28 ribu, yang lainnya seluas 300 ribu tidak ada penuntupan hutannya. Artinya di situ yang terbakar banyak miliki perorangan," ujar Plt Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan KLHK Raffles Brotestes Panjaitan di Gedung BNPB, Jakarta, Kamis (26/9/2019).

Kabut asap akibat kebakaran hutan

Raffles juga menyebutkan bahwa dalam tiga hari belakangan tidak terdeteksi lagi adanya pencemaran asap lintas batas (transboundary haze). Sedangkan dari sisi penegakan hukum, ia mengatakan bahwa terdapat penambahan dua korporasi yang diidentifikasi melakukan pembakaran hutan.

"Kemarin ada lagi dua perusahaan yang terindikasi membakar di Kalbar dan Kalsel. Di antaranya, PT Rafi Kamajaya Abadi," terangnya.

Raffles mengungkapkan, terjadi penurunan hotspot dalam kondisi terakhir ini. Ia mengunkapkan hanya ada 9 titik kebakaran di Riau. "Tapi itu kecil-kecil dan sudah dalam proses penghilangan asap. Kalau api sudah tidak ada," ujarnya.

Baca Juga : Polri Bentuk Tim Pengawas Terkait Penegakan Hukum Karhutla

Sementara di Sumatra Utara, tepatnya di Sibolangit, juga ada hotspot yang belum padam. Saat ini Satgas Karhutla sedang berupaya melakukan pemadaman karena khawatir karhutla semakin meluas.

Kemudian di Jambi ada empat titik api. Jumlah itu, Raffles menegaskan, sudah banyak berkurang dibanding pada 3 hari lalu yang mencapai lebih 13 titik.

"Di Kalbar ada titik api baru, yang dibakar oleh koorporasi yang kita sebutkan tadi. Itu juga dalam penanganan," katanya.

Sementara di Kalimantan Timur, Raffles mengatakan, ada satu titik yang statusnya berada di lahan pribadi. Kemudian di Kalteng, sambung dia, semula ada empat titik tapi kemudian sore ini tinggal dua titik.

"Di Kalsel, terdeteksi ada tiga 3 dengan status berada di lahan masyarakat dan APL," tuturnya.

Ia pun menerangkan, secara umum ada 12 aksi yang dilakukan pemerintah secara terpadu, baik bersama pusat daerah ataupun pengelola kawasan. Di antaranya, penindakan hukum, pemadaman rutin, sosialiasi kepada masyarakat tentang metode-motedu membuka lahan tanpa membakar, juga dukungan penggunaan anggaran.

"Pada 2020 sosialisasi itu akan diusahkan lebih cepat terlaksana. Sedangkan soal dukungan anggaran, Menteri Keuangan telah mengeluarkan Permenkeu 230 yang memberi petunjuk penggunaan dana hingga sebesar 50 persen untuk pengendalian kebakaran hutan dan lahan," tukasnya.

1
2
Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini