nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Melihat Perjuangan Para Perempuan Tangguh Pemadam Karhutla Kalimantan

Rabu 25 September 2019 09:19 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 09 25 337 2109033 melihat-perjuangan-para-perempuan-tangguh-pemadam-karhutla-kalimantan-usvNsWYFYl.jpg Sumarni Laman menjadi salah satu perempuan yang terjun langsung memadamkan karhutla di Kalimantan. (Foto: BBC Indonesia)

SUMARNI Laman dan Sola Gratia Sihaloho adalah dua di antara sekian banyak perempuan relawan yang turun ke tengah bara api kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Pulau Sumatera serta Kalimantan. Dorongan untuk terjun langsung membantu proses pemadaman ini bersifat naluriah bagi Sumarni.

"Selama ratusan tahun kami menjaga hutan kami, hutan Kalimantan," ujar perempuan berusia 23 tahun itu saat rehat di atas lahan gambut yang hangus di perbatasan Kota Palangkaraya dan Kabupaten Pulang Pisau, Rabu 18 September 2019, sebagaimana dikutip dari BBC News Indonesia.

"We are the guardians of the forests (Kami adalah para penjaga hutan)," tambah dia.

Baca juga: BNPB: Lahan Terbakar di NTT Terbesar Capai 108.368 Hektare 

Sumarni Laman padamkan karhutla di Kalimantan Tengah. (Foto: BBC Indonesia)

Sumarni yang asli Suku Dayak memang lahir dan tumbuh di Kalimantan Tengah. Ia tidak pernah membayangkan harus menyemprotkan ribuan liter air ke hektare demi hektare lahan yang membara di "rumahnya" sendiri, demi bisa bernapas lega.

"Banyak banget terjadi kebakaran. Jadi untuk membantu memadamkan api, kami juga turun langsung," imbuh Sumarni.

Seperti Sumarni, Sola Gratia Sihaloho (22) juga tidak habis pikir dengan kebakaran hutan dan lahan yang terus-menerus terjadi.

Tak lekang dari ingatannya aroma asap dan kabut abu pekat yang menyelimuti kampung halamannya di Ketapang, Kalimantan Barat, sejak bertahun-tahun lalu.

"Setiap tahun tuh pasti ada (kabut asap)," ujar Sola.

Baca juga: Wiranto: Kita Bersyukur Hujan Buatan Berhasil, Titik Api Tinggal 1.129 

Sola Gratia Sihaloho padamkan karhutla di Kalimantan Tengah. (Foto: BBC Indonesia)

Tanda tanya tersebut tumbuh semakin besar setelah ia menyaksikan sendiri dua rekan kerjanya menjadi korban asap kebakaran hutan dan lahan.

"Teman dan atasan (saya) pernah sakit, sampai ada yang meninggal," imbuhnya.

Jangan Sampai Kena Keluarga

Sola melintasi lahan gambut gosong dan berlumpur bersama beberapa relawan Greenpeace. Kamis 19 September 2019 pagi itu, timnya mendatangi titik api di kawasan Jembatan Tumbang Nusa, Kabupaten Pulang Pisau.

Dengan mengenakan pakaian pemadam kebakaran lengkap, Sola melingkarkan gulungan selang air di pundak sambil mengangkat kakinya tinggi-tinggi setiap kali melangkah, menerka mana gambut yang kopong, mana yang cukup padat untuk diinjak.

Sola masuk semakin dalam ke tengah semak belukar di atas gambut yang kering dan menghitam, ke kawasan dengan asap yang masih membumbung tinggi.

"Kita diajarin gimana sih tipe-tipe tipikal gambut, terus gimana cara kita menanggulanginya," tutur Sola, "Kita kan enggak bisa sembarang siram."

Baca juga: Langit Merah di Jambi Akibat Kebakaran Hutan Jadi Berita Media Internasional 

Sumarni Laman padamkan karhutla di Kalimantan Tengah. (Foto: BBC Indonesia)

Di sana-sini, para petugas dari satuan maupun kelompok lain tengah memadamkan api. Kobarannya memang kerap tidak tampak, karena api biasanya membara di bawah permukaan gambut yang kedalamannya sulit ditebak.

Sebelumnya, Sola dan relawan lain dari lembaga swadaya masyarakat yang berpusat di Belanda itu sudah diberi pelatihan khusus untuk bisa bergabung dengan Tim Cegah Api Karhutla.

"Kita dilatih sama teman-teman dari Rusia, pelatih dari Rusia. Kita diajarin bagaimana teknik (pemadamannya)," ungkap dia.

Setelah tiba persis beberapa meter dari asap yang mengepul tebal, Sola dan teman-temannya, dibantu sejumlah tentara, mulai memasang dan menyalakan mesin pompa air untuk menyedot air tanah dari sumur galian terdekat.

"Tarik selangnya. Tarik," teriak salah satu tentara yang suaranya berkejaran dengan bising mesin pompa.

Baca juga: BNPB: Karhutla 99% Disebabkan Ulah Manusia, 80% Lahan Terbakar Jadi Kebun 

Sola Gratia Sihaloho padamkan karhutla di Kalimantan Tengah. (Foto: BBC Indonesia)

Sola mengambil posisi terdepan. Ia memegang nozzle alias mulut pipa dan mengarahkannya ke area yang ditarget.

"Kita pakai nozzle yang satu arah, alasannya karena efektif di lahan gambut," tuturnya sambil sesekali membenamkan ujung nozzle ke dalam gambut, membiarkan air menerobos sela-sela akar yang saling melilit.

"Kita melakukan pembuburan, di mana pembuburan itu dilakukan untuk mengambil bara yang di bawah. Jadi, kita mematikan bara yang di bawah."

Ini adalah tahun ketiga Sola menjadi relawan Tim Cegah Api. Sebelumnya pada 2017, ia terjun di kampung halamannya, Ketapang, Kalimantan Barat. Tahun 2018, Sola terbang ke Pontianak untuk membantu pemadaman.

Bagi Sola, karhutla 2015 merupakan titik baliknya. Ketika itu ia menyaksikan teman dan atasannya menderita infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) yang begitu parah akibat menghirup kabut asap.

"Temanku ini pada saat kita mau masuk kerja, dia batuk. Tiba-tiba muntah darah," kata Sola mengingat-ingat peristiwa itu.

"Kita bawa ke rumah sakit. Kata dokter itu ISPA akut. Sejak itu, ia diliburkan sama perusahaan."

Baca juga: Fahri Hamzah: Pemerintah Tak Punya Strategi Tangani Karhutla 

Sola Gratia Sihaloho padamkan karhutla di Kalimantan Tengah. (Foto: BBC Indonesia)

Kejadian lebih nahas menimpa atasannya.

"Dia batuk-batuk sudah mulai parah. Akhirnya kata dokter, 'Ya sudah, coba balik (pulang) lewat kapal.' Jadi Beliau balik lewat kapal, pergi ke Pontianak. Baru dari Pontianak, Beliau ke Balikpapan," kisahnya.

Sebenarnya sang bos ingin mengungsi dari Ketapang, namun berbagai jadwal penerbangan justru dibatalkan. Alhasil, ia terperangkap semakin lama di lingkungan berkabut asap tebal.

Seiring waktu, ISPA yang diderita semakin parah, hingga akhirnya si bos mengembuskan napas terakhir.

"Akhirnya masih berlanjut ISPA-nya itu. Itulah yang merenggut nyawanya," tutur Sola.

Menjadi saksi dua peristiwa tersebut membuat Sola semakin geram dengan nasib nahas yang harus dihadapi ia dan jutaan warga lain yang terdampak.

"Kok bisa ini kejadian? Kenapa? Siapa dalang dari semua ini?" tanyanya kesal.

Baca juga: Jambi Akhirnya Diguyur Hujan Setelah Dikepung Kabut Asap 

Sola Gratia Sihaloho padamkan karhutla di Kalimantan Tengah. (Foto: BBC Indonesia)

Sola bertekad menghentikan kebakaran hutan dan lahan dengan tangannya sendiri. Menjadi relawan Tim Cegah Api adalah hal yang bisa ia lakukan saat ini.

"Bos sama temanku sudah (cukup menjadi korban). Jangan sampai itu terjadi sama keluargaku," ujarnya.

"Mungkin bukan saat ini kita lihat (dampaknya). Mungkin bukan saat ini kita hirup langsung kita mati, tapi nanti 15 tahun, 20 tahun (lagi)."

Kami yang Menjaga Hutan

Sumarni Laman menceritakan kisah masa kecilnya yang kerap terjaga memantau jilatan api di sekitar rumahnya di Palangkaraya, Kalimantan Tengah.

"Rumah saya itu dulu di sampingnya kayak hutan. Itu dari saya kecil, dari SD, sering kebakar, hampir kena rumah," tuturnya.

"Kami harus jaga siang-malam untuk menjaga apinya biar tidak kena ke rumah."

Sumarni kecil sudah ikut andil dalam upaya mempertahankan tempat tinggal mereka dulu. Ember demi ember diisi air dan disusun di sekitar rumah, "Biar ketika apinya dekat itu langsung siram."

Baca juga: Polda Sumsel Tetapkan Puluhan Tersangka Karhutla  

 Kegiatan tersebut bisa dilakukan selama satu minggu penuh, setiap hari.

Oleh karena itu, Sumarni sudah "akrab" dengan kabut asap. Dalam ingatannya, sejak 2002, dampak asap kebakaran hutan dan lahan, dalam siklus 4–5 tahunan yang dipengaruhi iklim El Nino, terus-menerus dirasakan.

Sumarni Laman padamkan karhutla di Kalimantan Tengah. (Foto: BBC Indonesia)

Sumarni tidak menyangka bahwa di sisi lain, kegiatan slash and burn alias memangkas dan membakar lahan, sudah menjadi bagian dari budaya turun-temurun warga Dayak yang bermata pencarian sebagai petani ladang. Orang tua Sumarni pun dulunya bekerja di ladang.

"Orang Dayak itu mengenal namanya dua hutan, hutan primer dan sekunder," ujarnya.

Menurut dia, hutan primer adalah lokasi yang tidak boleh disentuh. Kalaupun ada sesuatu yang perlu dilakukan atau diambil di dalamnya, ada syarat yang harus dipenuhi.

"Ketika kamu masuk hutan, kamu harus melakukan upacara adat."

Baca juga: PKB: Daripada Saling Menyalahkan, Ayo Bersama Atasi Kebakaran Hutan 

Sementara hutan sekunder adalah tempat yang dekat permukiman dan boleh ditanami warga. Di hutan sekunder ini lah, menurut Sumarni, warga biasanya melakukan tradisi pembakaran lahan gambut untuk menurunkan kadar asam yang dikandung.

Sumarni menuturkan, sebelum dibakar, biasanya warga akan membuat kanal air di sekeliling lahan dan memangkas tanaman yang tumbuh di atasnya.

"Kemudian, satu desa itu akan menjaga api itu agar tidak merembet ke tempat lain, dan biasanya dulu itu api akan padam dalam satu hari dan asapnya tidak banyak," ungkapnya.

Akan tetapi, pembakaran lahan selama dua dekade terakhir berbeda dengan yang ia ketahui selama ini.

"Sekarang kan orang datang ke Kalimantan, kemudian mereka meniru ini. Ada banyak perusahaan besar yang (ingin) membuka lahan dengan cara mudah, bakar saja," ucapnya.

Hingga Senin 23 September 2019, polisi sudah menetapkan sembilan perusahaan sebagai tersangka kebakaran hutan dan lahan.

Sementara hampir 300 individu juga ditetapkan sebagai tersangka, 79 di antaranya berasal dari Kalimantan Tengah.

Baca juga: Penderita ISPA Akibat Karhutla Sebanyak 919.516 Orang 

Sumarni menganggap masyarakat adat Dayak "dikorbankan" dalam kasus karhutla.

"Sebagai masyarakat adat, sebagai pemuda adat, kami merasa kenapa kami yang dikambinghitamkan? Padahal, kami yang berjuang keras untuk menjaga hutan-hutan kami, melindungi apa yang tersisa," tuturnya.

Baca juga: BNPB Catat 328.724 Hektare Lahan Terbakar 

Amarah itu belakangan ia salurkan dengan terlibat dalam kegiatan sosial kelompok Youth Act Kalimantan. Sumarni kini menjadi koordinatornya. Dia ingin memberikan sumbangsih nyata untuk melindungi hutan dan komunitasnya.

"Kita mau bersuara dan kami juga melakukan sesuatu. Kita bukan hanya komplain, tapi kami melakukan aksi nyata di lapangan, dan kami ingin melindungi rumah kami, Kalimantan," bebernya.

Kekuatan Perempuan

Delapan jam sehari Sumarni ikut memadamkan api ke lokasi karhutla di Palangkaraya. Ia akan memulai hari dengan mengikuti pengarahan di Kantor Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kota Palangkaraya, sebelum akhirnya meluncur ke lokasi bersama tim relawan dan Taruna Siaga Bencana.

Masker khusus, kacamata, dan sepatu bot setidaknya harus dikenakan setiap bersentuhan dengan titik api.

"Waktu hari pertama padamin api, itu apinya besar sekali dan enggak pakai safety (perlengkapan keamanan)," tutur Sumarni.

"Hari selanjutnya saya sakit seminggu, karena ternyata tidak semudah yang kita kira. Memadamkan api itu asapnya bikin mata sakit, terus asapnya bikin kita susah bernapas, sakit, segala macam."

Baca juga: Diduga Terdampak Kabut Asap, Penderita Asma di Jambi Meninggal Dunia 

Tapi semua itu ia perlu lakukan untuk menghentikan api dan menghapus asap dari udara di sekitarnya.

"Rumahmu itu terbakar, jadi ayo bertindak, lakukan sesuatu. Even if you are small, walaupun kamu seorang perempuan, datang ke lapangan."

"Ya kelihatan susah, ini benar-benar susah, tapi ayo lakukan sesuatu," ajak lulusan Pendidikan Kimia Universitas Palangkaraya itu.

Pesan tersebut juga disuarakan Sola Gratia Sihaloho. Mahasiswi jurusan sistem informatika Akademi Manajemen Komputer dan Informatika (AMKI) Ketapang ini mengharapkan semua orang, terutama perempuan, bisa ikut andil menyelamatkan hutan dan melindungi kesehatan warga.

"Ada kepuasan sendiri. Aku sebagai perempuan, aku bisa melakukan yang banyak orang pikir, 'Kamu perempuan, mana bisa perempuan bawa selang, mana bisa perempuan bawa mesin'."

"Aku puas sama diriku sendiri. Kita perempuan, kita bisa melakukan apa pun," ungkapnya.

Baca juga: Mendagri Minta Kepala Daerah Tidak Ragu Cabut Izin Perusahaan Pembakar Lahan 

Sola juga meminta semua orang untuk benar-benar memahami arti hutan bagi manusia. Ia menuntut siapa pun tidak bersikap egois.

"Bukan cuma saat ini kita butuh hutan. Dua tahun, lima tahun, sepuluh tahun, bahkan nanti ratusan tahun (lagi) kita butuh hutan. Bukan untuk kita, bukan cuma kita yang menikmati."

"Bukan saat generasi kita selesai, semua orang akan mati. Enggak. Tapi masih ada anak-cucu kita yang akan mewarisi bumi," pungkasnya.

1
6

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini