3 Jurnalis Jadi Korban Kekerasan Diduga Aparat saat Liput Demo di Makassar

Herman Amiruddin, Okezone · Selasa 24 September 2019 21:14 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 09 24 337 2108887 3-jurnalis-jadi-korban-kekerasan-aparat-saat-liput-demo-di-makassar-2UAMJ3nVLG.jpg Seorang Jurnalis Tampak Terluka Diduga Jadi Korban Pemukulan Oknum Polisi saat Mengamankan Aksi Demo di Makassat, Sumsel, Selasa (24/9/2019). (foto: Ist)

MAKASSAR - Tiga orang jurnalis di Makassar menjadi korban pemukulan yang diduga dilakukan oknum polisi saat meliput demo yang dilakukan oleh ribuan mahasiswa di gedung DPRD Sulsel dan Flyover Makassar, Selasa (24/9/19).

Salah satunya junalis tersebut dari Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) ANTARA, Muh Darwin Fatir. Selain Darwin, seorang wartawan dari Makassartoday.com, Ishak juga mengalami hal yang sama.

Begitu juga dengan salah seorang wartawan Inikata.com, juga mengalami hal serupa. Akibatnya, ketiga jurnalis tersebut mengalami luka dan kesakitan.

Baca Juga: Lemparan Batu dan Gas Air Mata Warnai Demo Mahasiswa di Makassar 

Darwin mengatakan diiawal demo berlangsung kondusif, namun setelah peserta aksi merengsek ke pintu masuk gerbang utama DPRD Sulsel, terjadi adu ketegangan karena mahasiswa berusaha merubuhkan gerbang pagar kantor

Entah siapa terpancing emosi duluan, sejumlah polisi langsung menembakkan gas air mata ke arah demonstran, disambung water Canon ke arah pendemo, otomatis massa aksi berhamburan.

Demo Mahasiswa di Makassar Kembali Ricuh (foto: Okezone/Herman A)	 

Lantas inilah dimanfaatkan aparat membubarkan mahasiswa dengan cara represif bahkan ada beberapa oknum melempari mahasiswa dengan batu yang berlarian kearah showroom mobil dan rumah warga berdekatan dengan lokasi bentrokan.

Banyak diantara mahasiswa yang masih bertahan hingga mencoba kabur dengan memanjati pagar tembok rumah warga setempat karena sudah tersudut.

Beberapa oknum polisi itu pun berlarian menangkapi mereka dan terlihat sangat emosional, lalu memukulinya secara brutal bahkan diantara mereka ada yang berdarah-darah.

Padahal mereka belum tentu pelaku kriminal apalagi melakukan aksi anarkis tapi dipukuli kaya pencuri oleh aparat. Entah apa yang ada dipikiran penegak hukum kita saat itu.

Karena merasa iba, kata Darwin dia berusaha untuk mengingatkan para aparat penegak hukum ini untuk tidak memukuli mahasiswa seperti itu.

"Saya berusaha mengingatkan bahwa perlakuan itu diliput media imbasnya bisa berakibat pada kredibilitas kepolisian di mata publik. Karena kejadian itu fakta, maka jurnalis berhak meliputnya sebab di lindungi Undang-undang Pers," kata Darwin melalui keterangannya.

Demo Mahasiswa di Makassar Kembali Ricuh (foto: Okezone/Herman A)	 

Namun beberapa oknum kepolisian ini malah melarang meliput dan mencoba menghalang-halanginya mengambil gambar

"Bahkan ada yang menghardik saya dengan kata-kata menantang, lalu saya dikerumuni mereka lantas dipukuli beramai-ramai seperti mahasiwa tadi," ungkap Darwin.

"Saya beserta kawan teman media lain yang juga meliput berusaha mengatakan bahwa kami dari media, wartawan, tapi tetap disikat, hingga kepala saya kena pentungan, sampai bocor, tangan lebam hingga perut dan dada masih sesak sebab dihadiahi tendangan sepatu laras dari petugas yang masih berbekas dibaju putih yang saya kenakan," kata Darwin.

Beruntung kata Darwin ada Kapolrestabes Makasar memeluknya untuk diselamatkan dari amukan oknum-oknum polisi. Hingga berhasil keluar dari zona merah tempat mereka melampiaskan kemarahannya kepada mahasiswa

"Setelah itu saya dibawa kawan-kawan duduk sejenak lalu dilarikan ke rumah sakit Awal Bros Makassar," katanya.

Baca Juga: Demo Mahasiswa di Makassar Ricuh, Mobil Polisi Rusak Kena Lemparan Batu

Ternyata setibanya disana ada puluhan mahasiswa terkapar, sampai pihak rumah sakit pun terpaksa menjasikan ruang pelayanan sebagai unit gawat darurat, karena ruang IGD sudah penuh.

"Sampai saat ini kepala saya masih sakit, dan semua badan terasa lemah usai dirawat di Rumah,"

Darwin mengaku memaksakan menulis ini untuk meluruskan dan menyampaikan duduk persoalan sebenarnya, apakah perlakuan aparat harus sebrutal itu, apakah selama mereka dididik diajarkan bisa memukuli sodaranya sendiri.

Tidakkah penanganan mahasiswa bisa lebih baik dari pada harus refresif mengingat ini adalah agenda nasional yang menggerakkan hampir seluruh mahasiswa di Indonesia.

 

Mereka tidak bayar untuk aksi, tapi mereka mengetahui mana yang benar dan mana yang salah. Gerakan mahasiswa hari ini murni bukan bayar-bayaran yang biasanya diduga dilakukan oknum yang tidak bertanggungjawab untuk kepentingan kelompok dan golongannya.

"Dengan kejadian ini publik akan tergugah bahwa inilah fakta sebenarnya terjadi. Saya mohon maaf kalau ada salah kata, tapi ini adalah realita," ucap dia.

Hingga berita ini ditayangkan, belum ada konfirmasi resmi dari pihak kepolisian terkait adanya 3 jurnalis yang menjadi korban kekerasan aparat saat meliput aksi demo di Makassar.

1
2
Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini