nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Romahurmuziy Tuding OTT KPK Bermuatan Politis

Arie Dwi Satrio, Jurnalis · Senin 23 September 2019 14:31 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 09 23 337 2108200 romahurmuziy-tuding-ott-kpk-bermuatan-politis-9JKJaHl4fU.jpg Romahurmuziy saat ditangkap KPK (dok. Okezone)

JAKARTA - Terdakwa perkara dugaan suap jual-beli jabatan di lingkungan Kementerian Agama (Kemenag), M Romahurmuziy menuding Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) berpolitik dalam melakukan Operasi Tangkap Tangan (OTT) terhadap dirinya.

Romi, sapaan karib Romahurmuziy, mempertanyakan‎ KPK soal operasi senyap yang dilakukan dua kali terhadap Ketua Umum (Ketum) Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Terlebih, kata Romi, dua kali OTT terhadap Ketum PPP dilaksanakan bertepatan menjelang Pemilu.

"‎Saya mempertanyakan hal itu, karena dalam dua pemilu berturut-turut, dua Ketum PPP," kata Romi saat menghadiri sidang lanjutannya dengan agenda pembacaan eksepsi di Pengadilan Tipikor, Jakarta Pusat, Senin (23/9/2019).

Romahurmuziy

Tak hanya itu, Romi menduga penangkapan terhadap dirinya sudah direncanakan KPK. Sebab, KPK sudah memantaunya dalam kurun waktu satu bulan sebelum digelarnya Pemilu 2019.

"Kedua, dilakukan hanya satu bulan sebelum pemilu. Semua orang pasti akan dengan sangat mudah menilai, ada apa satu bulan sebelum operasi politik besar hanya untuk angka Rp50 juta," ucapnya.

Sebelumnya, Rommy didakwa menerima suap sebesar Rp325 juta dan Rp91,4 juta dari Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Kementerian Agama (Kemenag) Jawa Timur, Haris Hasanuddin dan Kakanwil Kemenag Kabupaten Gresik Muafaq Wirahadi. Perbuatan rasuah Rommy dilakukan bersama-sama dengan Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin.

Dalam dakwaan disebutkan, suap diterima Rommy dalam kurun waktu Januari hingga Maret 2019. Perbuatan itu bertentangan dengan posisinya sebagai anggota DPR periode 2014-2019 atau selaku penyelenggara negara.

Suap sebesar Rp420,4 juta itu dinilai untuk memuluskan Haris dan Muafaq sebagai Kakanwil Kemenag Jatim dan Kakanwil Kemenag Kabupaten Gresik.

Atas perbuatannya, Rommy didakwa melanggar Pasal 12 huruf b atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dalam UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 64 Ayat (1) KUHP.

Sekadar informasi, dalam perkara yang sama, Majelis Hakim Tipikor Jakarta telah memutus bersalah dua pihak lainnya, yakni mantan Kakanwil Kemenag Jatim Haris Hasanudin dan mantan Kakanwil Kemenag Kabupaten Gresik Muafaq Wirahadi.

Sebagai penyuap Rommy, Muafaq dan Haris sudah divonis terlebih dahulu. Muafaq dijatuhi vonis pidana 1,6 tahun penjara dan denda Rp100 juta subsider 3 bulan kurungan. Sementara Haris di jatuhi hukuman 2 tahun penjara dan denda sebesar Rp150 juta subsider 3 bulan kurungan.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini