nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Mengenang Masa Jaya Kota Tua di Padang

Rus Akbar, Jurnalis · Sabtu 21 September 2019 18:31 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 09 21 337 2107666 mengenang-masa-jaya-kota-tua-di-padang-N1qZCVtaaX.jpg Pelabuhan Muaro Padang yang menjadi salah satu lokasi kota tua. (Foto: Rus Akbar/Okezone)

PADANG – Kipasan jagung bakar Lina (35) di atas Jembatan Siti Nurbaya merebak hingga menusuk hidung dan mengundang rasa ingin mencicipinya. Lina merupakan satu di antara puluhan warga Kampung Batu, Kelurahan Batang Arau, Kecamatan Padang Selatan, Kota Padang, Sumatera Barat, yang menjual pisang bakar, jagung bakar, dan beberapa minuman lainnya di Jembatan Siti Nurbaya yang menghubungkan Kampung Batu dengan Berok Nipah.

Biasanya pada malam hari, Jembatan Siti Nurbaya dijadikan tempat rekreasi. Lokasi ini strategis dengan bangunan-bangunan tua yang bersejarah menghiasi dari Muara Padang sampai kawasan Pondok. Sebagian memang kurang terawat, namun masih ada juga yang masih bagus keadaannya.

Lokasi tersebut merupakan Pelabuhan Muaro Padang yang dialiri Batang Arau, dan menjadi pusat perdagangan zaman penjajah, mulai masa Portugis sampai kepemimpinan Belanda. Pelabuhan yang dijadikan pusat ekspor rempah-rempah ke negeri Eropa, kini menjadi sebuah museum terbuka yang dikenal dengan Padang Kota Lama. Banyak bangunan tua sisa-sisa peninggalan zaman Belanda di sini.

Pelabuhan Muaro Padang secara geografis terlindungi dengan ombak yang ganas dari Samudera India. Pada 1340 (abad 14), desa nelayan yang disebut Kampung Batu dan masuk wilayah Nagari ini dipimpin delapan pangulu. Sebuah sungai yang dalam dan bisa dimasuki kapal besar akhirnya menjadi sebuah pelabuhan yang sering disinggahi pedagang dari Inggris, Prancis, dan China. Kapal-kapal yang datang dari negeri luar dengan memakai kapal layar.

Baca juga: Kota Lama Semarang Sebentar Lagi Bebas Kendaraan Usai Direvitalisasi 

Lipsus kota tua. (Foto: Okezone)

Kapal-kapal yang singgah tersebut membawa barang-barang kain dari luar, sementara kapal barang dari dunia luar itu mengangkut barang rempah-rempah berupa kopi, cengkih, dan lada serta bahan-bahan lainnya yang dibutuhkan negera Eropa. Selain itu, pelabuhan tersebut dijadikan sebagai transit dari Eropa ke Jawa. Ada dua sampai lima kapal layar yang bertonggak tinggi berlabuh di Muaro Padang.

Pelabuhan Muaro Padang yang berjarak 5 kilometer dari pusat Kota Padang semakin terkenal pada 1511 ketika bangsa Portugis memblokade menguasai Kerajaan Malaka. Semua jalur di Selat Malaka diblokade oleh bangsa Potugis. Akibatnya, seluruh jalur laut yang menuju ke Pulau Jawa susah dilewati dengan jalur pintas.

Kapal dagang dari negara-negara Asia dan sebagian Eropa terpaksa memutar haluan dan menjadikan kawasan Pantai Barat Sumatera sebagai penghubung ke Laut Jawa melalui Perairan Sunda.

Keinginan Belanda untuk menguasai perdagangan di Sumatera bagian barat ini sangat tinggi terbukti melauhi VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) pada 1633. VOC berhasil mengadu-domba masyarakat Minangkabau dan Aceh sehingga tercipta Perjanjian Painan sekaligus mengakhiri kekuasaan Aceh di Minang.

Baca juga: Gereja Gedangan Saksi Bisu Pertempuran 5 Hari di Semarang 

Lipsus kota tua. (Foto: Okezone)

Sebelum VOC masuk di Padang, jalur perdagangan dikuasai pedagang Aceh. Salah satu poin penting perjanjian Painan adalah tidak mengakui Kerajaan Aceh, dan sebaliknya mengakui Raja Minangkabau sebagai penguasa tertinggi, kemudian mengakui VOC sebagai pelindung serta hanya berdagang dengan mereka.

Lalu pada abad 17 (1667), VOC lebih mematangkan kedudukannya di Kota Padang dengan melakukan pembangunan pelabuhan sebagai pusat perdangan di bagian Sumatera. Pembangunan pelabuhan ini merupakan titik awal pertumbuhan Kota Padang.

Padang tidak hanya berfungsi sebagai kota pelabuhan, tapi juga perdagangan. Banyak pendatang yang menetap di sini. Pelabuhan tersebut terkenal dengan nama Pelabuhan Muaro hingga sekarang.

Menindaklanjuti perjanjian itu, pada 1667, VOC menjadikan Padang sebagai pusat perwakilan untuk wilayah pesisir barat Sumatera yang ditandai pembangunan benteng pertahanan atau loji.

Pembangunan loji ini atas izin penghulu terkemuka, Orang Kayo Kaciak. Loji berbentuk empat segi dengan setiap sisi sepanjang 100 meter dan tinggi 6 meter di sekitar Muaro yang berisi meriam.

Kota tua Padang, Pasar Mudik. (Foto: Rus Akbar/Okezone)

Ketika VOC bertengger di Kota Padang saat itu timbul perlawanan dari masyarakat karena mereka menilai semua harga dari hasil produksi pertanian mereka dibayar dengan murah, akhirnya mereka melakukan perlawanan di pinggir-pinggir kota seperti Pauh dan Koto Tangah.

Pada 7 Agustus 1669, terjadi pergolakan oleh masyarakat yang berpusat di Pauh dan Koto Tangah melawan VOC. Mereka berhasil menguasai Loji-Loji (benteng-benteng) VOC yang terletak di Muaro, Padang. Kemenangan masyarakat menguasai loji-loji VOC tersebut, diabadikan sebagai tahun lahir Kota Padang.

Baca juga: Menapaki Little Netherland, Kota Tua di Semarang 

Kota tua Padang, Gedung De Javasche Bank, sekarang Museum BI. (Foto: Rus Akbar/Okezone)

Menghadapi kenyataan ini, pada 31 Desember 1799, seluruh kekuasaan VOC diambil alih pemerintah Belanda. Belanda membentuk pemerintahan kolonial Hindia Belanda dan Kota Padang dijadikan sebagai pusatnya. Wilayah Kota Padang dan sekitarnya diberi status Karesidenan atau Kewedanan yang dikepalai oleh seorang Regent atau Demang.

Guna memperkukuh kekuasaannya, maka ditempatkan tokoh dan penghulu di kota itu sebagai bagian pejabat pemerintah kolonial. Mereka diberi atribut, kedudukan dan status sosial tertentu, serta dihormati sebagai aristokrat.

Mereka mendapat hak-hak keistimewaan bergelar ningrat, menguasai lahan-lahan yang kosong untuk dijadikan sumber penghasilan, memperoleh pendidikan yang baik yang difasilitasi oleh pemerintah kolonial tersebut.

Setelah berakhirnya masa VOC yang ditutup karena rugi, pada 20 Mei 1784, Belanda secara resmi mengambil alih Padang dan menjadikannya pusat kedudukan dan pusat perniagaan di wilayah Sumatera. Belanda membangun gudang-gudang untuk menumpuk barang sebelum dikapalkan melalui pelabuhan Muaro Padang yang berada di muara Batang (Sungai) Arau.

Baca juga: Riwayat Kota Tua Solo yang Terpencar di Beberapa Lokasi 

Kota tua Padang, Gedung Nederlandsch Indische Escompto Maatschappij. (Foto: Rus Akbar/Okezone)

Kawasan inilah yang merupakan kawasan awal Kota Tua Padang. Batang Arau yang berhulu sekira 25 km ke Pegunungan Bukit Barisan merupakan salah satu dari lima sungai di Padang. Sungai ini sangat penting karena posisinya sangat strategis dibanding Batang Kuranji, Batang Tarung, Batang Tandis, dan Batang Lagan.

Status sebagai pusat perniagaan kemudian memacu pertumbuhan fisik kota dan semakin berkembang usai terbangunnya Pelabuhan Emma Haven yang sekarang disebut sebagai Teluk Bayur pada abad 19. Kota ini lebih melesat lagi setelah ditemukannya tambang batu bara di Ombilin, Sawah Lunto/Sijunjung, oleh peneliti Belanda, De Greve, namun sentra perdagangan tetap di Muaro.

Sisa-Sisa Bangunan Kolonial Belanda

Jika kita mulai dari Muara Padang akan bertemu Kantor Detasemen TNI AD. Gedung ini merupakan peninggalan zaman kolonial Hindia Belanda yang dulunya digunakan sebagai kantor, rumah tinggal, dan gudang.

Terdiri dari 3 bangunan. Dua bangunan terletak persis di tepi jalan dan satunya berada di belakang gedung. Gedung ini beralamat di Jalan Batang Arau Nomor 76, Kelurahan Berok Nipah, Kecamatan Padang Barat, Kota Padang.

Kemungkinan bangunan ini dibuat sekira akhir abad 19. Kini gedung tersebut berada di Kompleks Detasemen Pembekalan dan Angkatan 1-44-05 TNI AD. Namun, gedung mengalami kerusakan parah akibat gempa 30 September 2009. Padahal, Gedung Kantor Detasemen TNI AD merupakan cagar budaya Kota Padang dengan nomor inventaris 29/BCB-TB/A/01/2007.

Arsitektur bangunan ini terlihat jelas bergaya kolonial dengan jendela dan pintu yang tinggi. Terdapat kaca bermotif di bagian depan bangunan. Kemudian mengadopsi gaya bangunan lokal terlihat dari atapnya.

Baca juga: Melirik Siola, Gedung Warisan Pemodal asal Inggris yang Masih Kukuh 

Bersebelahan dengan Kantor Detasemen TNI AD, terdapat satu bangunan yang merupakan salah satu gedung yang memiliki arsitektur kolonial bergaya art deco. Terlihat jelas dari bentuk pintu, jendela, dan dinding depannya.

Gedung ini sudah ditetapakan sebagai cagar budaya Kota Padang dengan nomor inventaris 40/BCB-TB/A/01/2007. Sepertinya dulu digunakan sebagai kantor dan gudang saat pemerintahan Hindia Belanda.

Sekira 1950, bangunan ini dimiliki oleh PT Surya Sakti kemudian dibeli oleh Dr TD Pardede. Sekarang digunakan menjadi gereja.

Kemudian gedung tua yang saat ini menjadi kafe. Gedung dibangun pada 1933, seperti tulisan inskripsi, De Eeerste Steen Geleid op 14 Augustus 1933 door Tilly Hazevoet.

Baca juga: Kisah Jalan Braga, Kawasan Kota Tua di Bandung 

Kota tua Padang, Gedung Dr TD Pardede. (Foto: Rus Akbar/Okezone)

De Javansche Bank sekarang museum Gedung Bank Indonesia Padang yang didirikan pada 1830. Gedung bergaya arsitektur modern (tropis) Indonesia yang berkembang sekira 1930–1940 ini menonjol dengan bagian puncak atapnya yang menyerupai atap masjid.

Kemudian Gedung NHM (Nederlansche Handels-Maatschappij). Gedung ini didirikan sebelum 1920 berarsitektur unik dan tak ada duanya di Kota Padang, bergaya arsitektur neo-klasik dari sekitar abad 20, gedung dengan tinggi 24 meter dan berdinding permanen ini atapnya berbentuk gambrel dengan dua cerobong pada puncak atap sebagai tempat sirkulasi udara.

NHM adalah kantor dagang swasta di mana dulunya juga berkantor beberapa perusahaan swasta, asuransi, dan perbankan. Kini bangunan ini hanya dijadikan gudang oleh PT Panca Niaga.

Gedung Nederlandsch Indische Escompto Maatschappij atau disingkat NIEM adalah salah satu bank yang beroperasi pada zaman penjajahan Kolonial Hindia Belanda. NIEM ini didirikan pada 1857–1958 di Batavia. Pada 1949, berubah nama menjadi Escomptobank NV.

Escomptobank NV menjadi bank terbesar kedua setelah Java Bank (1857) di Batavia. Bank Escompto diambil alih oleh Pemerintah RI. Pada 1960, nama bank ini diganti menjadi Bank Dagang Negara (BDN) yang kemudian melebur bersama Bank Eksim (Nederlandsche Handel Maatschaplj) dan Bank Bumi Daya (Nederlandse Handels Bank) menjadi Bank Mandiri KCP Padang Muaro hingga sekarang.

Padangsche Spaarbank didirikan pada 1908, gedung berlantai dua dengan tinggi 35 meter yang berdiri membelakangi sungai ini bergaya neoklasik yang mendapat pengaruh dari arsitektur art deco. Gedung dengan gaya mahkota di bagian depan atas dengan tulisan 1908 ini Padangsche Spaarbank kini menjadi Hotel Batang Arau.

Lebih masuk ke kawasan yang menuju pusat kota akan ditemukan tiga kawasan pasar yang didirikan pada akhir abad 19 bangunan aslinya masih dapat dilihat meski bentunya kusam kurang terawat ketiga tersebut adalah Pasar Gadang, Pasar Mudik, dan Pasar Tanah Kongsi.

Bangunan-bangunan di ketiga pasar ini diperkirakan jauh lebih tua dibanding bangunan di Jalan Batang Arau. Pasar Gadang, Pasar Mudik, dan Pasar Tanah Kongsi diperkirakan sudah mulai berkembang sejak 1667 hingga 1900-an. Bahkan, Pasar Gadang sampai pertengahan abad 19 menjadi urat nadi perekonomian kota.

Baca juga: Melongok Kalisosok, Penjara dengan Tempat Penyiksaan di Ruang Bawah Tanah 

Kota tua Padang, Gedung Bouwk Bureau Sitsen en Lauzada, sekarang kafe. (Foto: Rus Akbar/Okezone)

Pasar Gadang terdiri dari deretan ruko dua tingkat yang berfungsi selain sebagai toko juga untuk rumah tinggal. Bangunan yang menonjol di sini adalah ruko yang sekarang berfungsi sebagai agen penyalur Semen Padang dan sebuah rumah bulat yang hampir terletak di tengah jalan. Rumah bulat dulunya adalah warung dan sekarang sudah diperbaiki dan juga difungsikan sebagai warung.

Bangunan di Pasar Gadang dipengaruhi arsitektur kolonial Belanda bercampur arsitektur tradisional Cina dan ukiran pada ornamen dinding, dan atap pada beberapa bangunan pengaruh arsitektur Minangkabau dan Melayu.

Bangunan lain yang menarik adalah sebuah ruko yang terletak di Jalan Pasar Malintang, hanya 60 meter dari Pasar Gadang. Bangunan yang sekarang menjadi rumah tinggal itu dulunya adalah toko batik yang dibangun sekira 1902.

Di kawasan Pasar Gadang juga ada sebuah Hotel Nagara dibangun sekira 1910 kini dijadikan sebuah gudang. Pasar Tanah Kongsi didirikan warga keturunan Tionghoa, karena itu arsitektur umumnya gaya colonial Belanda bercampur dengan arsitektur tradisional China. Gedung yang menonjol di sini adalah Kelenteng yang dibangun pada abad 17 dan Gedung HBT (Himpunan Bersatu Teguh).

Baca juga: Lebih Dekat dengan Palembang, Kota Tertua di Indonesia 

Kota tua Padang, Gedung Nederlansche Handels-Maatschappij. (Foto: Rus Akbar/Okezone)

Sementara berdasarkan data Balai Pelesterian Cagar Budaya, Sumatera Barat, ada sekira 79 bangunan kota tua yang bisa dimanfaatkan. Bangunan lama kota tua itu tidak hanya dapat dimanfaatkan sebagai kawasan wisata, tetapi dapat dimanfaatkan untuk kepentingan perekonomian. Seperti, bangunan kota tua dapat dijadikan kafe ataupun penginapan.

1
4

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini