nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Gereja Gedangan Saksi Bisu Pertempuran 5 Hari di Semarang

Taufik Budi, Jurnalis · Sabtu 21 September 2019 13:40 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 09 21 337 2107565 gereja-gedangan-saksi-bisu-pertempuran-5-hari-di-semarang-8nApckGLiS.jpg Gereja Gedangan, Salah Satu Bangunan Tertua di Semarang, Jawa Tengah (foto: iNews/Taufik Budi)

SEMARANG – Kawasan Kota Lama Semarang yang mendapat julukan Little Netherland, tak hanya megah dengan bangunan berarsitektur Eropa. Tempat ini juga lekat dengan sejarah kepahlawanan saat Pertempuaran Lima Hari di Semarang.

Sejarawan Semarang Jongkie Tio, menyebut, kawasan Kota Lama identik dengan Gereja Blenduk dan Jembatan Berok. Namun, menurutnya terdapat fakta sejarah yang mengungkap Gereja Paroki Santo Yosef memiliki peran sangat penting.

Infografis Kota Tua di Indonesia (foto: Okezone)	 

Gereja ini terletak di Jalan Ronggowarsito (Gedangan) sehingga warga kerap menyebutnya sebagai Gereja Gedangan. Di tempat ini pula, Monsinyur Albertus Soegijapranata, kardinal pertama di Indonesia bertempat tinggal.

“Jadi, Kota Lama itu dan Gereja Blenduk selalu diomongkan karena dianggap orang jalan masuknya dari Jembatan Berok di Jalan Pemuda, tapi ini terbalik. Jalan itu justru terletak di jalan belakang. Gereja Gedangan itu kenapa lebih penting (nilai sejarahnya),” ujar Jongkie.

“Alasannya adalah pertama yang dibangun di situ bahan-bahannya itu semua dari negeri Belanda, mulai jubin sampai bata itu dari Belanda. Kedua, adalah itu tempat tinggal dari Monsinyur Albertus Soegijapranata, kardinal Indonesia pertama,” terangnya.

“Ketiga, pada zaman revolusi kemerdekaan, itu pegang peranan sangat penting, karena merupakan tempat pelarian dari pejuang-pejuang Pertempuran Lima Hari di Semarang,” imbuh dia.

Gereja Gedangan Saksi Bisu Pertempuran 5 Hari di Semarang (foto: iNews/Taufik Budi)	 

Kala itu, terjadi pertempuran dahsyat antara pemuda-pemuda Semarang melawan Jepang, saat masa transisi kekuasaan Belanda di Semarang yang pecah pada 15-19 Oktober 1945. Soegijapranata menggunakan Gereja Gedangan sebagai tempat persembunyian pemuda Semarang dari kejaran tentara Jepang.

“Jadi dulu di Penjara Mlaten itu banyak ditawan orang-orang Belanda atau yang berafiliasi dengan Belanda. Penjara itu dikuasai oleh pemuda-pemuda (Semarang), terus ada berita kalau beberapa hari lagi akan dibunuh,” ceritanya.

“Kemudian orang Belanda yang ditahan itu minta tolong ke tentara Sekutu. Tentara Sekutu minta tolong pada Jepang yang ada di Jatingaleh, karena Jepang kan sudah kalah sama Sekutu. Kemudian Sekutu memerintahkan tentara Jepang untuk menolong (membebaskan) orang-orang yang ditahan di Mlaten. Terjadi pertempuran hebat, orang Jepang turun melalui Tanah Putih, terus Peterongan, Jalan Dokter Cipto. Terjadi pertempuran di situ,” jelas dia.

Pertempuran terjadi selama lima hari berturut-turut. Namun, pemuda Semarang kalah hingga harus melarikan diri. Banyak di antaranya para pejuang yang tertangkap dan dibunuh secara keji oleh tentara Jepang.

“Kemudian pemuda-pemuda Indonesia yang tertangkap dieksekusi di Sobokarti.Y ang lain lari ke arah Kota Lama, di situ ditampung oleh Kardinal Soegijapranata di Gedangan, untuk dilarikan keluar dari Semarang,” ungkapnya.

“Jadi peranannya sangat penting. Gereja Gedangan itu sejarahnya sangat-sangat penting daripada Gereja Blenduk,” imbuhnya.

Gereja Gedangan Saksi Bisu Pertempuran 5 Hari di Semarang (foto: iNews/Taufik Budi)	  

Dia juga menyebut, di depan Gereja Gedangan sebelumnya merupakan bangunan rumah sakit milik VOC. Kini bekas bangunan tersebut digunakan untuk Susteran. “Depannya Gereja Gedangan itu ada bangunan lama, dulu Rumah Sakit VOC pertama,” lugas dia.

“Jalan itu (Gedangan) langsung masuk ke Tanjung Mas. Jadi dulu itu namanya Heeren Straat (kini Jl Letjen Soeprapto). Orang Belanda menyebutkan sistem yaitu Jalan Laut. Jadi diperkirakan mereka datang dari arah situ, karena kalau tidak, tidak mungkin VOC bikin rumah sakit di situ,” tegasnya.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, Gereja Gedangan dirancang oleh arsitek Belanda bernama W.I. van Bakel. Gereja yang dibangun pada 1870 hingga 1875 ini untuk memenuhi kebutuhan pertumbuhan penduduk Katolik Semarang di era kolonial.

Kompleks gereja Gedangan terdiri atas gedung gereja, pastoran, dan sebuah biara. Hiasan penting yang masih ada adalah sembilan belas kaca patri jendela, ukiran-ukiran yang menampilkan empat belas salib dan sebuah altar.

Gereja Gedangan Saksi Bisu Pertempuran 5 Hari di Semarang (foto: iNews/Taufik Budi)

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini