nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Riwayat Kota Tua Solo yang Terpencar di Beberapa Lokasi

Bramantyo, Jurnalis · Sabtu 21 September 2019 12:37 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 09 20 337 2107434 riwayat-kota-tua-solo-yang-terpencar-di-beberapa-lokasi-RR1u3h2tel.jpg Keraton Surakarta yang Merupakan Salah Satu Bangunan Tua di Kota Solo, Jawa Tengah (foto: Okezone/Bramantyo)

SOLO - Kota Solo merupakan sebuah kota yang berada tepat di bagian tengah dari Provinsi Jawa Tengah. Secara geografis, kota seluas 46,01 km persegi ini, letaknya dari dahulu sudah sangat strategis.

Kota Solo, di masa kolonial Belanda dikenal dengan anama "Vorstanlande" atau daerah kekusaan raja, berada di jalur penghubung antara dua provinsi, yakni Jawa Timur dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Tak heran, bila Kota Solo, tingkat peradabannya jauh lebih maju dibandingkan kota lainnya.

Infografis Kota Tua di Indonesia (foto: Okezone)	 

Apalagi, di Kota Solo, terdapat dua kerajaan yang hingga kini masih kokoh berdiri, yaitu Keraton Kasunanan dan Pura Mangkunegara. Keberadaan dua kerajaan itulah yang memberikan sentuhan terhadap Kota Tua di kota yang pernah dipimpin Joko Widodo (Jokowi) selama dua periode tersebut.

Eeit, tapi nanti dulu. Kota Tua di Solo, berbeda dengan Kota Tua yang ada di daerah lainnya seperti Jakarta, Semarang, Surabaya, dan Palembang. Bila di daerah lain, siapa pun pasti tahu di mana letak Kota Tua itu berada. Tapi di Solo, orang pasti akan kebingungan mencari di mana letak Kota Tua itu berada.

Bahkan, warga Solo sendiri pun, terutama yang generasi milinial, kebanyakan tak tahu bila Kota Solo juga memiliki Kota Tua seperti halnya kota-kota lainya. Seperti pengakuan Sulis, warga Purwopuran, Jebres, Solo. Saat ditanya di mana Kota Tua di Solo,

Sulis mengaku bila dirinya tak tahu di mana letak keberadaannya. hal yang Sulis tahu hanyalah tiga tempat yaitu Keraton Kasunanan, Pura Mangkunegaran dan Benteng Vastenburg.

"Saya tahunnya itu saja, yang lainnya saya tidak tahu," kata Sulis saat ditanya Okezone menyangkut Kota Tua, belum lama ini.

Kota Tua di Solo Tersebar di Beberapa Titik (foto: Okezone/Bramantyo)	 

Komentar serupa juga dilontarkan Ali yang sehari-hari berprofesi sebagai pedagang angkringan. Dia pun tak tahu di mana letak Kota Tua di Solo itu berada.

"Tidak tahu di mana. Kalau Semarang itukan ada Gereja Bledugnya. Kalau di sini saya cuma tahunnya Keraton sama Benteng saja," tutur Ali.

Apa yang diutarakan kedua warga Solo yang termasuk generasi milinial tentang di mana keberadaan Kota Tua di Solo sangatlah wajar. Salah seorang putri Raja Pakubuwono XII, GKR Wandansari Koes Moertiyah atau Gusti Moeng mengatakan, Kota Tua di Solo itu keberadaannya tidak dalam satu lokasi, seperti Kota Tua di daerah lain. Kota Tua di Solo, letaknya tersebar di beberapa tempat.

"Kota Tua di Solo itu letaknya tersebar di beberapa tempat. Tidak berkumpul menjadi satu," ujar Gusti Moeng saat berbincang dengan Okezone.

GKR Wandansari Koes Moertiyah atau Gusti Moeng Terangkan Kota Tua di Solo Tersebar di Beberapa Titik (foto: Okezone/Bramantyo)	 

Menurut Gusti Moeng, untuk menelusuri cikal bakal Kota Tua di Solo, dimulai dari daerah bagian utara Kota Solo. Pasalnya, daerah di Solo yang paling pas disebut sebagai Kota Tua adalah di bagian utara Kota Solo, atau tepatnya di utara Laweyan.

Daerah tersebut dahulunya bernama Pamanahan dan kini berubah jadi Manahan. Kenapa daerah itu disebut Kota Tuannya Solo. Karena di daerah tersebut, ungkap Gusti Moeng, pernah tinggal putra dari Ki Ageng Enis dan cucu Ki Ageng Sela, yaitu Ki Gede Pamanahan atau Kyai Gede Mataram saat jaman Kerajaan Pajang. Kala itu, Ki Gede Pamanahan diangkat menjadi lurah wiratama oleh bupati Pajang.

Dulunya di daerah ini terdapat sebuah petilasan berupa sendang (kolam mata air) yang konon menjadi tempat Ki Gede Pamanahan biasa membersihkan diri. Namun sayangnya saat ini, keberadaan sendang yang dipakai pendiri desa Mataram di tahun 1556 untuk membersihkan diri itu sulit ditemukan. Padahal, saat itu Pangeran Adipati Mangkunegara VII membangunkan tembok yang mengelilingi tempat tersebut.

"Kemudian daerah yang disebut Kota Tua di Solo itu, ya, Siti Hinggil (salah satu bangunan di areal Keraton Kasunanan) ini juga termasuk Kota Tuanya Solo, selain Keraton. Waktu itu Susuhunan Pakubuwana II membeli tanah seharga selaksa keping emas yang diberikan kepada akuwu (lurah) Desa Sala yang dikenal sebagai Ki Gede Sala," urai Gusti Moeng.

Kota Tua di Solo Tersebar di Beberapa Titik (foto: Okezone/Bramantyo)	 

Dia menambahkan, setelah Susuhunan Pakubuwana II memegang tampuk pemerintahan, Kerajaan Mataram yang sudah dalam keadaan kacau balau setelah mendapat serbuan dari pemberontakan orang-orang Tionghoa yang mendapat dukungan dari orang-orang Jawa anti VOC tahun 1742, dipindahkan ke sebuah Desa bernama Sala.

Di Desa Sala inilah Pakubuwono ke II mendirikan istana baru sebagai ibu kota Mataram yang baru. Gusti Moeng menerangkan, saat itu jarak di sekitar gladag dan gapura dipakai sebagai tempat menyimpan binatang hasil buruan. Di sinilah keraton kerap menggelar upacara-upacara yang melibatkan rakyatnya. Dan akhirnya, daerah di sekitar keraton, selain menjadi tempat tinggal para bangsawan, juga mulai ditempati berbagai etnis, mulai dari Arab hingga Tionghoa.

"Kalau ditanya kenapa sekarang tidak bisa terpusat seperti daerah lainnya ya dikarenakan kultur masyarakat itu sendiri. Ditambah, munculnya pergolakan-pergolakan yang membuat beberapa tempat yang tadinya jadi satu, menjadi terpecah-pecah," tutur dia.

Senada dengan yang diutarakan Gusti Moeng, pengamat Arsitektur dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Dr. Eng Kusumaningdyah mengatakan, Kota Tua di Solo sangat berbeda dengan Jakarta atau pun Semarang.

"Dengan Semarang yang dekat saja misalnya, Kota Tuannya sangat berbeda. Kalau di Semarang, orang sudah pasti tahu di mana itu letak kota tuannya. Tapi kalau di Solo, orang masih bingung di mana kota tuanya berada," kata perempuan yang biasa disapa Ruly kepada Okezone.

Pengamat UNS Dr. Eng Kusumaningdyah Jelaskan Kota Tua di Solo yang Tersebar di Beberapa Titik (foto: Okezone/Bramantyo)	 

Kenapa demikian, Ruly menjelaskan, keberadaan Kota Tua di Solo ini letaknya menyebar. Dan hampir di seluruh wilayah. Menurut Ruly, keberadaan dua kerajaan di Solo, juga memiliki andil besar yang mendorong Kota Tua di Solo, baik dari sisi arsitektur maupun tata letak yang jauh lebih modern dibandingkan dengan daerah lainnya.

"Lihat saja sepanjang jalan Jenderal Sudirman, masih berdiri bangunan-bangunan kuno, seperti kantor BI, Benteng Vastenburg dan Pasar Gede. Di situlah segi tiga emasnya Solo sampai sekarang. Baik untuk perekonomian dan pemerintahan. Dari sisi penataan, segi tiga emas itupun sudah jauh modern dibandingkan daerah lainnya. Dari arsitekturnya, di daerah lain belum tersentuh arsitekut eropa, tapi di Solo, sentuhan arsitektur eropa sudah ada," terang Ruly.

Kota Tua di Solo Tersebar di Beberapa Titik (foto: Okezone/Bramantyo)	 

Bahkan dari penataan zona perekonomiannya, Solo lebih ungguh dari Kota lainnya. Di mana, daerah lainnya belum memikirkan tata letak zona perekonomian dan pemerintahan, namun di Solo, penataan itupun sudah dilakukan. Ini terlihat dari terhubungnya antara Keraton Kasunanan, Pura Mangkunegaran dan Benteng Vastenburg yang kala itu memang didirikan untuk memantau segala pergerakan dari Keraton Kasunanan dan Pura Mangkunegara.

"Kalau di daerah lain, seperti Semarang misalnya, Klauster Kota Tua kebanyakan dekat dengan Pelabuhan. Dan banyak dibangun gedung yang cukup besar untuk menarik masyarakat untuk datang, tapi kalau di Solo tidak. Di Solo, peran sungai Bengawan Solo dan Keraton yang mendominasi tidak terbentuknya Klaster Kota Tua. Karena mayoritas, masyarakat memilih tinggal di dekat sungai atau Kraton," ucap dia.

Kota Tua di Solo Tersebar di Beberapa Titik (foto: Okezone/Bramantyo)

Sementara Sekretaris Dinas Pariwisata Kota Solo Budi Sartono mengatakan, bila berbicara tentang Kota Tua, Solo sendiri sebenarnya adalah Kota Tua. Lahirnya Kota Solo berawal dari perpindahan pemerintahan Keraton Kartosuro ke sebuah desa yang bernama Desa Sala.

"Bila berbicara kota tua, kota solo itu sendiri sebenarnya, ya, kota tua. Kota solo itu lahir dari perpindahan dari daerah Kartosuro ke Desa Sala. Dan Kota ini dari jaman Belanda sudah terkonsep," kata Budi saat ditemui Okezone.

Menurut Budi, konsep arsitektur Kota Tua Solo, tidak hanya bisa dilihat dari bentuk bangunannya saja. Tapi bisa dilihat dari arsitekturnya. Di mana, tepat dibawah jalan protokol utama Solo, jalan Slamet Riyadi terdapat saluran irigrasi yang dibangun sejak jaman kolonial Belanda,"terangnya.

"Sekarang tinggal bagaimana kita merawat kota Solo yang penuh dengan bangunan Heritage ini agar tidak terbengkalai,"ujarnya.

Kota Tua di Solo Tersebar di Beberapa Titik (foto: Okezone/Bramantyo)	 

Budi menambahkan, Kota Tua di Solo, merupakan Kota Tua yang paling komplit. Tak hanya diera Kerajaan, diera saat ini pun masih bertahan. Dimana, bila masyarakat ingin pergi ke sentral batik, tinggal datang ke Kota Tuanya Batik di Solo, yaitu daerah Laweyan.

Upaya Pemerintah Kota Solo untuk tetap menjaga agar kota ini tetap menjadi kota yang kaya dengan bangunan Heritagenya sudah dilakukan saat masih dipimpin Presiden Jokowi. Kala itu, semua bangunan Heritage di Kota Solo didata dan diberi label. Tujuannya, agar masyarakat gampang bila ingin pergi ke bangunan Heritage yang ada di kota Solo.

"Sejak jaman Presiden Jokowi masih menjabat sebagai Walikota Solo, upaya melestarikan bangunan Heritage di Kota Solo sudah ada. Dimana semua bangunan yang masuk Heritege didata dan di beri label. Sehingga, masyarakat bisa dengan mudah pergi ke kota tuannya Solo. Tapi kalau bicara Kota Tua, kota tuannya Solo itu Kraton dan Pura mangkunegaran," ujar dia.

1
4

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini