nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Mengintip Isi Museum Wayang dan Seni Rupa di Kota Tua

Fadel Prayoga, Jurnalis · Sabtu 21 September 2019 10:00 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 09 20 337 2107348 mengintip-isi-museum-wayang-dan-seni-rupa-di-kota-tua-5mhpVBph5U.jpeg Pengunjung melihat koleksi museum di Kota Tua, Jakarta (Okezone.com/Fadel Prayoga)

KAWASAN Kota Tua, Jakarta Barat menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan termasuk warga lokal yang ingin melepas penat. Selain bangunan klasik peninggalan Belanda, hiburan, cafe-cafe gaul hingga manusia patung, ada beberapa museum di sana yang bisa jadi sasaran pengunjung.

Salah satunya adalah Museum Wayang. Desain bangunan Museum Wayang dari depan masih sangat kental dengan arsitektur Hindia Belanda.

Gedung tua dengan cat putih, dihiasi jendela dan kosen pintu hijau itu sebelumnya adalah area tanah gereja. Gedung itu dibangun pada 1640 dengan nama de Oude Holandsche Kerk.

Kemudian, pada 1732 diperbaiki dan berganti nama De Nieuwe Hollandse Kerk atau Gereja Baru Belanda hingga 1808. Gereja itu sempat hancur akibat gempa bumi.Kota Tua

Museum Sejarah Jakarta di Kota Tua (Okezone.com/Fadel)

Di atas tanah bekas reruntuhan itu kemudian dibangun Museum Wayang dan diresmikan operasionalnya pada 13 Agustus 1975. Meskipun telah beberapa kali direnovasi, tapi bangunan asli yang mirip gereja klasik tak berubah.

Koleksi wayang yang ditampilkan di sana berasal dari seluruh wilayah Indonesia. Bahkan ada juga yang didatangkan dari luar negeri, seperti China, Kamboja, Thailand, Suriname, Vietnam, India dan Kolombia.

"Koleksi Museum Wayang ada sekitar 6.300 buah," kata Kepala Unit Pengelola Museum Wayang, Museum Seni Rupa dan Keramik serta Museum Tekstil, Esti kepada Okezone, tengah pekan ini.Kota Tua

(Foto Okezone.com/Fadel)

Mulai dari wayang kulit, wayang golek, wayang kardus, wayang rumput, wayang janur, topeng, boneka, wayang beber dan gamelan.

Museum Seni Rupa dan Keramik

Di Kota Tua memang ada lima museum. Selain Museum Wayang, Museum Fatahillah atau Sejarah Jakarta, Museum Bank Indonesia dan Museum Bank Mandiri, ada juga Museum Seni Rupa dan Keramik.

Bangunan yang kini jadi Museum Seni Rupa dan Keramik awalnya merupakan Kantor Dewan Kehakiman pemerintah Hindia Belanda pada Benteng Batavia atau Ordinaris Raad van Justitie Binnen Het Kasteel Batavia.

Pada masa kependudukan Jepang sekira 1944, bangunan itu dialihkan menjadi asrama militer. Kemudian, pada 10 Januari 1972, gedung dengan delapan tiang besar di bagian depan itu dipugar sebagai bangunan bersejarah serta cagar budaya yang dilindungi.

Pada 1990, aset bersejarah itu akhirnya diserahkan kepada Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI Jakarta.

Kini menjadi Museum Seni Rupa dan Keramik dengan menyajikan koleksi hasil karya seniman-seniman Indonesia sejak kurun 1800-an hingga sekarang.Ilustrasi

Koleksi keramik bahkan bukan hanya dari seni kreatif kontemporer Indonesia, tapi juga ada dari China, Thailand, Vietnam, Jepang dan Eropa. Keramik dari mancanegara itu peninggalan abad 16 sampai awal 20.

"Total koleksi Museum Seni Rupa dan Keramik ada sekitar 8.400 unit," ujar Esti.

Esti menjelaskan, dalam menjaga nilai sejarah di dua museum itu pihaknya pada 2019 mengajukan anggaran perawatan sebesar Rp. 5.347.340.000.

"Dana itu untuk pekerjaan Fumigasi dan anti rayap, pengecatan exterior dan interior, perbaikan plafond yang rusak, poles lantai, perbaikan toilet museum tekstil dan museum wayang serta penggantian septictank museun wayang, perbaikan koridor antara pendopo batik ke musala, perbaikan tempat parkir belakang, dan pengganti pagar yang sudah kropos," kata Esti.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini