nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Musim Kemarau Tahun Ini Diprediksi Lebih Panjang, Berakhir November

Jum'at 20 September 2019 14:54 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 09 20 337 2107285 musim-kemarau-tahun-ini-diprediksi-lebih-panjang-berakhir-november-2Rck4nvXAe.jpg Kekeringan melanda berbagai daerah akibat kemarau panjang (foto: Istimewa)

SEMARANG – Kepala Badan Meterologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwi Korita Karnawati mengatakan, musim kemarau di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Jawa Tengah (Jateng) diperkirakan akan berlangsung lebih lama dari yang diprediksi. Musim kemarau tahun ini kemungkinan masih akan terjadi hingga November nanti.

“Musim kemarau 2015 merupakan yang paling lama. Tahun ini nomor dua (terpanjang) setelah musim kemarau 2015. Musim hujan mundur sehingga kemarau lebih panjang,” ujar Dwi, di Semarang, Jawa Tengah, seperti dikutip dari Solopos.com.

Karena itu, ia meminta dengan musim kemarau yang panjang ini, masyarakat diimbau meningkatkan kewaspadaan, terutama dalam menghadapi risiko bencana kebakaran.

BACA JUGA: Kekeringan di Bantul Manfaatkan Air Bekas Kolam Ikan

Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Jateng, Sri Puryono, mengatakan saat ini bencana kebakaran hutan tengah melanda beberapa wilayah di Jateng, seperti Gunung Merbabu, Gunung Slamet, dan Gunung Merapi.

kekeringan daerah

“Saat ini kita sedang mengalami bencana kebakaran hutan di Taman Nasional Gunung Merbabu di wilayah Resor Pakis, Wonolelo, Selo, dan Ampel. Selain di Gunung Merbabu, kebakaran hutan juga terjadi Gunung Slamet yang meliputi wilayah Kabupaten Tegal, Brebes dan Banyumas, serta Gunung Merapi,” kata Sekda.

Kebakaran di Gunung Merbabu diperkirakan mencapai 436 hektare dan sempat padam pada Minggu (15/9/2019). Namun karena angin yang bertiup kencang, api kembali muncul di dua titik dan kembali membakar hutan.

BACA JUGA: Kekeringan AKibat Kemarau, Kementan Upayakan Mitigasi

Sedangkan kebakaran di Gunung Slamet yang meliputi daerah Bumijawa semula menghanguskan lahan hutan seluas 15 hektare, kemudian meluas ke wilayah Banyumas, lalu melebar ke arah Sawangan Bumijawa seluas 225 hektare.

Dalam kesempatan itu, Sekda juga menyatakan jika Jateng tergolong daerah dengan risiko bencana tinggi. Berdasarkan indeks risiko bencana Indonesia 2013, Jateng menempati urutan ke-13 di tingkat nasional sebagai daerah dengan risiko bencana dengan skor 158. Sedangkan frekuensi kejadian bencana di Jateng selama 2016-2018 tergolong cukup tinggi. Data tahun 2016 ada sekitar 1.574 kejadian bencana di Jateng, 2.304 kejadian pada 2017, dan 1.760 kejadian di 2018.

(amr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini