nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Dharma Pongrekun: Revolusi Industri 4.0 adalah Rekayasa Kehidupan

Fetra Hariandja, Jurnalis · Kamis 19 September 2019 10:18 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 09 19 337 2106687 dharma-pongrekun-revolusi-industri-4-0-adalah-rekayasa-kehidupan-X0hk0OGwNP.jpg Wakil Kepala BSSN Komjen Dharma Pongrekun. (Foto: Ist)

WAKIL Kepala Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), Komjen Pol Drs Dharma Pongrekun, M.M, M.H, mengajak seluruh bangsa Indonesia, terutama kaum milenial, agar selalu berpegang pada jati diri sebagai mahluk berketuhanan dalam menghadapi dan mengantisipasi Revolusi Industri 4.0 yang penuh ketidakpastian.

"Revolusi industri sebetulnya adalah rekayasa kehidupan yang akan menjauhkan manusia dengan fitrahnya sebagai mahluk ciptaan Tuhan," katanya.

Ajakan tersebut disampaikan Dharma dalam seminar bertema 'Penguatan Nila-Nilai Kebangsaan dalam Menghadapi Revolusi 4.0' yang diselenggarakan Dewan Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Ilmu komunikasi UIN Syarief Hidayatullah pada Senin 16 September 2019.

Acara yang dihadiri 300-an mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Jakarta ini juga menampilkan pembicara lain yaitu Cyril Raoul Hakim (advisor Pt Catira), Muhammad Pradana Indraputra (CEO Akusara Group), dan Staf Ahli Kastaf Kepresidenan FX Rudi Gunawa.

Baca juga: Sarjana Kelautan dan Perikanan Dituntut Siap Hadapi Revolusi Industri 4.0 

Rektor UIN Jakarta Profesor Dr Hj Amary Burhanuddin Umar Lubis, L.C, M.A. dalam keynote speech-nya menyampaikan nilai-nilai kebangsaan itu harus terwujud dalam kehidupan sehari-hari, di samping nilai-nilai agama, dalam menjaga semangat persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia. Ia menekankan dalam menghadapi Era Revolusi Industri 4.0, nilai kebangsaan harus dibumikan ke pelosok wilayah NKRI.

Dalam paparannya, Dharma Pongrekun menjelaskan revolusi industri hanya satu dari agenda tersembunyi dari agenda besar globalisasi untuk merevolusi kehidupan manusia agar menjadi makhluk ateis atau tidak bertuhan.

Wakil Kepala BSSN Komjen Dharma Pongrekun. (Foto: Ist)

"Globalisasi tujuan akhirnya menjauhkan manusia dari Kemahakuasaan Tuhan dengan cara merekayasa pola pikir manusia," katanya.

Menurut Dharma, globalisasi memiliki ada tiga besar, yaitu money, power, dan control. Program money sudah sukses dengan bersatunya sistem ekonomi seluruh dunia. Program power juga sudah sukses dengan masuknya sistem global ke sistem dan struktur pemerintahan di seluruh dunia. Program control, hampir 80 persen sudah terpenuhi.

Baca juga: Hadapi Industri 4.0, Apa yang Harus Dilakukan PNS? 

"Globalisasi ujung-unjungnya merekayasa kehidupan manusia agar masuk ke sistem ateis atau tidak bertuhan," katanya.

Life engineering tersebut, lanjutnya, dilakukan secara terstruktur, sistematis, dan masif (TSM) sejak dunia diciptakan. Di era modern, rekayasa kehidupan dilakukan melalui fase-fase revolusi industri, yang akhirnya bermuara pada bertemunya teknologi informasi dan teknologi komunikasi melalui internet sekira 20–30 tahun lalu. Sejak itulah globalisasi menjadi gelombang yang sangat dahsyat yang sepertinya tidak bisa dihindari lagi.

Oleh karena itu, Dharma mengimbau kaum melenial lebih bijak dalam memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Sebab teknologi ini memang didesain untuk memanipulasi mindset manusia, antara lain dengan cara rekayasa kecerdasan (intelligence engineering), rekayasa konflik (conflict engineering), dan rekayasa serangan (attack engineering).

"Kemajuan teknologi ini hanya pengalihan konsentrasi kita supaya kita tidak punya cukup waktu untuk mengingat Kemahakuasaan Tuhan," katanya.

Menurut Dharma, saat ini sarana TIK yang begitu masif dipakai manusia sehari-hari adalah smartphone. Alat tersebut memang didesain menyajikan kecepatan dan kemudahan sehingga diterima manusia secara luas.

Secara natural, ucap dia, manusia memang menyukai hal yang praktis sehingga smartphone diterima manusia secara masif. Tapi sebetulnya di dalam alat disisipi aplikasi-aplikasi yang memiliki roh kemewahan, roh pornografi, dan roh candu.

Maka itu, jelas dia, alat ini membuat manusia bisa asyik berjam-jam, sampai lupa waktu salat. Padahal, manusia bisa hidup karena roh dari Tuhan. Nah, roh itulah yang coba diganggu melalui smartphone.

"Dunia nyata Allah yang punya. Dunia maya, Allah-nya maya juga," tutur Dharma.

Baca juga: Menuju Era Revolusi Industri 4.0, Tahu Dulu Apa Itu IoT! 

Jadi, lanjut dia, pada akhirnua life engineering dengan mindset manipulation ini akan menghasilkan suatu pemahaman ateis –pada diri manusia.

Di Eropa sudah banyak yang menjadi ateis dan scientolgy. Tapi negara-negara yang masih berdiri di atas Ketuhanan, seperti Indonesia, akan dihantam ekonomi oleh globalisasi, karena mereka punya uang, punya pasukan di mana-mana.

"Yang dihantam center of gravity-nya yaitu ideologi bangsa," ungkapnya.

Solusinya, menurut Dharma, semua harus kembali ke nilai-nilai luhur bangsa, yaitu menjadi bangsa yang ber-Ketuhanan. Ia mengatakan, kalau sila pertama Pancasila ini sudah kita amalkan dalam kehidupan kita sehari-hari, otomatis sila-sila berikutnya akan terwujud.

Baca juga: Kemnaker Terus Perkuat Peran Instruktur BLK Hadapi Industri 4.0 

Pada bagian akhir, Dharma mengimbau kepada kaum milienal agar segera menjadi orang pintar sehingga pada waktunya Indonesua memiliki Teknologi Industri Nasional yang diawaki oleh anak-anak bangsa sendiri.

Selain dapat memajukan ekonomi dalam negeri, hal ini juga dapat menjaga data keamanan seluruh bangsa indonesia dan tidak tergantung dengan bangsa lain seperti yang dikhawatirkan salah satunya oleh Rektor UIN Jakarta.

"Supaya kita tidak menjadi robot atau budak bangsa asing," tegasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini