nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Pakar Kesehatan: Kualitas Udara 'Sangat Berbahaya' Akibat Asap Karhutla

Kamis 19 September 2019 08:54 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 09 19 337 2106657 pakar-kesehatan-kualitas-udara-sangat-berbahaya-akibat-asap-karhutla-LK3xiADRly.jpg Siswa di Palangkaraya memakai masker akibat pekatnya kabut asap. (Foto: Ulet Ifansasti/Getty Images)

PAKAR kesehatan memperingatkan ancaman bahaya kesehatan akibat asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di tengah memburuknya kualitas udara di Kalimantan Tengah dan Riau.

Sementara seorang warga bernama Julyana Mantuh hanya menanti turunnya hujan. Setelah hampir tiga bulan menjalani hidup di bawah kabut asap di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, ia merasakan penyakit asmanya kambuh lagi.

Mengutip dari BBC News Indonesia, Kamis (19/9/2019), perempuan berusia 25 tahun ini mengatakan kabut asap karhutla telah mengganggu aktivitasnya di luar rumah.

Baca juga: 281 Titik Api Terpantau di Sumsel, Status Udara Sempat 'Berbahaya' 

"Ada beberapa daerah yang jarak pandangnya itu kurang dari 100 meter, dan beberapa hari terakhir juga saya merasakan sakit tenggorokan, dan enggak enak buat aktivitas di luar rumah. Karena kalau sebentar saja berkendara di luar rumah itu mata kita jadi perih."

"Kami sangat butuh hujan, sebenarnya, karena kemarin sempat turun hujan dan itu bikin bersih udara Kota Palangkaraya. Ternyata di-epic comeback (kembali lagi) sama asap lagi," lanjut Julyana yang selalu membawa inhaler dan masker N95 setiap keluar rumah.

Kebakaran hutan dan lahan di Indonesia. (Foto: BBC News Indonesia)

Kualitas udara di Palangkaraya memang sangat buruk dalam beberapa hari terakhir. Berdasarkan pantauan Airvisual, indeks kualitas udara ibu kota Provinsi Kalimantan Tengah itu pada Selasa 17 September mencapai 480, yang berarti "Hazardous" atau berbahaya, jauh dari batas aman yakni 100.

Dampaknya udara buruk bagi kesehatan telah dirasakan oleh sebagian warga Palangkaraya.

Baca juga: WALHI: Korporasi Penyebab Karhutla Harus Dijerat Pidana dan Pencabutan Izin 

Dinas Kesehatan Kalimantan Tengah mencatat bahwa setiap pekan terdapat kurang-lebih 2.000 warga yang melaporkan menderita infeksi saluran pernapasan atas (ISPA). Gejalanya berupa batuk dan pilek, namun bisa lebih berat bagi penderita asma seperti Julyana.

Meski demikian, Kepala Dinas Suyuti Syamsul mengatakan situasi belum ditetapkan sebagai kejadian luar biasa.

"Setiap minggu kurang lebih 2.000. Tetapi yang harus digarisbawahi kami bukan jumlahnya, apakah ada kenaikan dua kali lipat dibanding minggu sebelumnya. Ternyata selama ini belum ada. Memang naik signifikan, tapi itu sekitar 10–20 persen, tidak sampai dua kali lipat. Sehingga dari sisi kesehatan, kita tidak bisa menyatakan sebagai kejadian luar biasa," kata Suyuti kepada BBC News Indonesia, Selasa 17 September 2019.

Kualitas udara buruk akibat asap juga dirasakan di Kota Pekanbaru. Berdasarkan pantauan Airvisual, indeks kualitas udara ibu kota Provinsi Riau itu pada Selasa kemarin mencapai 415.

Seorang warga Pekanbaru, Ernawati, mengatakan kabut asap telah berdampak pada kesehatan ketiga anaknya.

"Kami semua sudah kena sakit yang sama, batu-batuk, sesak napas, ayahnya juga kena," kata Ernawati kepada wartawan di Pekanbaru, Wahyu, yang melaporkan untuk BBC News Indonesia.

Baca juga: 25.900 Hektare Hutan Terbakar di Kalbar, 133 Perusahaan Disanksi 

Lebih lanjut Erna, yang tinggal di Kecamatan Bukit Raya, mengungkapkan bahwa sakit yang diderita ketiga anaknya semakin parah saat malam hari.

Warga Pekanbaru Ernawati merawat salah satu anaknya, Ababil (6), yang batuk-batuk dan kesulitan bernapas akibat karhutla. (Foto: BBC News Indonesia)

"Kalau malam enggak bisa tidur ini mereka, batuk-batuk terus. Kasihan. Asap kan masuk ke rumah, tercium baunya," lanjut dia.

Baca juga: 6 Titik Panas Terpantau di Wilayah Sumatera Utara 

Ketua Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, dr Agus Dwi Susanto, menyebut kualitas udara di Palangkaraya dan Pekanbaru sudah 'sangat berbahaya'. Ia menjelaskan bahwa ketika indeks kualitas udara melebihi 300, itu berarti kandungan partikel dan gas-gas polusi telah jauh lebih banyak dari udara yang sehat.

"Kandungan oksigennya jauh lebih rendah dibanding kandungan udara yang sehat. Tentunya selain efek dari kandungan bahan polutan itu, kualitas oksigen yang turun juga akan memengaruhi kualitas hidup manusia. Orang akan menjadi kekurangan oksigen sehingga ini berbahaya buat kesehatan."

Seberapa Buruk Kualitas Udaranya?

Mengacu pada pantauan Airvisual, kualitas udara yang mencapai level 'Hazardous' di Palangkaraya terdeteksi sejak Jumat 13 September 2019. Puncaknya pada 15–16 September, ketika indeks kualitas udara melampaui angka 900.

Sementara di Pekanbaru, kualitas udara mencapai level 'berbahaya', meski tidak separah Palangkaraya, sejak Kamis 12 September. Kualitas udara terburuk tercatat pada Jumat 13 September dengan indeks kualitas udara 489.

Baca juga: Dampak Kabut Asap, Penumpang Menginap di Bandara Ahmad Yani 

Indeks kualitas udara atau air quality index (AQI) dihitung berdasarkan pengukuran partikulat halus, Ozon (O3), Nitrogen Dioksida (NO2), Sulfur Dioksida (SO2), dan emisi Karbon Monoksida (CO).

Kualitas udara juga diukur dengan menghitung particulate matter atau partikel halus, yaitu PM2,5 dan PM10. Angka tersebut merupakan ukuran partikel yaitu 2,5 mikron dan 10 mikron –puluhan kali lebih kecil dari rambut manusia.

(Foto: BBC News Indonesia)

Dokter Agus Dwi Susanto dari Perhimpunan Dokter Paru Indonesia menjelaskan bahwa PM2,5 kini lebih sering dijadikan patokan, karena jenis partikel tersebut "lebih toksik". Partikel berukuran 2,5 mikron dapat masuk ke saluran napas bawah, kemudian ke pembuluh darah, dan beredar ke seluruh tubuh, sehingga "mengubah perubahan normal menjadi peradangan kronik".

Baca juga: Kebakaran Hutan Ganggu Jadwal Penerbangan di Bandara Ahmad Yani Semarang 

Studi dari analis perubahan iklim Berkeley Earth secara kasar memadankan tingkat polusi PM2,5 sebesar 22 mikrogram per meter kubik dengan mengisap satu batang rokok per hari.

Menurut Airvisual, sejak Jumat 13 September, warga Palangkaraya sempat merasakan konsentrasi PM2,5 yang mencapai 1.200 mikrogram per meter kubik —setara dengan mengisap kira-kira 54 batang rokok.

Adakah Dampak Kesehatan Jangka Panjang?

Dokter Agus Dwi Susanto mengatakan paparan terhadap asap kebakaran hutan dan lahan bisa menyebabkan penurunan fungsi paru. Meski sebenarnya efek tersebut bisa pulih kembali.

Ia menjelaskan, berdasarkan penelitian, sekira 65 persen warga yang terekspos asap karhutla pada 2015 ada sekira 65 persen yang mengalami gangguan obstruksi atau penyempitan saluran napas. Setelah enam bulan kemudian, ketika udara kembali bersih, pemeriksaan spirometri menunjukkan bahwa saluran pernapasan mereka kembali normal.

Namun, kata Agus, paparan terus-menerus terhadap asap bisa membuat Penyakit Paru Obstruksi Kronis (PPOK) menjadi semakin buruk atau eksaserbasi. PPOK membuat penderitanya sulit bernapas karena aliran udara dari paru-paru terhalang pembengkakan dan lendir atau dahak. Gejala yang semakin parah menyebabkan kunjungan ke rumah sakit meningkat.

"Itu datanya ada ya: 1,8 hingga 3,8 kali itu ada peningkatan kunjungan ke rumah sakit karena penyakit-penyakit saluran pernapasan selain ISPA."

"Beberapa data penelitian menunjukkan setiap tahun orang yang terkena asap kebakaran hutan terus-menerus itu cenderung akan mengalami hipersensitif saluran napas ya. Nanti cenderung bisa menjadi risiko terjadinya penyempitan saluran napas," imbuhnya.

Baca juga: Batal Ceramah, UAS Keluhkan Masalah Kebakaran Hutan 

Penelitian mengenai komposisi kimiawi asap kebakaran gambut di Kalimantan Tengah pada 2015 menemukan kandungan polycyclic aromatic hydrocarbons (PAH), yang bersifat karsinogenik, atau menyebabkan kanker.

Tapi, menurut Agus, hingga kini itu belum ada laporan yang menunjukkan kejadian kanker paru yang berhubungan dengan asap kebakaran hutan. Itu karena kanker hanya muncul akibat paparan yang berkelanjutan, dan biasanya terjadi setelah seseorang terpapar selama bertahun-tahun.

(Foto: BBC News Indonesia)

"Misalnya 10 tahun. Jadi setelah 10 tahun terpapar akan terjadi perubahan sel paru normal menjadi sel paru kanker."

"Kalau asap kebakaran hutan itu episodik. Misalnya, tahun ini dari Juli sampai Oktober, habis itu berhenti ketika hujan. Berbeda dengan, contohnya, kalau orang merokok ya," ujarnya.

Baca juga: Polda Kalsel Sudah Petakan Titik Api Kebakaran Hutan 

Bagaimanapun, menurut Agus, yang ditakutkan dari asap kebakaran hutan adalah risiko jangka pendeknya, bukan jangka panjangnya.

"Jangka pendeknya menyebabkan ISPA. Kemudian serangan jantung meningkat, serangan asma meningkat, kunjungan ke perawatan kesehatan meningkat. Kalau jangka panjang kan keluarnya setelah sekian tahun. Tapi kalau ini dibiarkan terus-menerus, angka kematian bisa tinggi."

Studi yang diterbitkan di jurnal Environmental Research Letters pada 2016 menaksir jumlah kematian akibat kabut asap pada 2015 sebanyak 91.600 di Indonesia, 6.500 di Malaysia, dan 2.200 di Singapura. Namun Pemerintah Indonesia menolak angka tersebut, mengatakan bahwa itu merupakan estimasi hasil studi, bukan angka temuan di lapangan.

Apa yang Dilakukan Pemerintah?

Kepala Dinas Kesehatan Kalimantan Tengah Suyuti Syamsul mengatakan pemprov telah membuka 110 "rumah singgah" di seluruh Kalteng. Rumah tersebut menyediakan tabung oksigen dan ruangan kedap asap. Hingga kini ribuan warga telah memanfaatkan fasilitas tersebut.

Di Riau, posko kesehatan untuk menanggulangi gangguan kesehatan akibat asap telah dibuka di sejumlah daerah di Kota Pekanbaru. Sebagian posko dikelola oleh pemprov, sebagian lagi oleh partai politik. Selain untuk berobat, masyarakat mendatangi posko untuk mendapatkan masker yang diberikan secara cuma-cuma.

Baca juga: Karhutla Riau, Wiranto: Tak Separah Seperti yang Diberitakan 

Seorang petugas kesehatan di salah satu posko di Kecamatan Marpoyan Damai, yang dibuka oleh Partai Keadilan Sejahtera (PKS), mengatakan kebanyakan pasien mengeluhkan sesak napas.

"Apalagi ibu hamil, itu janinnya ada yang kekurangan oksigen, kurang gerak janinnya. Setelah kita kasih oksigen langsung aktif bayinya," ujarnya kepada Wahyu, wartawan di Pekanbaru yang melaporkan untuk BBC News Indonesia.

Sementara Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan upaya penanganan karhutla terus dilakukan dengan strategi pemadaman lewat darat dan udara serta penegakan hukum.

Baca juga: Trenggiling 'Si Manis' yang Terancam Punah Ditemukan Mati Akibat Karhutla Riau 

Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas BNPB Agus Wibowo menyatakan jarak pandang menghambat pengemboman air di beberapa titik panas (hotspot).

Hingga Selasa 18 September 2019, terdapat 2.136 titik api di seluruh Indonesia, berdasarkan pantauan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN). Kebakaran hutan dan lahan diperkirakan akan terus berlanjut sampai penghujung musim kering yaitu Oktober atau November.

1
5

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini