nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Viral Warga Nyeberang Sungai ala Flying Fox, Begini Cerita Sebenarnya

Banda Haruddin Tanjung, Jurnalis · Kamis 19 September 2019 00:04 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 09 18 337 2106547 viral-warga-nyeberang-sungai-ala-flying-fox-begini-cerita-sebenarnya-rvCnlgBSJG.jpg Dua Wanita Seberangi Sungai ala Flying Fox Viral di Medsos (foto: Ist)

PEKANBARU - Sebuah video viral di media sosial (medsos) karena memperlihatkan dua wanita menyebrangi sungai dengan sepeda motor dengan cara ala flying fox menggunakan slink. Aksi nekat tersebut pun ramai diperbicangkan netizen, lalu bagaimana cerita sebenarnya?

Dua orang tersebut ternyata merupakan warga di daerah Kecamatam Tambusai, Kabupaten Rokan Hulu (Rohul), Riau. Aksi menyebrang sungai ala flying fox ternyata sudah bertahun-tahun lamanya. Hal ini dilakukan warga karena tidak ada akses untuk menyerangi sungai.

Baca Juga: Viral Motor Nyebrang Sungai ala Flying Fox, Netizen Colek Kementerian PUPR 

"Jadi cara menyebarang dengan slink itu sudah berlangsung selama 20 tahun. Jadi warga sudah terbiasa. Di sana memang tak ada jembatan," kata Camat Tambusai, Muamer Ghadafi kepada Okezone, Rabu (18/9/2019).

Dalam video viral di medsos yang dipantau Okezone tampak dua wanita menggunakan sepeda motor matik. Kedua wanita muda berhijab ini bersiap menyebarangi sungai. Ada beberapa warga yang terlihat membantu untuk menarik tali slink yang memang sudah terpasang di antara kedua sisi sungai.

Aksi Menyebrang Sungai ala Flying Fox Viral di Medsos (foto: Ist) 

Kedua slink dikaitkan ke dua stang motor. Sementara satu slink dikaitkan ke bagian belakang. Petugas yang memasang slink juga masih anak-anak.Terlihat keamanan diri sangat minim.

Keduanya meluncur dengan slink hanya hitungan detik sudah sampai ke sebrang sungai dengan selamat. Keduanya menyebrang seperti layaknya permainan flying fox. Di sebarang sungai sudah ada warga lain yang menunggu.

Keduanya diketahui menyebrang dari Batang Kumuh ke Desa Mondang Kumongo. Kedua desa itu dikelilingi oleh kebun sawit.

"Bukannya pemerintah tidak mau membuat jembatan. Tapi kalau kita buat itu menyalahi aturan. Karena daerah itu masuk dalam hutan lindung Mahato. Itu kawasan lindung loh, namanya hutan, tapi sudah berubah menjadi perkebunan sawit," tegasnya.

Dia menyadari apa yang dilakukan warganya sangat membahayakan. Apalagi sungai yang lewati cukup dalam.

"Pernah juga ada insiden, warga nyemplung bersama motornya. Saat itu warga itu gugup. Beruntung selamat. Sungai yang di sana itu jika lagi surut dalamnya hanya 2 meter. Tapi kalau lagi pasang bisa 7 meter dalamnya. Jadi memang bahaya," ucapnya.

(fid)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini