Heboh Ajakan Pancing Hujan dengan Baskom Air Garam, Ini Penjelasan BMKG

Fakhrizal Fakhri , Okezone · Rabu 18 September 2019 20:21 WIB
https: img.okezone.com content 2019 09 18 337 2106522 heboh-ajakan-pancing-hujan-dengan-baskom-air-garam-ini-penjelasan-bmkg-4BpmtKVmDy.jpg Ilustrasi (Okezone)

JAKARTA – Pesan berantai atau broadcast ajakan meletakkan baskom berisi air garam di luar rumah untuk memancing turun hujan beredar luas di media sosial terutama di grup-grup WhatsApp. BMKG menyatakan anjuran itu hoaks karena tidak akan bisa menurunkan hujan.

Broadcast ajakan memancing agar turun hujan viral menyusul kemarau panjang melanda sejumlah daerah hingga menimbulkan kebakaran hutan dan lahan terutama di Sumatera dan Kalimantan yang memicu bencana asap.

Isi pesan berantai tersebut sebagai berikut:

Darurat Kemarau Panjang !!

 

Sediakan baskom air yang dicampur garam dan diletakkan diluar rumah, biarkan menguap, jam penguapan air yang baik adalah sekitar pukul 11.00 s.d jam 13.00, dengan makin banyak uap air di udara smakin mempercepat Kondensasi menjadi butir air pada suhu yang makin dingin di udara.

 

Dengan cara sederhana ini diharapkan hujan makin cepat turun, semakin banyak warga yang melakukan ini di masing-masing rumah, ratusan ribu rumah maka akan menciptakan jutaan kubik uap air di Udara.

 

Lakukan ini satu rumah cukup 1 ember air garam, sabtu jam 10 pagi serempak..

 

Mari kita sama2 berusaha utk mnghadapi kemarau kian parah ini.. >:|<

 

Mohon diteruskan..

Terima kasih

Kabid Diseminasi Informasi Iklim dan Kualitas Udara BMKG Harry Djatmiko menjelaskan, tindakam meletakkan baskom berisi air pada siang hari tidak dapat dibuktikan secara ilmiah mempercepat proses kondensasi menjadi butir air.

"Hal ini juga sudah pernah diklarifikasi pada awal September 2015 beberapa tahun yang lalu dan merupakan berita yang tidak benar atau hoaks," ujar Harry kepada Okezone, Rabu (18/9/2019).

Menurut dia, proses penguapan air dari baskom meskipun dalam jumlah yang banyak sangat jauh dari memadai bila dibandingkan dengan jumlah uap air hasil penguapan yang diperlukan untuk proses kondensasi pembentukan awan di atmosfer.

"Analogi mudahnya seperti ini, jangankan sebaskom air, baskom sebesar lautan dan samudera saja belum bisa serta merta membuat uap air di udara jadi jenuh dan turun hujan," paparnya.

Ia mengatakan, hujan yang terjadi di bumi sebagian besar berasal dari kndensasi uap air dari hasil penguapan di lautan.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini