nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Bencana Kabut Asap hingga Dampak Parahnya Merenggut Jiwa

Hantoro, Jurnalis · Selasa 17 September 2019 07:20 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 09 17 337 2105723 bencana-kabut-asap-hingga-dampak-parahnya-merenggut-jiwa-l6vIZCKzN8.jpg Kabut asap di Kota Pekanbaru, Riau. (Foto: Banda Haruddin Tanjung/Okezone)

Sementara bencana kabut asap yang menyelimuti Provinsi Sumatera Selatan dan sekitarnya mulai menimbulkan dampak kesehatan warga sekitar. Seorang bayi dikabarkan meninggal dunia akibat menderita inpeksi saluran pernapasan atas (ISPA).

Bayi bernama Elsa Fitaloka (4 bulan) tersebut wafat pada Minggu 15 September 2019. Ia sempat dirawat di Rumah Sakit Arrasyid Palembang.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, Bayi Elsa berasal dari keluarga tidak mampu di RT 08 Desa Talang Buluh, Kecamatan Talang Kelapa, Banyuasin. Diduga ia menderita penyakit ISPA akibat kabut asap yang semakin pekat.

Baca juga:  Bayi yang Meninggal Akibat Kabut Asap Didiagnosis Radang Paru-Paru 

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Banyuasin, Dokter MGS Hakim, mengatakan pihaknya memastikan Bayi Elsa terkena radang paru-paru atau pneumonia. Hal itu diketahui setelah Dinkes Banyuasin datang ke RS Arrasyid Palembang untuk memastikan penyebab wafatnya Elsa.

"Hasil kunjungan Tim Dinas kesehatan Banyuasin ke RS Arrasyid memang benar ada pasien bayi berumur 4 bulan ke UGD dengan diagnosis pneumonia dan meninggal," ucap Dokter Hakim.

Kabut asap. (Foto: Okezone)

Dia menjelaskan, pneumonia merupakan peradangan pada satu kantung udara di dua paru-paru. Dapat berisi cairan atau lender. Bisa juga disebut paru-paru basah.

Kondisi tersebut bisa mengancam nyawa siapa pun. Namun, pneumonia pada anak bayi atau balita bisa sangat berbahaya karena dapat menyebabkan kematian.

Baca juga: Jokowi Tinjau Penanganan Karhutla Riau, Wali Kota Pekanbaru Malah ke Kanada 

Sementara untuk karhutla di Provinsi Riau masih sulit dilakukan pemadaman. Hal ini sebagaimana diungkapkan Kepala Badan Metodologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati.

Ia mengungkapkan upaya rekayasa bibit-bibit awan untuk menjadi hujan buatan di wilayah tersebut masih sulit diterapkan.

"Langkah hujan buatan sudah diupayakan sejak Juli lalu. Namun selama dua bulan ini kondisi perawanan di Indonesia bersih hampir tidak ada awan," ujar Dwikorita, Minggu 15 September 2019.

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini