nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Molek, Transportasi Serupa "Roller Coaster" dari Batavia Kecil

Demon Fajri, Jurnalis · Jum'at 20 September 2019 07:03 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 09 16 337 2105555 molek-transportasi-serupa-roller-coaster-dari-batavia-kecil-1wIF89H4ms.jpg Molek (Foto: Okezone/Demon)

PERNAH mendengar kata Molek? Sebutan ini tidak berlaku untuk menggambarkan seseorang bertubuh seksi. Molek merupakan moda transportasi masyarakat di Batavia Kecil.

Molek ini dijadikan salah satu alat transportasi untuk menuju pusat Desa Lebong Tandai Kecamatan Napal Putih Kabupaten Bengkulu Utara provinsi Bengkulu.

Motor lori ekspres (Molek) adalah Lori yang telah dimodernisasi. Alat transportasi mirip kereta api kecil ini menjadi kendaraan alternatif yang unik, informatif dan mengasyikkan. Bentuknya pun mirip roller coaster di wahana bermain.

Desa penghasil emas ini masih terdapat jalur Lori peninggalan jaman Kolonial Belanda. Rel lori itu masih dipergunakan masyarakat setempat untuk menuju pusat desa Lebong Tandai.

Molek (Foto: Okezone/Demon)

Menurut masyarakat setempat, Lori terakhir beroperasi sekira tahun 1947-an. Di mana jaman Kolonial Belanda rel Lori digunakan untuk mengangkat emas dari Desa Lebong Tandai hingga desa Air Tenang.

Di mana rel itu dibangun Belanda sekira tahun 1904-an. Namun setelah dua tahun Indonesia Merdeka atau pada tahun 1947 Belanda meninggalkan desa Lebong Tandai.

Molek (Foto: Okezone/Demon)

Jalur rel bersejarah dan unik peninggalan Belanda tersebut kembali digunakan masyarakat setempat sekira tahun 1948-an, untuk dijadikan akses menuju desa Lebong Tandai ke pusat kecamatan Napal Putih.

Pada jamannya, masyarakat menggunakan Lori Kodok atau kereta kecil yang menggunakan tenaga manusia dengan cara mendorong serta sistem pengeremannya, dari kayu.

Seiring perjalanan waktu atau sekira tahun 1997, Lori yang selama ini digunakan masyarakat diubah menjadi Molek. Alat transportasi itu diciptakan Wan Tanggang, warga asli Desa Lebong Tandai. Di mana Molek di rakit sedemikian rupa serta memasang mesin diesel 10 PK.

Molek ini memiliki 4 roda besi dengan jarak masing-masing sumbu roda sekira 1,25 Meter. Panjang badannya tidak kurang dari 6 Meter dengan lebar badan Molek sekira 1,5 Meter.

Untuk menjalankan Molek dipandu seorang Masinis. Di mana Masinis mengoperasikan serta mengatur kecepatan mesin diesel. Namun, tidak bisa mengatur Molek untuk berbelok. Kecepatan Molek pun hanya kisaran 10-15 km/jam.

Moda transportasi Molek juga dilengkapi bak komling dari mobil Suzuki Futura atau bak mobil Zebra. Di mana Molek tersebut sama halnya dengan mobil lainnya yang memiliki gigi.

Molek (Foto: Okezone/Demon)

Sebab Molek juga memiliki 6 gigi, termasuk gigi mundur. Bahkan, setiap Molek terdapat setir second, gas injak yang dimodifikasi dan rem prodo.

Akses atau jalur Molek melintasi desa Air Tenang hingga Lebong Tandai. Jaraknya sekira 35 kilometer (KM) dengan memakan waktu tempuh tidak kurang dari 4,5 jam.

Namun di dalam perjalanan terdapat rel Molek yang terputus. Di kawasan hutan Ronggeng atau stasiun Ronggeng, tepatnya. Sehingga masyarakat musti transit untuk melanjutkan perjalanan ke desa Lebong Tandai, waktu tempuhnya sekira 2 jam.

Molek (Foto: Okezone/Demon)

Setiap hari tidak semua moda transportasi Molek beroperasi. Mereka yang memiliki Molek akan berangkat ketika ada pesanan dari masyarakat Lebong Tandai. Baik untuk menuju Lebong Tandai atau ke desa Air Tenang.

Untuk biaya sekali berangkat per orang dikenakan biaya Rp25 ribu. Di luar barang bawaan. Biaya itu hanya sebatas stasiun Ronggeng. Lalu, transit dengan menaiki Molek lainnya untuk menuju pusat desa Lebong Tandai.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini