nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Batavia Kecil, Desa 'Emas' Sarat Sejarah yang Diperebutkan Banyak Negara

Demon Fajri, Jurnalis · Kamis 19 September 2019 07:10 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 09 16 337 2105542 batavia-kecil-desa-emas-sarat-sejarah-yang-diperebutkan-banyak-negara-yGyTmHlmOG.jpg Batavia Kecil di Bengkulu (Foto: Okezone/Demon)

BATAVIA Kecil. Terdengar asing, memang. Batavia Kecil merupakan salah satu desa di provinsi berjuluk Bumi Rafflesia, Bengkulu. Sebagian masyarakat Indonesia mungkin belum mengetahui desa satu ini.

Batavia Kecil adalah nama lain dari desa Lebong Tandai. Nama itu sudah akrab disebut warga desa Lebong Tandai kecamatan Napal Putih kabupaten Bengkulu Utara Provinsi Bengkulu.

Tidak hanya warga Lebong Tandai. Sebutan Batavia Kecil sudah tenar sejak kolonial Belanda masuk ke Bengkulu untuk menguasai lokasi tambang emas di daerah tersebut.

Desa yang dihuni tidak kurang dari 230 kepala keluarga (KK) itu sempat menjadi incaran banyak negara. Portugis, Inggris, Belanda, Cina dan Jepang, contohnya. Bahkan setelah zaman penjajahan banyak investor melirik Batavia Kecil.

Ilustrasi

Dari keterangan warga setempat, nama Lebong Tandai diambil dari kata ‘Lobang yang Ditandai’ atau bekas penambangan emas.

Lalu, nama itu diubah oleh pendahulu warga Lebong Tandai, dengan menyambungkan kata Lobang yang Ditandai menjadi Lebong Tandai. Menurut warga setempat, Lebong Tandai disebut Batavia Mini atau Batavia Kecil sekira tahun 1951.

Desa Terpencil dengan Segala Fasilitas

Meskipun berada di daerah terpencil dan jauh dari dunia luar. Pada jaman penjajahan Belanda, semua fasilitas di desa tersebut sudah lengkap.

Hal tersebut ditandai dengan masih ada bekas bangunan perusahaan Mijnbouw Maatschappij Simau, milik Kolonial Belanda. Di mana perusahaan itu masuk ke Batavia Kecil untuk menguasai tambang emas, sekira tahun 1904.

Pada zaman itu di Batavia Mini atau Batavia Kecil juga di bangun kamar bola atau tempat bermain biliar. Lalu, lapangan Basket, lapangan Tenis, bangunan rumah Kuning atau Rumah Bordil/Lokalisasi. Tidak hanya itu, bangunan rumah sakit, Helipad tempat Helikopter mendarat, mini market dan Bioskop.

Batavia Kecil (Foto: Okezone/Demon)

Peninggalan jaman Kolonial Belanda itu masih berdiri kokoh di desa yang didiami oleh sekira 680 jiwa. Namun, untuk bangunan bioskop dan rumah kuning sudah tidak ada.

Saat ini bangunan peninggalan jaman Kolonial Belanda itu sudah menjadi inventaris desa. Hal ini ditandai dengan warga yang menjadikan bangunan peninggalan sebagai tempat tinggal mereka.

Pada zamannya, perusahaan tambang emas di Batavia Kecil mendatangkan penari ronggeng yang berasal dari Batavia (sekarang, Jakarta). Pendatangan penari itu dilakukan perusahaan setiap tahun.

Pendatangan penari ronggeng tersebut melekat pada sebuah nama jembatan menuju Lebong Tandai. Jembatan Dam Ronggeng I dan Ronggeng II, namanya.

Pemberian nama Dam Ronggeng bermula dari Kolonial Belanda yang mengundang penari Ronggeng dari Batavia. Sehingga nama jembatan tersebut diberi nama jembatan Dam Ronggeng.

Pendatangan penari ronggeng terus berlanjut. Bahkan, penari Ronggeng menjadi sebuah hiburan bagi penduduk Batavia Kecil.

Hiburan penari Ronggeng itu pun berakhir kisaran tahun 1970-an. Di mana di desa ini pada jamannya terdapat tiga kelompok musik. Anior, Trinada dan Puspa Ria, namanya.

Pribumi Diungsikan

Berselang beberapa tahun kemudian atau sekira tahun 1981 hingga 1995, PT. Lusang Mining mengelola tambang emas di Lebong Tandai.

Di mana PT. Lusang Mining merupakan sebuah perusahaan PMA yang sahamnya sebagian dimiliki Australia dan sebagian milik keluarga Cendana, mantan Presiden RI, Soeharto.

Konon, ketika PT. Lusang Mining masuk ke Lebong Tandai, di Batavia Kecil ingin di bangun Bar serta bangunan Lokalisasi. Namun, pembangunan tersebut diurungkan.

Pembangunan Bar dan Lokalisasi tersebut lantaran PT. Lusang Mining ingin menerapkan ‘single status’ atau hidup di lokasi tambang emas tanpa boleh membawa istri.

Masuknya PT. Lusang Mining membuat seluruh penduduk asli Batavia Kecil diungsikan secara paksa, pada tahun 1986.

Batavia Kecil (Foto: Okezone/Demon)

Dalam Pengungsian tersebut tidak kurang dari 108 kepala keluarga (KK) diungsikan ke ke kecamatan Ipuh Kabupaten Mukomuko dan kabupaten Bengkulu Utara provinsi Bengkulu.

Di mana mereka dibuatkan trans yang tersebar di beberapa desa. Seperti, di desa Manunggal Jaya, Retak Ilir kecamatan Ipuh kabupaten Mukomuko serta di desa Karang Tengah kecamatan Putri Hijau Kabupaten Bengkulu Utara.

Selain itu, penduduk yang diungsikan tersebut juga mendapatkan ganti rugi. Dalam bentuk materi, uang serta pembangunan pemukiman.

Pengusiran dari perusahan PT. Lusang Mining tersebut tidak sepenuhnya di terima penduduk asli Lebong Tandai. Namun, pengusiran juga mendapatkan penolakkan dari warga untuk menjadi peserta transmigrasi.

Mahyudin, namanya. Mahyudin menolak diungsikan. Sehingga Mahyudin berserta anggota keluarganya musti menerima konsekuensi berupa tekanan yang cukup menyakitkan.

Tekanan itu mulai dari larangan menambang emas dan tidak diperkenankan menggunakan fasilitas kereta Lori sebelum Molek. Bahkan, ketika ingin keluar desa Mahyudin beserta keluarga musti berjalan kaki melewati rute hutan.

Pengungsian penduduk asli Batavia Kecil dari PT. Lusang Mining, tidak lain untuk membuat pengelolaah emas atau pemasakan emas di Lebong Tandai. Sehingga warga yang sudah menetap di daerah itu musti diungsikan.

Alasan pengungsian tidak lain, untuk menghindari warga Lebong Tandai terdampak dari zat beracun dalam pengelolaan pemasakan emas.

Sekira tahun 1995, perusahaan Lusang Mining keluar dari Batavia Kecil. Sehingga warga trans yang sempat diungsikan kembali ke Batavia Kecil untuk mendiami daerah itu kembali.

Saat ini penduduk di desa yang sebelah Selatan berbatasan dengan Bukit Husin dan sebelah utara berbatasan dengan Bukit Baharu ini sudah didiami sekira 230 kepala keluarga (KK), dengan 680 jiwa.

Di desa yang dikelilingi Bukit Kelumbuk dan Bukit Lebong Baru itu terdapat 3 RT dan 2 Dusun. Selain itu, desa ini dulunya sempat mendapat predikat desa teladan pada masa kepala desa (Kades), Parman, menjabat.

Dalam percakapan sehari-hari masyarakat setempat menggunakan 2 bahasa. Bahasa Indonesia dan Bahasa 'Pekal'.

Meskipun heterogen dan sudah tersentuh modernisasi kegotong-royongan warga masih cukup kuat, termasuk keramah-tamahan jika bertemu dengan orang yang baru datang.

Tenaga Listrik Ramah Lingkungan

Meskipun terpencil desa yang menyumbang emas di tugu monumen nasional (Monas) Jakarta ini masyarakat telah menikmati aliran listrik. Aliran listrik itu menggunakan tenaga air dari aliran air sungai Lusang.

Di mana tenaga air dengan menggunakan dinamo 5000 watt itu mampu menyalurkan aliran listrik ramah lingkungan ke setiap hari ke rumah masyarakat di Batavia Kecil.

Kincir air atau Sumirot (Si Uniyil Orang Tanda, sebutan warga Lebong Tandai), dengan tenaga 5000 Watt itu mampu mengaliri aliran listrik untuk 5 warga. Namun, setiap rumah hanya diperbolehkan 3 buah lampu dan satu televisi.

Di Batavia Kecil, setiap rumah memiliki televisi meskipun berukuran kecil dan parabola. Barang elektronik mulai dari televisi dan radio merupakan salah satu hiburan bagi warga yang tinggal di daerah terpencil dan terpelosok tersebut.

Batavia Kecil Jauh dari Peradaban

Lantas bagaimana untuk memempuh perjalan ke Batavia Kecil? Untuk tiba di desa penghasil emas ini dapat ditempuh melalui jalur darat dari dari kota Bengkulu menuju kecamatan Napal Putih kabupaten Bengkulu Utara.

Perjalanan dari kota Bengkulu memakan tidak kurang dari 4 jam untuk tiba di pusat kecamatan Napal Putih. Perjalanan itu dapat menggunakan angkutan pribadi maupun kendaraan sewaan. Baik Kendaraan roda dua maupun kendaraan roda empat.

Batavia Kecil (Foto: Okezone/Demon)

Setiba di pusat kecamatan Napal Putih, perjalanan kembali dilanjutkan dengan menaiki moda transportasi tradisional. Molek atau Motor Lori Ekspres, namanya. Molek itu ada di desa Air Tenang kecamatan Napal Putih kabupaten Bengkulu Utara.

Dari Air Tenang perjalanan menuju pusat desa Batavia Kecil di mulai dengan menaiki Molek. Keberangkatan Molek memiliki jadwal pada pagi hari sekira pukul 07.01 WIB hingga 08.01 WIB.

Di stasiun Air Tenang, para ‘Masinis’ Molek menunggu penumpang hingga penuh. Selain itu, perjalanan menuju Batavia Kecil Masinis memilih berjalan beriringan. Tujuannya, untuk mempermudah perjalanan jika ada hambatan.

Sebelum tiba di Desa Lebong Tandai, penumpang akan melewati areal yang dinamakan Ronggeng, Sumpit, Lobang Batu, Muaro Lusang.

Lalu melintasi kawasan yang bernama gunung tinggi, kuburan cina, sungai landai, terowongan lobang panjang, lobang tengah dan terowongan lobang pendek.

Di mana terowongan lobang panjang itu memiliki panjang sekira 100 Meter, sementara lobang tengah memiliki panjang sekira 50 meter dan terowongan lobang Pendek dengan panjang sekira 25 meter.

Setelah melewati berbagai terowongan itu penumpang akan tiba di desa Lebong Tandai. Di mana perjalanan dari stasiun Air Tenang hingga pusat desa Batavia Kecil memakan waktu tidak kurang dari 6 jam.

1
4

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini