nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Beredar Pernyataan Veronica Koman di Medsos Tanggapi Status Tersangka hingga soal Rekening

Achmad Fardiansyah , Jurnalis · Sabtu 14 September 2019 23:35 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 09 14 337 2104939 beredar-pernyataan-veronica-koman-di-medsos-tanggapi-status-tersangka-hingga-kejanggalan-rekening-x0tZIsfsIv.jpg Veronica Koman (Berbaju Merah) (Foto: Facebook/Veronica Koman)

JAKARTA - Setelah Polda Jawa Timur (Jatim) menerbitkan status tersanka kasus dugaan provokasi terkait insiden yang terjadi di Asrama Mahasiswa Papua (AMP) terhadap Veronica Koman dana melayangkan Daftar Pencarian Orang (DPO). Akhirnya Veronica muncul dan mengeluarkan pernyataan melalui akun Facebook dan Twitter yang diduga miliknya.

Dalam akun medsosnya, Veronica mengatakan dirinya lebih memilih diam atas tudingan Polda Jawa Timur yang mempertanyaakan rekening gendut. Namun dirinya membantah adanya hal tersebut.

Baca Juga: Polda Jatim Gandeng Interpol Buru Veronica Koman di Luar Negeri 

“Saya, Veronica Koman, dengan kesadaran penuh, selama ini memilih untuk tidak menanggapi yang dituduhkan oleh polisi lewat media massa. Hal ini saya lakukan bukan berarti karena semua yang dituduhkan itu benar,” tulisnya dalam akun medosos Twitter dan Facebook-nya, Sabtu (14/9/2019).

 

Veronica mengaku, tidak ingin berlarut-larut dalam tudingan tersebut, pasalnya dirinya hanya ingin fokus atas apa yang terjadi di Papua pascarusuh beberapa lalu.

“Namun karena saya tidak ingin berpartisipasi dalam upaya pengalihan isu dari masalah pokok yang sebenarnya sedang terjadi di Papua, kasus kriminalisasi terhadap saya hanyalah satu dari sekian banyak kasus kriminalisasi dan intimidasi besar-besaran yang sedang dialami orang Papua saat ini. Hal yang jauh dari hingar-bingar. Aspirasi ratusan ribu orang Papua yang turun ke jalan dalam rentang waktu beberapa minggu ini seolah hendak dibuat menjadi angin lalu,” urainya.

Veronica menilai, pemerintah tidak mampu menangani dan menyelesaikan kasus di Bumi Cendrawasih, alhasil hingga saat ini konflik berkepanjang di Papua terus terjadi.

“Pemerintah pusat beserta aparaturnya nampak tidak kompeten dalam menyelesaikan konflik berkepanjangan di Papua hingga harus mencari kambing hitam atas apa yang terjadi saat ini. Cara seperti ini sesungguhnya sedang memperdalam luka dan memperuncing konflik Papua,” sebutnya.

Veronica mengaku tidak menerima dengan tuduhan atau pembunuan karakter yang ditujukan kepadanya. Dia juga menyebutkan bahwa pihak kepolisian telah menyalahgunakan wewenang untuk menutupi atau mengalihkan isu.

“Saya menolak segala upaya pembunuhan karakter yang sedang ditujukan kepada saya, pengacara resmi Aliansi Mahasiswa Papua (AMP). Kepolisian telah menyalahgunakan wewenangnya dan sudah sangat berlebihan dalam upayanya mengkriminalisasi saya, baik dalam caranya maupun dalam melebih-lebihkan fakta yang ada,” bebernya.

“Bahwa betul saya terlambat dalam memberikan laporan studi kepada institusi beasiswa, tetapi urusan itu telah selesai per 3 Juni 2019 ketika universitas tempat saya studi mengirimkan seluruh laporan studi saya kepada institusi beasiswa saya,” jelasnya.

Adapun Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Australia pernah mengganggu studinya setelah dirinya berbicara tentang pelanggaran HAM Papua di acara yang diselenggarakan oleh Amnesty International Australia serta gereja-gereja Australia.

"Para staf KBRI tidak hanya datang ke acara tersebut untuk memotret dan merekam guna mengintimidasi pembicara. Tapi saya juga dilaporkan ke institusi beasiswa atas tuduhan mendukung separatisme di acara tersebut. Itu juga yang membuat hubungan saya dengan institusi beasiswa saya menjadi dingin dan saya tidak meminta lagi pembiayaan beberapa hal yang seharusnya masih menjadi tanggungan beasiswa,” kata dia.

Sementara mengenai saldo rekening, Veronica memastikan jika hal itu masih dalam batas nominal yang wajar sebagai pengacara yang juga kerap melakukan penelitian.

“Bahwa tentu betul saya menarik uang di Papua ketika saya berkunjung ke Papua, dengan nominal yang sewajarnya untuk biaya hidup sehari-hari. Bahwa saya hanya pernah ke Surabaya sekali dalam seumur hidup saya, selama 4 hari, yaitu ketika pendampingan aksi 1 Desember 2018 bagi klien saya AMP," ucap dia

"Saya tidak ingat bila pernah menarik uang di Surabaya. Apabila saya sempat pun ketika itu, saya yakin maksimal hanya sejumlah batas sekali penarikan ATM untuk biaya makan dan transportasi sendiri,” timpal Veronica.

Oleh sebab itu, dirinya menganggap pemeriksaan rekening pribadi tidak ada sangkut pautnya dengan tuduhan pasal yang disangkakan kepadanya sehingga ini adalah bentuk penyalahgunaan wewenang kepolisian, apalagi kemudian menyampaikannya ke media massa dengan narasi yang teramat berlebihan.

Baca Juga: Polisi Temukan Dana Besar Masuk ke Rekening Veronica Koman 

“Waktu dan energi yang negara ini alokasikan untuk menyampaikan propaganda negatif selalu jauh lebih besar ketimbang yang betul-betul digunakan untuk mengusut dan menyelesaikan pelanggaran HAM yang saat ini terjadi di Papua. Secara terang benderang, kita melihat metode ‘shoot the messenger’ sedang dilakukan aparat untuk kasus ini. Ketika tidak mampu dan tidak mau mengusut pelanggaran/kejahatan HAM yang ada, maka seranglah saja si penyampai pesan itu,” jelas dia.

“Papua adalah salah satu wilayah yang paling ditutup di dunia ini. Dan kembali saya tegaskan, kriminalisasi terhadap saya adalah rangkaian dari upaya negara untuk terus membungkam informasi yang keluar dari Papua,” tutupnya.

Hingga berita ini dibuat, belum ada konfirmasi dari pihak kepolisian terkait penyataan Veronica Koman yang membantah segala tudingan atas kasusnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini