Cerita Umar Jaya, Pembunuh Bayaran Legendaris Paling Sadis di Indonesia

Rus Akbar, Okezone · Sabtu 14 September 2019 11:01 WIB
https: img.okezone.com content 2019 09 13 337 2104656 cerita-umar-jaya-pembunuh-bayaran-legendaris-paling-sadis-di-indonesia-ORMnHxnmRd.jpg Umar Jaya (Foto: Okezone/Rus Akbar)

Satu jam lebih penggeledahan dilakukan dilanjutkan penggeladahan di rumahnya di Palapa Saiyo, Nagari Sungai Buluah, Kecamatan Batang Anai, Kabupaten Padang Pariaman. Rumahnya ini sudah lama dia tinggal dan polisi sudah mengetahui keberadaan rumah di Palapa ini, namun rumahnya di Air Pacah itu merupakan lokasi persembunyiannya.

Rumah kedua di Palap ini hanya menyita beberapa barang bukti lainnya seperti surat-surat kendaraan. “Ada sekitar 10 surat kendaraan kita temukan di dua rumah ini, kita mencurigai dia memakai mobil untuk merampok, atau dia melakukan pencurian dengan pecah kaca mobil, saat ini masih kita kembangkan,” kata Kanit Buser, Polres Limapuluh Kota pada saat itu masih dijabat Bripka Mansyurdin Nduru dilokasi penggeladahan.

Setelah melakukan penggedalah tersangka langsung dibawa ke Polres Limapuluhkota bersama dengan barang bukti yang disita. Umar Jaya merupakan komplotan perampok yang sudah terkenal dengan jajaran perampokan sadis di Sumbar, Riau, Jambi dan Bengkulu.

Menurut Kanit Buser Polres Limapuluh Kota, Bripka Mansyurdi Nduru, kalau kasus yang jelas saat ini Umar Jaya merupakan DPO telah melakukan perampokan bersama delapan orang kompolotannya di rumah Salim pemilik mesin giling padi Nagari Guguak VII Koto Talago, Kecamatan Guguak, Kabupaten Limapuluh Kota pada 18 Agutus silam.

“Dalam kasus itu dia merampok 200 emas dan uang tunai Rp90 juta, saat itu korban sedang melakukan shalat di mesjid, yang sudah ditangkap itu tujuh orang, lima pelaku utama dan dua orang pendukungnya jadi total yang terlibat kasus itu sembilan orang,” ujarnya, Kamis

Kesembilan pelaku itu adalah, Umar Jaya yang baru ditangkap, ‘UT’ masih buronan, sementara yang sudah ditangkap ‘MS’, ‘SH’, ‘RC’, ‘SS’, ‘MC’, mereka ini yang melakukan perampokan langsung, sementara ‘IG’ pelaku ini melakukan pengintaian dan seorang perempuan berinisial ‘EM’ menyediakan tempat untuk mengatur strategi. “Perempuan ini merupakan salah satu istri pelaku perampokan dan mendapatkan jatah dari hasil rampokan tersebut,” ujarnya.

Umar Jaya (Foto: Okezone/Rus Akbar)

Tertangkapnya pembunuh bayaran, Umar Jaya, membuat polisi harus bekerja keras untuk mengungkap kasus pembunuhan pada 1996 silam. Umar, diduga tergabung dalam pembunuhan Djusma, istri Amran, ketua Yayasan Baiturrahmah Padang.

Anak tunggal korban, Retno Yelvi merasa terkejut. Yang menjadi tanda tanya selama puluhan tahun, akhirnya menemui titik terang. Dari dulu dia curiga, kematian ibunya banyak kejanggalan. Berbeda dengan keterangan kepolisian waktu itu yang menyatakan kejadian murni pembunuhan karena perampokan.

”Jika dikatakan perampokan, seharusnya ada barang berharga yang hilang. Namun saat diperiksa tidak ada. Pintu dan jendela tidak ada yang rusak. Sejak saat itu saya selalu bertanya-tanya. Ditangkapnya Umar Jaya, mulai menjawab teka-teki. Terbunuhnya ibu saya, karena ada yang membayarnya,” kata Retno Yelvi, Jumat (18/9/2015).

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini