nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Cerita Umar Jaya, Pembunuh Bayaran Legendaris Paling Sadis di Indonesia

Rus Akbar, Jurnalis · Sabtu 14 September 2019 11:01 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 09 13 337 2104656 cerita-umar-jaya-pembunuh-bayaran-legendaris-paling-sadis-di-indonesia-ORMnHxnmRd.jpg Umar Jaya (Foto: Okezone/Rus Akbar)

PADANG - Masih ingat buronan kelas kakap Umar Jaya atau Nayau yang ditangkap pada pada Kamis 17 September 2015 silam oleh Ditres Narkoba Polda Sumbar yang awalnya ditangkap pada saat transaksi narkoba jenis sabu di parkiran RS Siti Rahma Padang dengan transaksi senilai Rp25 juta.

Namun pada saat itu ternyata narkoba yang diserahkan kepada kepolisian yang menyamar sebagai pembeli tersebut ternyata garam, namun polisi tidak melepas begitu saja, setelah dilakukan pelacakan tentang sepak terjang pelaku ini ternyata dia merupakan pembunuh bayaran dan perampok sadis di beberapa lokasi di Sumatera Barat termasuk antar provinsi.

“Dia ini masuk jaringan komplotan perampok antar provinsi, Sumbar, Riau, Jambi dan Bengkulu, mungkin dia juga buronan polisi di provinsi lain, tapi untuk saat ini dia merupakan buronan Polres Limapuluh Kota,” ujar Kabag Bin Ops Dit Res Narkoba Polda Sumbar AKBP M Yasli pada saat itu.

Infografis Pembunuh Bayaran (Foto: Okezone)

Pada saat interogasi Umar Jaya ini mengaku pembunuhan yang dilakukan di Damar Padang dengan korban salah satu pemilik Universitas Baitrahmah Padang dan Ana pembantunya pada Januari 1996 merupakan suruhan atau bayaran.

“Saat itu saya dibayar Rp100 juta untuk membunuh korban, dan kami melakukan empat orang, Eko, Epi Samsul membunuh, Andi jaga diluar dan saya (Umar) sopir, masing-masing kami dibayar dengan sama,” ujar Umar.

Polisi sudah berhasil menangkap Eko, Epi Samsul keduanya sudah meninggal karena sakit, sementara Andi sudah bebas. “Umar Jaya ini tidak akan segan-segan membunuh korban kalau kedapatan, di kasus perampokan di Bukittinggi dia ditangkap dan dihukum 11 tahun penjara baru pada tahun 2011 keluar,” kata Yasli.

Umar Jaya (Foto: Okezone/Rus Akbar)

Setelah bebas dari penjara Umar ini kembali melakukan aksi penjambretan di beberapa titik dan paling sadis itu di Kota Payahkumbuh korban jambret ini meninggal dunia. Kemudan perampokan juga dilakukan bersama komplotannya di Jambi dengan korban 1 orang dan melarikan uang Rp80 juta.

“Baru pada akhir tahun 2014 Umar Jaya bersama tujuh orang kawanan dengan merampok emas 500 gram dan uang Rp90 juta, kasus inilah yang menjadikan Umar Jaya sebagai buronan Polres Limapuluh Kota,” kata Yasli.

Lanjut Yasli dia masih memiliki kasus-kasus lain yang masih dikembangkan pihak kepolisian, misalnya maling dan pencurian uang dalam mobil serta beberapa perampokan lainnya. “Jadi dia setiap tempat ada kawanannya, kalau dia ke kabupaten lain dia juga ada kawananya, setiap aksi beda teman. Kini kasusnya kita serahkan ke Polres Payahkumbuh untuk di kembangkan,” ujarnya.

Karena tidak terbukti kasus sabu dini hari tadi Polda Sumbar menyerahkan Umar Jaya ke Polres Payahkumbuh untuk pengembangan kasus berikutnya.

Umar Jaya ini dulu merupakan warga Perumahan Palapa Saiyo, Nagari Sungai Buluah, Kecamatan Batang Anai, Kabupaten Padang Pariaman pembunuh bayaran dan perampok sadis ternyata memiliki dua rumah di dua wilayah.

Hal itu terungkap ketika Polda Sumatera Barat menyerahkan Umar Jaya ini kepada Polres Limapuluh Kota ini dua tim langsung menggeledah rumahnya di kawasan Perumahan Nuansa Indah 3, Kelurahan Air Pacah, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang Sumatera Barat.

Tersangka Umar Jaya ini dibawa polisi ke rumahnya yang dikontrak, saat penggeledahan rumahnya ini ternyata istri Umar Jaya ada dalam rumah. Berdasarkan pengakuan istrinya dia tahu rumah yang dikontrak suaminya ini pada bulan Juli lalu atau bulan puasa, Umar ini sering datang ke sini sendiri kadang dia juga tidur sendiri.

“Tadi sore kami datang kesini, kemudian suami saya pergi,” kata istrinya pada polisi.

Umar Jaya (Foto: Okezone/Rus Akbar)

Ketika pergi itulah terjadi transaksi sabu di RS Siti Rahma yang akhirnya diketahui bahwa sabu yang diserahkan kepada pihak kepolisian hanya garam dapur dan lokasi transaksi dengan lokasi persembunyian dengan transaksi narkoba itu sejauh 3 kilometer.

Saat penggeladahan dilakukan banyak ditemukan tas laptop yang sudah kosong, dan beberapa surat-surat kendaraan roda empat dan roda dua. Awalnya polisi mencurigai lokasi persembunyiannya yang tergolong sepi ini Umar menyimpan senjata api berupa pistol FN dan senjata laras panjang AK-47, namun tidak ditemukan.

Hanya tas-tas dan pakaiannya serta STNK yang disita, polisi mencurigai surat-surat kendaraan ini merupakan kasus pencurian kendaraan dan pencurian uang dalam mobil.

Satu jam lebih penggeledahan dilakukan dilanjutkan penggeladahan di rumahnya di Palapa Saiyo, Nagari Sungai Buluah, Kecamatan Batang Anai, Kabupaten Padang Pariaman. Rumahnya ini sudah lama dia tinggal dan polisi sudah mengetahui keberadaan rumah di Palapa ini, namun rumahnya di Air Pacah itu merupakan lokasi persembunyiannya.

Rumah kedua di Palap ini hanya menyita beberapa barang bukti lainnya seperti surat-surat kendaraan. “Ada sekitar 10 surat kendaraan kita temukan di dua rumah ini, kita mencurigai dia memakai mobil untuk merampok, atau dia melakukan pencurian dengan pecah kaca mobil, saat ini masih kita kembangkan,” kata Kanit Buser, Polres Limapuluh Kota pada saat itu masih dijabat Bripka Mansyurdin Nduru dilokasi penggeladahan.

Setelah melakukan penggedalah tersangka langsung dibawa ke Polres Limapuluhkota bersama dengan barang bukti yang disita. Umar Jaya merupakan komplotan perampok yang sudah terkenal dengan jajaran perampokan sadis di Sumbar, Riau, Jambi dan Bengkulu.

Menurut Kanit Buser Polres Limapuluh Kota, Bripka Mansyurdi Nduru, kalau kasus yang jelas saat ini Umar Jaya merupakan DPO telah melakukan perampokan bersama delapan orang kompolotannya di rumah Salim pemilik mesin giling padi Nagari Guguak VII Koto Talago, Kecamatan Guguak, Kabupaten Limapuluh Kota pada 18 Agutus silam.

“Dalam kasus itu dia merampok 200 emas dan uang tunai Rp90 juta, saat itu korban sedang melakukan shalat di mesjid, yang sudah ditangkap itu tujuh orang, lima pelaku utama dan dua orang pendukungnya jadi total yang terlibat kasus itu sembilan orang,” ujarnya, Kamis

Kesembilan pelaku itu adalah, Umar Jaya yang baru ditangkap, ‘UT’ masih buronan, sementara yang sudah ditangkap ‘MS’, ‘SH’, ‘RC’, ‘SS’, ‘MC’, mereka ini yang melakukan perampokan langsung, sementara ‘IG’ pelaku ini melakukan pengintaian dan seorang perempuan berinisial ‘EM’ menyediakan tempat untuk mengatur strategi. “Perempuan ini merupakan salah satu istri pelaku perampokan dan mendapatkan jatah dari hasil rampokan tersebut,” ujarnya.

Umar Jaya (Foto: Okezone/Rus Akbar)

Tertangkapnya pembunuh bayaran, Umar Jaya, membuat polisi harus bekerja keras untuk mengungkap kasus pembunuhan pada 1996 silam. Umar, diduga tergabung dalam pembunuhan Djusma, istri Amran, ketua Yayasan Baiturrahmah Padang.

Anak tunggal korban, Retno Yelvi merasa terkejut. Yang menjadi tanda tanya selama puluhan tahun, akhirnya menemui titik terang. Dari dulu dia curiga, kematian ibunya banyak kejanggalan. Berbeda dengan keterangan kepolisian waktu itu yang menyatakan kejadian murni pembunuhan karena perampokan.

”Jika dikatakan perampokan, seharusnya ada barang berharga yang hilang. Namun saat diperiksa tidak ada. Pintu dan jendela tidak ada yang rusak. Sejak saat itu saya selalu bertanya-tanya. Ditangkapnya Umar Jaya, mulai menjawab teka-teki. Terbunuhnya ibu saya, karena ada yang membayarnya,” kata Retno Yelvi, Jumat (18/9/2015).

Setelah mendengar adanya tangkapan, Retno langsung datang ke lokasi penahanan sambil menunggu Polres Limapuluh Kota di samping Kantor Dinas Peternakan Sumbar jalan Rasuna Said Padang. Dia mendengar langsung pengakuan Umar malam itu. Retno Yelvi mendengar, Umar menyebut, disuruh untuk membunuh. Umar mengaku menerima uang Rp100 juta dari rekannya yang saat ini disebut sudah meninggal.

”Logikanya, jika dia menerima uang, uang itu siapa yang kasih. Saat kejadian tidak ada barang yang hilang. Diduga ada aktor di balik semua ini. Saya berharap kepada kepolisian agar membuka kembali kasus ini. Apa motifnya, dan siapa aktor dan dalangnya bisa terungkap,” kata Retno Yelvi.

Sebelum kejadian, keluarganya tidak ada masalah dengan orang lain. Sehingga motif di balik semua ini menjadi membingungkan dan menjadi pertanyaan. “Papa saya punya istri 4 dan hubungan kami baik-baik saja. Begitu juga dengan orang lain. Setahu saya tidak ada masalah. Namun 3 bulan sebelum kejadian ada persoalan terkait pengalihan akta yayasan, ibu saya sebagai bendahara yayasan dan saya sebagai sekretaris tidak setuju. Sehingga akhirnya batal,” ujar Retno.

Menurut Retno, pada saat kejadian, dia bersama keluarganya berdomisili di Jakarta. Sedangkan ibunya tinggal di rumah di kawasan Damar bersama dengan seorang pembantu. Pagi itu dia mendapat kabar, rumah ibunya dirampok. Mengakibatkan ibu kandung bersama dengan pembantunya meninggal dibunuh oleh kawanan perampok.

”Saya langsung terbang ke Padang. Siang harinya dan langsung ke rumah sakit M Djamil Padang. Di sana ibu saya bersama dengan pembantu menjalani visum dan sore harinya dikebumikan,” kata Retno Yelvi.

Retno menceritakan, saat ditemukan, ibunya dalam kondisi mulut tersumpal kain, tangan dan kaki terikat dengan kain gorden, di depan kamar pembantunya. “Sedangkan pembantu saya ditemukan di atas tempat tidur, mulutnya disumpal dengan kain. Wajahnya ditutupi dengan selimut. Pakaiannya acak-acakan. Diduga pelaku juga memperkosanya,” ungkap Retno.

Retno menuturkan, kejadian pertama kali diketahui oleh Kepala TK, Nurmi (40) waktu itu, sekitar pukul 08.00 WIB. TK tepat di depan rumah korban yang bermaksud menghidupkan stop kontak aliran listrik ke sekolah.

”Nurmi kemudian bertemu dengan Anjang penjaga TK, yang juga hendak memasak air di dapur bagian belakang luar rumah. Kemudian mengetuk pintu, namun tak ada sahutan. Nurmi melihat pintu sedikit terbuka, dan mendorongnya, dan masuk. Ditemukan ibu dan pembantu saya sudah meninggal,” ungkap Retno.

Puluhan tahun menjadi tanda tanya bagi keluarga, terkait motif dan yang melatarbelakangi pelaku tega membunuh Djusma. Korban ditemukan meninggal bersama dengan pembantunya Aan di dalam rumahnya, Jalan Damar I no 14, Kecamatan Padang Barat. Tragedi itu terjadi tepatnya pada bulan puasa, Sabtu, 27 Januari 1996.

Pascatragedi berdarah itu, dua orang pelaku telah ditangkap oleh polisi dan dipenjara. Namun tidak memberikan titik terang siapa aktor di balik semua ini. Tertangkapnya Umar Jaya diharapkan membuka tabir gelap itu.

1
4

Berita Terkait

Liputan Khusus

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini