nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

9 Pembunuh Bayaran Paling Mengerikan di Indonesia dalam 2 Dekade Terakhir

Demon Fajri, Jurnalis · Sabtu 14 September 2019 09:01 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 09 13 337 2104464 9-pembunuh-bayaran-paling-mengerikan-di-indonesia-dalam-2-dekade-terakhir-8dHuLtL2FL.jpg Ilustrasi

MENDENGAR kata pembunuh bayaran, mungkin sudah tidak asing bagi masyarakat Indonesia. Pekerjaan sebagai pembunuh pembayaran acap kali terlihat di film-film action.

Namun, pekerjaan itu tidak hanya berlaku di dunia film aksi. Pekerjaan pembunuh bayaran juga ada ditemukan di lingkungan masyarakat di Indonesia. Pekerjaan itu dilakoni guna pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari.

Pembunuh bayaran terkadang tidak hanya bekerja sendiri. Namun, pekerjaan ini juga bisa dikerjakan secara bersama-sama. Sebab pekerjaan sebagai pembunuh bayaran musti bekerja dengan rapi serta sulit untuk di lacak penegak hukum.

Selain itu, mereka juga merencanakan pembunuhan dengan matang dan melebur dengan masyarakat, serta banyak teknik sadis untuk menyelesaikan pekerjaan mereka.

Lalu bagaimana pembunuh bayaran sadis di Indonesia, dalam kurun dua dekade terakhir? Berikut daftar kasus pembunuhan sadis dari berbagai sumber yang diperoleh Okezone.

1. Umar Jaya

Umar Jaya (Foto: Okezone/Rus Akbar)

Pria ini merupakan salah satu pembunuh bayaran di provinsi Sumatera Barat. Umar diketahui telah menghabisi nyawa pemilik salah satu kampus di Sumatera Barat, pada tahun 1996.

Pekerjaan itu umar lakukan bersama rekan-rekannya. Saat ini rekan Umar sudah meninggal dunia. Dalam kejadian itu Umar menjalani hukuman penjara selama 11 tahun dan baru menghirup udara bebas pada 2011.

Tidak hanya membunuh. Umar juga diketahui pernah beberapa kali tersandung kasus perampokan. Dalam aksinya Umar kerap membunuh korbannya dengan sadis dan kejam.

2. Iwan Cepi Murtado

Iwan Cepi Murtado (Foto: Ist)

Berbeda Umar asal Sumatera Barat. Iwan merupakan salah satu pembunuh bayaran berdarah dingin. Kasus yang dilakukan Iwan sempat membuat Indonesia gempar.

Iwan diketahui beberapa kali telah melakukan pembunuhan pengusaha kaya. Di mana Iwan menjadi suruhan para pembesar di negeri ini. Iwan dikenal sangat lihai dalam membidik korbannya.

Sebelum melakukan pekerjaannya, Iwan terlebih dahulu mengamati calon korbannya jauh-jauh hari sebelumnya. Bahkan, Iwan mempelajari gerak-gerik calon korban yang akan menjadi sasarannya.

Setelah mengetahui secara rinci calon korbannya, Iwan langsung mengeksekusi calon korban hingga tewas.

3. Mulawarman

Kasus pembunuhan juga sempat menghebohkan rakyat Indonesia. Di mana Hakim Agung, MA, Syarifuddin Kartasasmita menjadi korban pembunuhan. Syarifuddin dibunuh oleh Mulawarman yang merupakan pembunuh bayaran.

Kejadian itu terjadi pada tahun 2001. Pada kejadian itu Syaifuddin Kartasasmita, meninggal dunia setelah ditembak oleh empat orang saat menuju ke kantornya.

Hakim Agung itu dibunuh Mulawarman bersama rekannya. Kasus pembunuhan itu terjadi lantaran adanya kasus tukar guling Goro Batara Sakti yang masuk dalam Yayasan Soeharto.

Diketahui, pembunuh dari Hakim Agung Syarifuddin Kartasasmita dilakukan oleh dua orang, Mulawarman dan Bob Hasan. Keduanya, melakukan pekerjaan atas perintah anak Soeharto.

Berangkat dari kasus tersebut, pengadilan memvonis Tommy Soeharto bersalah dengan hukuman penjara 15 tahun.

4. Gunawan Santoso

Gunawan Santoso (Foto: Ist)

Gunawan Santoso merancang dalam kasus pembunuhan terhadap Boedyharto Angsono. Gunawan merancang pembunuhan dengan sangat mengerikan. Di mana rancangan pembunuhan itu untuk menghabisi nyawa mantan mertuanya sendiri.

Hal tersebut Gunawan lakukan karena sakit hati dipenjarakan oleh mertuanya dalam kasus penggelapan uang. Setelah dipenjara, Gunawan sempat melarikan diri dan face off.

Gunawan bersembunyi dan merencanakan pembunuhan terhadap mertuanya. Dari rencana yang telah dibuat, mertuanya pun dieksekusi secara mengerikan.

Di mana mertuanya Boedyharto Angsono, dibunuh dengan cara ditebak dari jarak jauh. Eksekusi itu melibatkan empat marinir yang disewa Gunawan Santoso.

Kasus tersebut terjadi pada 19 Juli 2003. Di mana Boedyharto Angsono merupakan Direktur Utama PT Aneka Sakti Bhakti (PT. Asaba).

Sebelum Boedyharto, anak buahnya lebih dahulu menjadi sasaran pembunuhan, Paulus Teja Kusuma. Paulus adalah Direktur Keuangan PT. Asaba.

Di mana Paulus ditembak dua orang pengendara motor di jalan Angkasa Jakarta Pusat, di depan Hotel Golden, pada 6 Juni 2003. Paulus ditembak pembunuh bayaran yang menembakkan peluru ke dada dan leher Paulus. Namun, Paulus selamat dari maut.

Pada 19 Juli 2003 atau enam pekan setelah penembakan Paulus. Giliran Boedyharto yang saat itu bersama pengawal pribadinya, Serda Edy Siyep, anggota Kopassus yang ditembak pembunuh bayaran.

Keduanya ditembak mati sekira pukul 05.30 WIB, di depan lapangan basket Gelanggang Olahraga Sasana Krida Pluit, Jakarta Utara.

5. Eduardus Ndopo Mbete

Pada tahun 2009, kasus pembunuhan dialami Nasrudin Zulkarnaen, Direktur BUMN PT Putra Rajawali Banjaran (PRB). Dalam kasus ini melibatkan orang besar, Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Antasari Azhar.

Nasrudin ditembak mati usai main golf di Modernland, Tangerang, pada Sabtu 14 Maret 2009. Di mana dalam kasus ini melibatkan eksekutor yang disewa.

Eksekutor itu Eduardus Ndopo Mbete, Hendrikus Kia Walen, Daniel Daen Sabon dan Heri Santoso. Mereka disewa Wiliardi melalui Jerry Hermawan Lo.

6. Jhon Kei

Jhon Kei (Foto: Okezone)

Tan Harry Tantono adalah bos PT Sanex Steel. Pengusaha yang akrab disapa Ayung ini menjadi korban pembunuhan sadis. Di mana kasus ini terjadi pada tahun 2012.

Tan Harry meninggal dunia dengan luka tusuk di sekujur tubuhnya di kamar 2701 Swiss-Bel Hotel, Jakarta Pusat. Kasus pembunuhan ini terjadi pada Kamis 26 Januari 2012, dengan melibatkan belasan orang kelompok Kei.

Kelompok Kei terkenal sebagai pentolan dalam bisnis pengawalan, jasa pengamanan dan penagihan utang di ibu kota.

John Kei divonis Pengadilan Negeri, Jakarta Pusat dengan 12 tahun penjara dan dua rekannya masing-masing divonis 1,5 tahun penjara. Namun, di tingkat Kasasi Mahkamah Agung menambah hukuman John Kei menjadi 16 tahun penjara.

7. Gatot Supiartono

Kasus pembunuhan juga menimpa Holly Angela Hayu Winanti. Kasus ini terjadi pada tahun 2013. Korban dibunuh di lantai 9 AT Tower Ebony, Kalibata City, Pancoran, Jakarta Selatan.

Dalam kasus pembunuhan istri siri pejabat Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) itu melibatkan dua eksekutor yang mendapatkan bayaran Rp40 hingga Rp50 juta. Dua eksekutor itu disewa suami siri Holly, Gatot Supiartono pejabat BPK.

8. Supriadi dan Wahyudin

Pembunuh bayaran satu ini bernama Supriadi. Pria ini berasal dari kabupaten Tanah Laut provinsi Kalimantan Selatan.

Selain Supriadi, pembunuh bayaran lainnya yang berasal dari kabupaten Tanah Laut provinsi Kalimantan Selatan, bernama Wahyudin. Mereka berdua adalah karyawan di salah satu perusahaan swasta Kalimantan Selatan.

Mereka berdua menghabisi nyawa pengusaha atas nama Samir asal kabupaten Berau. Untuk menghabisi nyawa korbannya mereka mendapatkan imbalan Rp50 juta.

Usai menghabisi nyawa korbannya, mereka membuang jenazah korban ke hutan di kawasan Mayang Mangurai kabupaten Berau.

Enam pembunuh bayaran diatas sempat menghebohkan masyarakat Indonesia. Di mana korbannya dibunuh secara mengerikan. Sebab sebelum melancarkan aksinya mereka merancang secara matang untuk menghabisi nyawa korbannya.

9. Kasus Aulia Kesuma

Pembunuh Bayaran Aulia Kesuma

Pada Minggu 25 Agustus 2019, masyarakat Indonesia sempat dihebohkan ditemukannya M Adi Pradana alias Dana dan Edi Chandra Purnama alias Pupung Sadili yang tewas terbakar dalam mobil. Kejadian itu terjadi di Cidahu Sukabumi, Jawa Barat.

Di balik tewasnya korban, tidak terlepas dari keterlibatan dari orang dekat dari korban. Aulia Kesuma, namanya. Aulia merencanakan pembunuhan terhadap korbannya dengan menyewa empat pembunuh bayaran.

Dugaan pembunuhan itu diduga beratnya beban cicilan utang yang musti dibayar setiap bulan mencapai Rp200 juta dari total utang Rp10 miliar didua bank.

Dalam kasus itu Aulia meminta korban Pupung Sadili untuk menjual rumahnya yang ditaksir senilai Rp26 miliar di Lebak Bulus Jakarta Selatan. Hal tersebut untuk membayar utang Aulia Kesuma. Sayangnya hal tersebut ditolak korban.

1
4

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini