nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Di Tangan BJ Habibie Indonesia Jadi Negara Islam yang Demokratis

Arie Dwi Satrio, Jurnalis · Kamis 12 September 2019 15:28 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 09 12 337 2104014 ditangan-bj-habibie-indonesia-jadi-negara-islam-yang-demokratis-gungJuujxM.jpg BJ Habibie (Foto: Kemenristekdikti)

JAKARTA - ‎Anggota DPR terpilih dari Fraksi NasDem, Charles Meikyansyah mengaku kaget setelah mendapat kabar meninggalnya Presiden ketiga Republik Indonesia, Bacharuddin Jusuf Habibie. Kata Charles, Indonesia kehilangan bapak bangsa atas wafatnya BJ Habibie.

"Kita kehilangan bapak bangsa yang selama ini menjadi panutan. Innailahi, Pak Habibie," ucap Charles melalui pesan singkatnya, Kamis (12/9/2019).

Menurut Charles, bangsa Indonesia perlu mempelajari ‎keteladanan, pemikiran, serta sikap BJ Habibie untuk mengenang jasa-jasanya.‎ Sebab, Habibie merupakan tokoh yang meletakkan pondasi demokrasi untuk Indonesia.

‎"Bacharuddin Jusuf Habibie meletakkan pondasi institusionalis yang demokratis. Ini yang menurut saya achivement paling besar pak Habibie bagi bangsa dibanding sebagai bapak teknologi yang selama ini menjadi bencmark bagi Pak Habibie," ucapnya.

Selain itu, Charles juga mengenang sosok Habibie ‎sebagai tokoh yang paling bersar memajukan demokrasi untuk Indonesia di mata dunia. Ditangan Habibie, kata Charles, banyak merubah Indonesia ke arah yang lebih baik.

"Ditangan pak Habibie, Indonesia melangkah menjadi negara islam yang demokratis paling besar di dunia," ujar Charles.

"Ditangan pak Habibie, Indonesia memulai desentralisasi dari sebelumnya sentralisasi kekuasaan membuat Jakarta sangat dominan dalam menentukan arah politik dan pembangunan di Indonesia," imbuhnya.

Ditambahkan Charles, salah satu keputusan politik terbesar Habibie dalam proses demokrasi yakni mengeluarkan UU Nomor 22 Tahun 1999 dan UU Nomor 25 Tahun 1999 tentang perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan daerah yang menandai era baru desentralisasi kekuasaan.

"Desentralisasi, terlepas dari kelemahanya, merupakan eksperimen institutional building yang paling sukses dalam proses demokratisasi di Indonesia," sambungnya..

Kemudian, katanya, salah satu penghargaan paling bersejarah untuk Habibie yakni melahirkan kebebasan pers.‎ Berkat lahirnya UU Nomor 40 tahun 1999 tentang Pers, Indonesia dapat memperoleh dan menyebarkan informasi dengan mudah.

"Bagaimanapun juga, berkat kebebasan pers, demokratisasi mampu berjalan selama dua dekade dengan capaian yang menggembirakan meskipun masih banyak yang harus diperbaiki. Kebebasan pers adalah salah satu pilar penting pembangunan demokratisasi. Tanpa kebebasan pers, demokrasi yang bermutu adalah omong kosong," katanya.

Sekadar informasi, Presiden ketiga Republik Indonesia, Bacharuddin Jusuf Habibie menghembuskan nafas terakhirnya di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto, Jakarta Pusat, pada Rabu, 11 September 2019. Habibie‎ meninggal pada pukul 18.05 setelah dilakukan perawatan intensif.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini