nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

IPW: Oknum KPK Pakai Jurus Pendekar Mabuk Cegah Firli Jadi Pimpinan

Amril Amarullah, Jurnalis · Kamis 12 September 2019 08:35 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 09 12 337 2103817 ipw-oknum-kpk-pakai-jurus-pendekar-mabuk-cegah-firli-jadi-pimpinan-oPKDE5FC8x.JPG Ketua Presidium IPW, Neta S Pane. (Dok Okezone)

JAKARTA – Indonesia Police Watch (IPW) menilai, oknum KPK mulai pakai jurus pendekar mabuk untuk mencegah Irjen Firli Bahuri jadi ketua KPK, sehingga mereka melakukan berbagai manuver politik pembunuhan karakter tanpa fakta hukum, dengan menggelar berbagai aksi dan jumpa pers.

“Dari semua capim KPK hanya ada dua orang yang ditakutkan oknum KPK, dua-duanya dari Polri, yakni Antam dan Firli. Antam sudah gugur dan oknum-oknum KPK merasa sudah menang dan mereka tinggal menghadapi Firli dengan berbagai tuduhan dan fitnah,” kata Ketua Presidium IPW, Neta S Pane, dalam keterangannya, Kamis (12/9/2019).

Ia melanjutkan, ironisnya dalam jumpa persnya oknum-oknum KPK tersebut tidak menyebutkan bukti-bukti tuduhan mereka secara konkret, misalnya kapan sidang etik pernah dilakukan terhadap Firli, apa keputusan sidang etik itu, dan nomor berapa surat keputusan sidang etik itu. “Sehingga IPW menilai jumpa pers oknum-oknum KPK itu hanya sebuah manuver politik pembunuhan karakter untuk mengganjal Firli menjadi ketua KPK,” ucapnya.

Dari penelusuran pihaknya, ada dua masalah yang dituduhkan oknum KPK terhadap Firli, yaitu pertemuannya dengan TGB dan pertemuan dengan pejabat BPK. “Dalam kasus ketemu dengan TGB, Firli sudah menjelaskan kepada 5 pimpinan KPK bahwa TGB bertemu dengannya di lapangan tenis. Hal itu juga sudah dijelaskan Firli kepada pansel,” katanya.

IPW juga berharap Komisi III menanyakan kedua hal ini kepada Firli dalam uji kepatutan capim KPK.

RDP Komisi III DPR dengan Pansel Capim KPK (foto : Okezone.com/Harits)

Sebab dalam penjelasannya kepada Pansel, kata Neta, Firli pernah menjelaskan bahwa dirinya bertemu TGB di lapangan tenis dan tidak mengadakan hubungan, tapi kebetulan TGB juga datang ke lapangan tenis saat Firli tenis dengan Danrem pada 13 Mei 2018. Saat itu TGB bukan tersangka atau belum statusnya tersangka. Saat bertemu juga tidak ada pembicaraan terkait perkara divestasi Newmont oleh PT DMB (BUMD NTB) dan PT Multicapital (milik Bumi Rechourches Nirwan Bakri) dan PT Recapital (milik Rosan Roslani). Faktanya hingga kini KPK tidak pernah memproses kasus Newmont sebagai perkara korupsi.

Pada 6 Agustus 2018 dilakukan expose perkara Newmont dan saat itu Firli tidak ikut mengambil keputusan karena dia tidak mau terjadi conflict of interest. Hasil putusan pimpinan KPK saat itu adalah perlu diexpose bersama BPKP dan hal itu sudah dilaksanakan, dari KPK dipimpin Alex Marwata.

“Kesimpulannya sepakat untuk dilakukan audit menyeluruh, namun perlu dikoordinasikan dengan BPK karena BPK pernah mengaudit PT Newmont. Selanjutnya diexpose di BPK dan dipimpin Nyoman Wara dan disepakati audit menyeluruh,” katanya.

Neta menjelaskan, tapi anehnya, sampai sekarang audit belum dilaksanakan BPK karena KPK tidak memberikan dokumen-dokumennya kepada BPKP maupun BPK sehingga sampai saat ini perkara Newmont dan TGB tidak jelas nasibnya, pelaksanaan auditnya apakah oleh BPK atau BPKP juga tidak jelas karena dokumen-dokumennya masih “disandera” KPK.

Ia menjelaskan, pada 22 Oktober Firli dimintai keterangan oleh Pengawas internal terkait pertemuan dengan TGB di lapangan tenis. Hal ini sudah diklarifikasi pimpinan KPK tanggal 19 Maret 2019 jam 17.00 WIB di ruang rapat pimpinan dan 5 pimpinan KPK hadir.

“Semua pimpinan KPK itu bicara dan tidak ada satu pun pimpinan yang mengatakan ada pelanggaran etik yang dilakukan Firli. Kelima pimpinan KPK hanya memberikan nasehat pada Firli. Bahkan saat itu Agus Rahardjo memberikan penjelasan Firli ke NTB sudah izin dan tidak ada yang dilanggarnya. Saat itu semua pimpinan KPK berpendapat kasus itu sudah selesai,” ujarnya.

Capim KPK Irjen Firli Bahuri. (Foto : Okezone.com/Harits Tryan Akhmad)

Ia menyampaikan, fakta-fakta ini sudah dijelaskan Firli di depan pansel saat uji publik. Bahkan saat itu Firli menyampaikan dirinya tidak ingin menjadi beban Pansel, jika dirinya memang dinilai tidak memenuhi syarat maka jangan diluluskan. Nyatanya Pansel meloloskannya.

Dari penelusuran IPW, dalam kasus TGB, Firli tidak melanggar etik atau melanggar Pasal 36 UU No 30 Tahun 2002. Sebab itu, IPW berharap Komisi III tidak terpengaruh dengan manuver oknum-oknum KPK dan jangan mau disandera opini sesat yang dibangun oleh segelintir oknum KPK. Sebab dari penelusuran IPW sesungguhnya masih sangat banyak pegawai KPK yang menanti kehadiran Firli sebagai Ketua KPK di lantai 15 Gedung Merah Putih.

“Sedangkan oknum yang terus-menerus mem-bully Firli hanya segelintir pegawai KPK dan tuduhan mereka bahwa Firli melanggar etik tanpa disertai bukti,” ucapnya.

Terkait pertemuan dengan pimpinan BPK, dari penelusuran IPW tersimpul Firli menjemput wakil ketua BPK. Saat itu staf deputi penindakan, Jeklin dan Ayu tahu persis bahwa Bahrul Akbar Wakil Ketua BPK datang ke KPK dan di ruangan Firli tidak lebih 3 menit.

“Ruangan dalam keadaan terbuka, saat itu Firli menyuruh Ayu untuk menghubungi penyidik dan memberitahu bahwa Bahrul Akbar sudah datang. Lalu Firli menjemput Bahrul akbar ke lobi bersama stafnya Jeklin. Firli baru tahu belakangan bahwa Bahrul Akbar dipanggil oleh penyidik Rizka setelah asprinya memberitahu. Saat itu Rizka pun datang ke ruangan Firli,” katanya.

Capim KPK Irjen Firli Bahuri. (Foto : Okezone.com/Harits Tryan Akhmad)

Menurutnya, Firli juga sudah menjelaskan hal ini kepada Pansel KPK. Kepada pansel, Firli menjelaskan ia menjemput Bahrul Akbar karena dia adalah pejabat negara, wakil ketua BPK, dan ternyata dia dipanggil penyidik KPK sebagai saksi ahli. Saat di ruangan belum ada pembicaraan terkait kepentingan Bahrul dipanggil KPK. Dalam pertemuan itu pintu ruangan terbuka sehingga staf Firli, Jeklin dan Ayu bisa mendengar dan melihat semua yang terjadi dalam pertemuan itu.


Baca Juga : Revisi UU KPK Dibawa ke Fit and Proper Test Capim, DPR Dinilai Memaksa

“Soal pertemuan ini pun sudah diklarifikasi oleh 5 pimpinan KPK. Saat itu pimpinan KPK menegaskan tidak ada masalah. Tapi anehnya kenapa sekarang oknum KPK mempermasalahkannya. Di sini terlihat oknum KPK melakukan manuver politik dan pembunuhan karakter pada Firli,” tutur Neta.


Baca Juga : Pukat UGM Soroti Fit and Proper Test Capim KPK Tanpa Panel Ahli

1
3

Berita Terkait

Pansel KPK

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini