Sinergitas TNI-Polri Diperlukan untuk Cegah Berkembangnya Sel-Sel ISIS di Papua

Fiddy Anggriawan , Okezone · Senin 09 September 2019 11:51 WIB
https: img.okezone.com content 2019 09 09 337 2102374 sinergitas-tni-polri-diperlukan-untuk-cegah-berkembangnya-sel-sel-isis-di-papua-W5PpzjZgrd.jpg Kerusuhan di Manokwari, Papua Barat (foto: Chanry A/iNews)

JAKARTA - Menteri Pertahanan (Menhan) Ryamizard Ryacudu menyebut ada kelompok terafiliasi dengan ISIS turut terlibat dalam kerusuhan di Papua. Ryamizard menuturkan kelompok yang sudah terafiliasi dengan ISIS tidak bergerak dengan terang-terangan di sana karena tidak mempunyai massa yang banyak.

Menanggapi hal itu, Pengamat Militer dan Intelijen Susaningtyas Kertopati menerangkan, sebenarnya indikasi ISIS di Papua sudah iterdeteksi sejak beberapa tahun yang lalu seiring dengan kekalahan ISIS di Timur Tengah dan pasca direbutnya kota Marawi oleh militer Filipina.

Menhan Ryamizard Hadiri Rapat Paripurna DPR RI

Baca Juga: Menhan Sebut Ada ISIS di Papua Sejak 2 Tahun Lalu 

"Para teroris melarikan diri dari kejaran aparat di seluruh dunia. Sebagian memang melakukan infiltrasi ke berbagai negara atau kawasan, salah satunya ke Papua," ucap Susaningtyas kepada Okezone, Senin (9/9/2019).

Menurut dia, para teroris masuk ke Papua dengan penyamaran melakukan dakwah atau syiar. Tetapi sesungguhnya mereka sembunyi dan menggalang penduduk yang tidak paham.

"Keberadaan mereka sudah mulai mempengaruhi cara pandang sebagian penduduk terhadap pemerintah. Sesuai tujuan para teroris ingin mengutamakan ideologi kekerasan, maka sudah menjadi tugas TNI-Polri memberantas kelompok teroris tersebut sekaligus memberangus cara berpikir yang salah," urai mangan anggota Komisi I DPR RI itu.

Hal yang perlu diantisipasi oleh TNI-Polri, kata Susaningtyas adalah kemungkinan bergabungnya kelompok teroris di Papua dengan kelompok separatis. Dia menambahkan, kemungkinan itu terbuka jika mereka bergabung untuk melawan pemerintah yang sah.

Oleh karenanya, dia mengatakan, sinergitas TNI-Polri sangat dibutuhkan utamanya penggunaan pasukan khusus untuk mendeteksi dan melakukan pencegahan berkembangnya sel-sel ISIS di Papua.

Baca Juga: Wiranto Klaim Punya Bukti Konspirasi Benny Wenda atas Kerusuhan di Papua 

"Tindakan pre-emptif dan tindakan preventif harus lebih besar porsinya dibandingkan tindakan represif mengingat isu Papua sangat mudah dipolitisasi.

Kerjasama dengan Interpol dan militer negara lain juga harus ditingkatkan untuk memperoleh data intelijen yang lebih akurat sehingga tindakan pre-emptif dan tindakan preventif dapat lebih optimal," tutur Susaningtyas.

(fid)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini