nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

BMKG: Pulau Jawa Paling Sering Dilanda Bencana Kekeringan

Sabtu 07 September 2019 20:29 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 09 07 337 2101916 bmkg-pulau-jawa-paling-sering-dilanda-bencana-kekeringan-aT74EVJdZ7.jpg Foto Ilustrasi shutterstock

SLEMAN - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat ada sejumlah wilayah dari 17 Provinsi yang terdampak kekeringan, NTB dan DIY terparah. Hal itu disebabkan karena terjadi hari tanpa hujan berturut-turut lebih dari 60 hari yang berpotensi mengalami kekeringan.

Data yang dihimpun, berdasarkan rangkuman BMKG mengenai bencana kekeringan di Indonesia selama 30 tahun, sejak 1979-2009, Jawa, menjadi pulau yang paling sering dilanda bencana kekeringan.

Berdasarkan monitoring hari tanpa hujan (HTH) berurutan umumnya wilayah DIY, terjadi dalam periode 31 hingga 60 hari. Kondisi ini berpotensi kekeringan meteorologis berkurangnya curah hujan dari keadaan normalnya dalam jangka waktu yang panjang bisa bulanan, dua bulanan, tiga bulanan.

"BMKG sudah memprediksi periode kemarau tahun 2019 ini (Mei- Oktober) akan lebih kering dibanding tahun 2018, sehingga perlu kewaspadaan dan antisipasi lebih dini dari pemerintah maupun masyarakat," kata Kepala Stasiun Klimatologi Mlati BMKG Yogyakarta, Reni Kraningtyas dalam keterangannya, seperti dilansir dari KRJogja.com.

 Kekeringan

Kekeringan yang dimaksud adalah kekeringan meteorologis yaitu berkurangnya curah hujan dari keadaan normalnya, dalam jangka waktu yang panjang (bulanan, dua bulanan, tiga bulanan).

Menurutnya, periode pancaroba peralihan musim kemarau ke musim hujan diprakirakan akan berlangsung bulan September hingga Oktober 2019.

Berkaitan dengan kondisi tersebut, maka untuk wilayah DIY diprakirakan awal musim hujan 2019/2020 umumnya diprakirakan pada November 2019. Sehingga musim hujan diprediksi akan terlambat.

 Kekeringan

"Awal musim hujan 2019/2020 diprakirakan lebih lambat 1-2 dasarian (10-20 hari)," ucapnya.

Reni mengimbau kepada masyarakat agar dapat mengantisipasi kekeringan meteorologis yang terjadi dengan bijak mengelola ketersedian air yang ada. Hal itu disebabkan ketersediaan air tanah berkurang.

"Untuk petani harus bijak menentukan pola tanam dan menentukan masa tanam. Sementara bagi masyarakat umum agar menghemat air bersih, karena ketersediaan air tanah berkurang. Tidak lupa menjaga stamina serta kesehatan pada musim kemarau, udara lebih dari pada biasanya," pungkasnya.

(wal)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini