nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Dugaan Kekerasan Terhadap Jurnalis di Papua Barat Mulai Diselidiki

Chanry Andrew S, Jurnalis · Sabtu 07 September 2019 09:01 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 09 07 337 2101787 dugaan-kekerasan-terhadap-jurnalis-di-papua-barat-mulai-diselidiki-3HeTbw9Kuz.jpg Aksi damai terkait masalah di Papua. (Foto: Chanry Andrew S/Okezone)

SORONG – Satuan tugas yang dibentuk Dewan Pers bersama organisasi kewartawanan mulai bekerja menyelidiki dugaan kekerasan terhadap jurnalis di Kota Sorong, Provinsi Papua Barat. Mereka bertugas melakukan investigasi dugaan kekerasan terhadap sejumlah jurnalis usai aksi massa terkait permasalahan rasisme yang berujung rusuh di Sorong beberapa waktu lalu.

Satgas Anti-Kekerasan Terhadap Wartawan ini dipimpin Ketua Agung Dharmajaya yang juga Ketua Komisi Hukum dan Perundang-undangan Dewan Pers. Ia mengatakan, kedatangan Satgas ke Sorong untuk melakukan penyelidikan agar masalah kekerasan terhadap warga semakin jelas.

Baca juga: AJI Jakarta Kecam Aksi Bully Terhadap Jurnalis yang Beritakan Kasus Papua

"Kami datang mencoba investigasi dalam beberapa hari ke depan bertemu dengan semua pihak terkait supaya permasalahannya menjadi jelas terkait dengan sumber, terkait para korban, saksi, dan lain-lain," ujar Agung usai bertemu wartawan yang diduga mengalami kekerasan saat peliputan, Jumat 6 September 2019.

Satgas yang berjumlah empat orang yang terdiri dari Dewan Pers, Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI), dan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) ini mempunyai waktu kerja selama tiga bulan untuk mengumpulkan data serta informasi selama di lapangan sebelum diserahkan ke Dewan Pers.

Baca juga: Dewan Pers Bentuk Satgas Telusuri Kekerasan Jurnalis di Papua

"Kami usahakan tidak dalam posisi lebih cepat atau lebih lambat. Kalau memang dirasa sudah cukup terpenuhi unsurnya maka pekerjaan sudah bisa kita selesaikan sebelum tiga bulan," kata Agung.

Ia juga meminta peran rekan-rekan jurnalis Sorong membantu untuk kelancaran investigas ini. "Saya mohon dukungan, mohon bantuan teman-teman untuk kalau memang ada informasi untuk hal-hal yang bisa berbagi saling melengkapi untuk apa yang kami dapatkan temuan di lapangan," imbaunya.

Selain meminta keterangan dari wartawan yang mengalami kekerasan saat peliputan, lanjut Agung, Satgas juga bakal menelusuri informasi dari pihak lain yang berkaitan dengan permasalahan tersebut.

"Artinya satu sisi saya sudah mendengarkan, hanya barangkali lebih elok, lebih elegan, kami mendapatkan second opinion dari yang lain, sehingga semakin menjelaskan duduk persoalannya, tidak dari kacamata sepihak," terangnya.

Baca juga: Hendak Liput Sepeda Motor Terbakar di SPBU, Seorang Wartawan Babak Belur Dihajar Massa 

Ia juga turut perihatin masih adanya kekerasan kepada wartawan yang sedang melaksanakan tugas jurnalistik.

"Pastinya kita prihatinlah. Berharap kejadian ini tidak terulang kembali, dan proses sedang berlangsung. Saya belum bisa memutuskan apa hasilnya. Kita tunggu dan mohon bersabar untuk hasil akhirnya. Saya akan sampaikan kepada teman-teman semua," ujarnya.

Baca juga: Oknum Polisi Intimidasi Wartawan saat Liput Demo, Ini Respon Polda Metro 

Sementara itu di tempat yang sama, Ketua Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Pengda Papua Barat Chandry Andrew Suripatty mengatakan bahwa saat mengetahui adanya intimidasi atau kekerasan sesama rekan wartawan, pihaknya lebih dahulu mencari tahu sebab kejadian itu bermula sebelum melaporkan ke Dewan Pers.

"Kita langsung coba menyelidiki itu penyebabnya apa hingga terjadi kekerasan dan intimidasi kepada teman-teman di lapangan. Setelah itu kita laporkan sesuai aturan ke Dewan Pers," ujarnya.

Dia mengungkapkan, setelah melapor adanya kejadian di Sorong, Dewan Pers langsung membentuk Satgas guna mendalami persoalan itu.

"Mereka sudah turun dan membentuk Satgas Anti-Kekerasan terhadap wartawan, dan mudah-mudahan dalam waktu dekat teman-teman dari Dewan Pers mengungkap kasus ini dengan terang-benderang agar kita juga punya jaminan keamanan dalam melaksanakan tugas sehari-hari di lapangan," imbuhnya.

Baca juga: 10 Pasal di RKUHP Berpotensi Penjarakan Wartawan 

Ia menerangkan, kasus ini berawal dari beredarnya video propaganda yang diduga dibuat dua oknum jurnalis. Namun, kata Chandry, pihaknya tidak serta-merta menuduh pembuat konten video itu adalah dua oknum tersebut.

"Kita tidak bisa menuduh. Kita mencoba untuk menganalisis dan bekerja sama dengan Dewan Pers sebagai konstituen IJTI. Setelah mendapat laporan ini, kita langsung bergerak memberikan laporan langsung ke Dewan Pers dengan IJTI, AJI, dan PWI. Mereka sudah turun hari ini," ucapnya.

Baca juga: Polri Dalami Pelaku Intimidasi Wartawan saat Liput Demo Buruh di DPR 

Sementara Leonardo Ijie, selaku pihak yang dirugikan dari konten video dirinya yang disalahgunakan, mengatakan saat video itu beredar ada beberapa orang yang tidak dikenal mondar-mandir di rumahnya. Kemudian tempat biasa dia berkumpul bersama rekan-rekannya di depan Toko Ellyn, Jalan Basuki Rahmat, ada beberapa orang tidak dikenal menanyakan dirinya di tempat jualan pinang mama-mama Papua.

"Saya sendiri merasa menjadi tahanan kota. mau melangkah keluar dari rumah saja saya berpikir dua kali. Kemarin saya dapat laporan dari saya pu mama-mama ada yang datang tanya saya, orang itu pakai masker."

Usai beredarnya video yang diduga dibuat dua oknum wartawan, keluarga dari Leonardo pun merasa kesal.

"Kemarin saya mendapat laporan dari mama-mama yang sempat berkelahi dengan orang yang tidak jelas lantaran menanyakan identitas saya. Kan lucu kalau orang tersebut menanyakan alamat saya. Ini secara tidak langsung telah melakukan teror terhadap diri saya," jelasnya pada Jumat sore kemarin.

Baca juga: IJTI Kecam Intimidasi Oknum Polisi pada Wartawan 

Ia melanjutkan, akibat teror itu secara tidak langsung membuat dirinya tidak bisa keluar rumah maupun beraktivitas. Dia menerangkan, siapa pun termasuk saudara atau teman memberitahukan untuk sementara tinggal saja di rumah, jangan dulu beraktivitas.

"Dengan beredarnya video tersebut, membuat diri saya sangat tidak nyaman. Saya selalu dipantau dan diawasi. Karenanya sudah waktunya saya harus keluar dari zona ini. Berbicara takut. Saya sama sekali tidak takut. Saya tahu betul bahwa ada risiko ketika kita berbicara kebenaran," kata Leo Idjie.

1
4

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini