nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

AJI Jakarta Kecam Aksi Bully Terhadap Jurnalis yang Beritakan Kasus Papua

Puteranegara Batubara, Jurnalis · Jum'at 06 September 2019 04:04 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 09 06 337 2101278 aji-jakarta-kecam-aksi-bully-terhadap-jurnalis-yang-beritakan-kasus-papua-rrjkLwtH1i.jpg Ilustrasi (Dok. Okezone)

JAKARTA - Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta mengecam tindakan intimidasi terhadap jurnalis Febriana Firdaus dari media Aljazeera sekaligus anggota AJI lantaran diduga dengan pemberitaannya soal jumlah korban dalam kerusuhan di Papua.

Ketua AJI Jakarta, Asnil Bambani menjelaskan, bentuk intimidasi yang dirasakan oleh Febriana adalah perundungan di media sosial (medsos). Selain itu juga mendapatkan ancaman-ancaman melalui pesan tertulis.

Yang parahnya lagi selain di Bully, pewarta itu juga menerima perlakuan doxing. Doxing adalah pelacakan dan pembongkaran identitas jurnalis yang menulis tidak sesuai aspirasi politik pelaku, lalu menyebarkannya ke media sosial untuk tujuan negatif.

"Akun Facebook, Twitter dan Instagram @maklambeturah menyebarkan akun pribadi Febriana terkait pemberitaan korban kerusuhan di Papua. Pemilik akun tersebut menyangsikan jumlah korban yang ditulis Febriana karena berbeda dengan versi pemerintah. Sementara penulis telah mengonfirmasi kepada bupati dan pihak gereja setempat," kata Asnil dalam keterangan tertulisnya, Jumat (6/9/2019).

Kondisi di Papua usai demo

Setelah akunnya disebar, Febriana banyak menerima pesan bernada ancaman di media sosial. Salah satunya dari pemilik akun Twitter @ilhamAziz31. Pesan itu memperingatkan bahwa intelijen telah mengawasi aktivitas Febriana dan meminta bangun narasi konstruktif.

"Usai teror itu, ruang gerak Febriana terbatas. Dia merasa gerak-geriknya diawasi. Kerja-kerja jurnalistiknya pun terganggu. Sejumlah materi pemberitaan terkait Papua telah dia kantongi. Namun karena pertimbangan keselamatan diri, Febriana menunda laporan jurnalistiknya," tutur Asnil.

Dalam hal ini, AJI Jakarta menilai informasi yang disebarkan @maklambeturah berupaya memojokkan dan memicu intimidasi terhadap Febriana Firdaus.

"Kami menilai apa yang dikerjakan Febriana melalui medianya adalah hal standar yang dilakukan jurnalis sebagaimana diamanatkan Kode Etik Jurnalistik. Febriana berusaha menyampaikan informasi seobyektif mungkin dan menerbitkannya setelah melalui proses verifikasi," papar Asnil.

Terkait perlakuan ini, AJI Jakarta mengingatkan kepada semua pihak bahwa jurnalis dalam menjalankan profesinya dilindungi secara hukum.

Dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers telah diatur mekanisme hak jawab, hak koreksi atau pengaduan kepada Dewan Pers apabila ada pihak yang ingin memberikan tanggapan atau sanggahan terhadap pemberitaan yang merugikan nama baiknya.

"Undang-undang tersebut juga mengamanatkan pers untuk ikut menegakkan nilai-nilai demokrasi, mendorong terwujudnya supremasi hukum, dan hak asasi manusia, serta menghormati kebinekaan," kata dia.

"Dalam pemberitaan terkait isu Papua, AJI Jakarta juga mengingatkan kepada para jurnalis untuk tetap bersikap independen serta tidak memihak kedua kubu, baik kelompok pro-kemerdekaan Papua maupun pro-pemerintah. Jurnalis harus melakukan verifikasi atas semua informasi, baik itu informasi dari pemerintah maupun informasi dari kelompok warga di Papua," tutup Asnil.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini