nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Eks Dirut PT Sushi-Tei Indonesia Gugat Kantor Pengacara AKSET

Achmad Fardiansyah , Jurnalis · Kamis 05 September 2019 22:16 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 09 05 337 2101242 eks-dirut-pt-sushi-thei-indonesia-gugat-kantor-pengacara-akset-eWjaOTtYVM.jpg Ilustrasi (Foto: Ist)

JAKARTA - Mantan Direktur Utama (Dirut) PT Sushi-Tei Indonesia Kusnadi Rahardja menggugat Kantor Pengacara Afridea Kadri Sahetapy-Engel Tisnadisastra (AKSET) Law. Gugatan dilayangkan ke Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat karena diduga adanya perbuatan melawan hukum oleh kantor pengacara tersebut.

Kuasa Hukum Kusnadi, Frank Hutapea menjelaskan, kliennya merupakan pemegang saham dan Dirut di PT Sushi-Tei Indonesia. AKSET Law sendiri merupakan kantor pengacara yang digunakan PT Sushi-Tei Indonesia maupun untuk urusan pribadi Kusnadi.

Dua bulan lalu, ada perselisihan pemegang saham. Pemegang saham mayoritas kemudian memberhentikan sementara Kusnadi melalui Dewan Komisaris. Tiba-tiba AKSET melayangkan somasi kepada Kusnadi agar mengikuti keputusan tersebut.

"AKSET mensomasi Kusnadi, AKSET mensomasi kliennya sendiri, dia memihak yang sana, bahwa Anda sudah diberhentikan sementara. Terus waktu kita komplain atas pemberhentian sementara, AKSET malah somasi lagi, intinya bilang harus ikuti pemberhentian sementara ini," ujarnya kepada Okezone, Kamis (5/9/2019).

Ilustrasi

Frank pun mempertanyakan AKSET yang mensomasi kliennya sendiri. Bagaimana bisa seorang pengacara mensomasi kliennya sendiri. Padahal, bisa saja yang bersangkutan, Dewan Komisaris itu menggunakan jasa kantor pengacara lain untuk untuk menggugat Kusnadi.

"Itu lah ada motivasi apa nih, AKSET ambil semua kerjaan, kan bisa aja waktu perselisihan pemegang saham, bisa pakai lawfirm lain bukan AKSET. Nah, itu ada motivasi apa ini, apa ada motivasi bisnis ingin menguasai bisnis, menguasai kerjaan atau apa gitu," tuturnya.

Kusnadi yang menunjuk Frank sebagai pengacara dari Hotman Paris & Partners melayangkan somasi kepada AKSET agar menarik kembali somasi terhadap kliennya. Namun, AKSET berdalih tidak merasa melakukan kesalahan atas somasi yang dilayangkan.

"Kita somasi AKSET, kamu harus tarik somasi kamu lagi. Karena kamu kan pengacaranya Kusnadi, kamu enggak boleh dong somasi Kusnadi. Dijawab sama AKSET kita enggak salah, bahwa katanya partner-nya beda," ujarnya.

Jawaban yang diberikan dianggap tak memuaskan dengan terus berdalih tidak ada konflik kepentingan dari somasi tersebut.

"Yang dulu pegang Kusnadi sama yang sekarang somasi Kusnadi beda. Itu kan jawaban macam apa itu, ini kan intinya kantor pengacara AKSET siapa pun lawyer-nya di kantor pengacara AKSET ya itu kantor pengacara gua dong, kan gitu istilahnya," ujarnya.

Pada gugatan ini, ada 16 tergugat. Meliputi Advokat AKSET Arfidea D Saraswati, Mohamad Kadri, Johannes C Sahetapy-Engel, Abadi Abi Tisnadisastra, Inka Kirana, Alfa Dewi Setiawati, Merari Sabati, Raden Suharsanto Raharjo, Agata Jacqueline Paramesvari, Audreyna Indriani, Michael Darari, Nurana Sekar Lestari, Raja Sawery G.D Notonegora, Kantor hukum ASKET Law. Kemudian, Sonny Kurniawan dan PT Sushi-Tei Indonesia.

Dalam gugatan perkara, Kusnadi meminta majelis hakim mengabulkan gugatan dari penggugat untuk seluruhnya; menyatakan sah dan berharga sita Jaminan yang telah diletakkan; menyatakan para tergugat telah melakukan perbuatan melawan hukum; menghukum tergugat untuk membayar secara tanggung renteng dan sekaligus kerugian materil 1 Penggugat sebesar Rp. 456.917.566,- (empat ratus lima puluh enam juta sembilan ratus tujuh belas ribu lima ratus enam puluh enam Rupiah).

Kerugian materil 2 Penggugat sebesar USD12.500.000 (dua belas juta lima ratus ribu Dollar Amerika Serikat) dan kerugian materil 3 Penggugat sebesar USD 50.000.000 (lima puluh juta Dollar Amerika Serikat), yang masing- masing ditambah dengan bunga 6% (enam persen) per/tahun dihitung sejak tanggal surat gugatan ini didaftarkan di Kepaniteraan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat sampai semua dibayar lunas kepada Penggugat;

Menghukum para tergugat untuk membayar secara tanggung renteng dan sekaligus kerugian immateriil kepada Penggugat sebesar Rp. 500.000.000.000,- (lima 25 EST213,2019 HOTMAN PARIS & PARTNERS ratus miliar Rupiah) ditambah dengan bunga 6% (enam persen) per/tahun dihitung sejak tanggal surat gugatan ini didaftarkan di Kepaniteraan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat sampai semua dibayar lunas kepada Penggugat;

Menghukum para tergugat menyampaikan permohonan maaf kepada penggugat yang dimuat dalam 4 (empat) media cetak yakni harian Kompas dan The Jakarta Post serta media cetak The Straits Times, Singapore dan The Wall Street Journal Asia, masing-masing sebesar 1 (satu) halaman penuh.

Menghukum para tergugat berupa hukuman dilarang atau tidak boleh melakukan praktik hukum di wilayah hukum Indonesia, baik di dalam maupun di luar pengadilan di seluruh wilayah Indonesia, termasuk larangan untuk membela dan mewakili klien di dalam pengadilan di seluruh wilayah hukum Indonesia, membela dan mewakili klien di lembaga arbitrase manapun di seluruh wilayah hukum Indonesia, dilarang memberikan nasehat hukum atau konsultasi hukum kepada pihak manapun di dalam: atau luar pengadilan di seluruh wilayah hukum Indonesia dan dilarang untuk mewakili dan/atau memberikan pendapat hukum untuk kepentingan pihak manapun di lembaga pemerintahan atau instansi manapun di Indonesia.

Total gugatan yang dilayangkan Kusnadi sudah ada tiga gugatan, kata Frank, untuk dua gugatan terhadap semua direksi, komisaris, pemegang saham, dan gugatan ke PT Sushi-Tei Indonesia untuk perselisihan pemegang saham. Gugatan ketiga, ke law firm-nya, AKSET dan juga PT Sushi-Tei Indonesia.

"Jadi dua gugatan mengenai perselisihan pemegang saham, satu gugatan mengenai konflik kepentingan. Kemarin sudah sidang pertama, sidang berikutnya tanggal 10 September," ujarnya.

Sementara, Kuasa Hukum Sushi Tei Indonesia, James Purba mengatakan, Kusnadi Rahardja diberhentikan secara permanen melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 22 Juli 2019. RUPS tersebut telah dilakukan sesuai dengan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (UU PT).

Pemberhentian Kusnadi, kata dia, dilakukan demi keberlangsungan usaha Sushi Tei Indonesia dengan beberapa pertimbangan. Pertama, Kusnadi tidak lagi mampu dan mau melakukan kewajibannya sebagai presdir.

”Kusnadi Rahardja memiliki konflik kepentingan dan menggunakan merek Sushi Tei untuk kepentingan bisnisnya sendiri. Selain itu, Kusnadi Rahardja menghambat operasional STI (Sushi Tei Indonesia) dengan meminta bank memblokir seluruh rekening perusahaan,” kata James. (Ari)

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini