nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Dewan Pers Bentuk Satgas Telusuri Kekerasan Jurnalis di Papua

Fadel Prayoga, Jurnalis · Kamis 05 September 2019 16:54 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 09 05 337 2101095 dewan-pers-bentuk-satgas-telusuri-kekerasan-jurnalis-di-papua-8MVRnXOeOD.jpg Dewan Pers bentuk Satgas Antikekerasan Jurnalis di Papua (Foto: Fadel Prayoga)

JAKARTA - Dewan Pers membentuk Satgas Antikekerasan terhadap Jurnalis. Hal itu untuk menindaklanjuti beredarnya video propaganda yang meresahkan warga dengan berkedok karya jurnalistik, karena diduga kuat dilakukan dua orang oknum wartawan televisi.

Ketua Komisi Hukum dan Perundang-undangan Dewan Pers, Agung Dharmajaya mengatakan, satgas tersebut melibatkan Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI), dan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). 

"Yang akan kami lakukan adalah turun ke lapangan untuk mendalami dugaan kekerasan yang didapati teman-teman wartawan. Membuat kronologi. Menemui pihak-pihak terkait, termasuk saksi mata. Bukti-bukti juga," kata Agung saat konferensi pers, Kamis (5/9/2019).

Baca Juga: Situasi Kondusif, Pemerintah Cabut Pembatasan Internet di Papua

Ia menuturkan, pihaknya akan menelusuri kejadian sebenarnya di lapangan tempat peristiwa itu terjadi. Hal itu perlu dilakukan untuk mengetahui wartawan tersebut berada di lokasi sedang melakukan kerja jurnalistik atau bukan.

"Kami mesti memastikan dahulu, apakah itu dilakukan dalam posisi wartawan dalam kerjanya atau bukan. Jangan salah. Ada kalanya betul profesinya wartawan, tapi dia tidak melakukan bekerja jurnalistik, tapi melakukan pelanggaran," katanya.

Dia menambahkan, rencananya setelah investigasi, satgas akan melaporkan hasilnya ke publik dalam waktu kerja selama tiga bulan.

Ilustrasi

Seperti diketahui, dua orang jurnalis televisi (masing-masing televisi lokal dan nasional) melakukan pengambilan gambar pada 23 Agustus 2019 berupa wawancara peserta aksi atas nama Lenonarde Ijie pada saat aksi menyalakan lilin di kota Sorong merespons aksi rasisme di Kota Malang dan Surabaya, Jawa Timur.

Baca Juga: Imigrasi: Benny Wenda, Dalang Kerusuhan Papua Sudah Bukan WNI

Hasil wawancara yang dilakukan dua orang jurnalis televisi terhadap peserta aksi atas nama Leonarde Ijie kemudian diedit. Hasil editing itu kemudian beredar dan meresahkan warga karena isinya dinilai berisi ujaran kebencian dan propaganda.

Atas situasi ini membuat sejumlah jurnalis dari berbagai platform terhambat melakukan tugas-tugas jurnalistiknya karena khawatir ada penolakan dari masyarakat.

(Ari)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini