KPK Tangkap Penyuap Dirut PTPN III dan Langsung Ditahan

Arie Dwi Satrio, Okezone · Rabu 04 September 2019 22:55 WIB
https: img.okezone.com content 2019 09 04 337 2100784 kpk-tangkap-penyuap-dirut-ptpn-iii-dan-langsung-ditahan-Mwt2fO8Vf2.jpg KPK tangkap Pieko Nyotosetiadi selaku penyuap Dirut PTPN II (Foto: Okezone.com/Arie)

JAKARTA -‎ Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) akhirnya berhasil menangkap bos PT Fajar Mulia Transindo, Pieko Nyotosetiadi (PNO). Pieko ditangkap di Bandara Soekarno Hatta, Cengkareng, oleh tim KPK dibantu dengan jajaran Polres Metro Bandara Soetta.

Pieko merupakan tersangka kasus dugaan suap distribusi gula di PT Perkebunan Negara (PTPN) III yang berhasil lolos dalam Operasi Tangkap Tangan (OTT) KPK. Dia diduga sebagai pihak yang menyuap dua direktur PTPN III (Persero)

"Tadi KPK dengan bantuan Polres Metro Bandara Soeta melakukan penangkapan terhadap tersangka PNO di Bandara sekitar pukul 14.15 WIB," kata Juru Bicara KPK, Febri Diansyah saat dikonfirmasi, Rabu (4/9/2019).

Ilustrasi

Setelah penangkapan, tim membawa Pieko ke Gedung Merah Putih KPK, Jakarta Selatan, untuk dilakukan pemeriksaan intensif. Usai diperiksa, Pieko langsung dijebloskan penjara KPK.

"Setelah itu kami bawa ke KPK dan dilakukan pemeriksaan lebih lanjut hingga (dilakukan) penahanan selama 20 hari pertama di Rutan Polres Jakarta Pusat," ucapnya.

KPK sendiri telah menetapkan tiga tersangka terkait kasus dugaan suap distribusi gula di PTPN III.‎ Tiga tersangka tersebut yakni,‎ Dirut PTPN III, Dolly Pulungan (DPU), Direktur Pemasaran PTPN III, I Kadek Kertha Laksana (IKL) dan pemilik PT Fajar Mulia Transindo, Pieko Nyotosetiadi (PNO)

Baca Juga : Suap Distribusi Gula, KPK Jebloskan Dirut PTPN III ke Penjara

Dalam perkara ini, Dolly melalui Kadek Kertha Laksana diduga menerima suap sebesar 345.000 dolar Singapura dari Pieko. Suap ini diberikan terkait distribusi gula di PTPN III yang digarap Pieko.

Pieko sendiri merupakan pemilik dari PT Fajar Mulia Transindo dan perusahaan lain yang bergerak di bidang distribusi gula. Pada awal tahun 2019 perusahaan Pieko ditunjuk menjadi pihak swasta dalam skema long term contract dengan PT PN III (Persero).

Dalam kontrak ini, pihak swasta mendapat kuota untuk mengimpor gula secara rutin setiap bulan selama kontrak berjalan. Namun, di PTPN III terdapat aturan internal mengenai harga gula bulanan yang disepakati oleh tiga komponen yaitu PTPN III, Pengusaha Gula, dan ASB selaku Ketua Asosiasi Petani Tebu Republik Indonesia (APTRI).

Saat itu, Dolly meminta bantuan uang kepada Pieko untuk kebutuhan pribadinya. ‎Dollykemudian meminta Kadek Kertha Laksana untuk menemui Pieko guna menindaklanjuti permintaan uang tersebut.

Sebagai tersangka penerima suap, Dolly dan Kadek disangkakan melanggar Pasal 12 huruf a atau Pasal 12 huruf b atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 juncto Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP.

Sementara itu, Pieko dijerat dengan Pasal 5 Ayat (1) huruf a atau Pasal 5 Ayat (1) huruf b atau Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 juncto Pasal 64 ayat (1) KUHP dan Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini