nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Dirut Petro Gresik Merasa Namanya Dicatut Bowo Sidik Pangarso

Arie Dwi Satrio, Jurnalis · Rabu 04 September 2019 19:25 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 09 04 337 2100722 bersaksi-untuk-bowo-sidik-pangarso-dirut-petro-gresik-merasa-namanya-dicatut-terdakwa-faPPFivJwT.jpg Sidang Lanjutan Perkara Dugaan Suap dan Gratifikasi yang Menyeret Bowo Sidik Pangarso di Tipikor Jakarta (foto: Okezone/Arie DS)

JAKARTA - Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta kembali mengggelar sidang lanjutan terkait perkara dugaan suap dan gratifikasi yang menyeret anggota DPR fraksi Golkar, Bowo Sidik Pangarso. Agenda persidangan kali ini masih pemeriksaan sejumlah saksi.

Salah satu saksi yang dihadirkan oleh tim Jaksa pada persidangan kali ini yaitu Direktur Utama (Dirut) Petrokimia Gresik, Rahmad Pribadi. Dia membantah keterlibatannya dalam kasus dugaan suap anggota komisi VI DPR RI Bowo Sidik Pangarso.

Baca Juga: Kronologi OTT Suap Distribusi Pupuk yang Menjerat Bowo Sidik 

Meski dicecar Jaksa KPK, Rahmad tetap enggan mengakui bila dirinya pernah memperkenalkan PT Humpuss Transportasi Kimia (HTK) kepada Bowo Sidik guna memuluskan bisnis HTK dengan PT PILOG, sebagaimana pengakuan Bowo Sidik dan GM Komersil PT HTK Asty Winasti pada sidang sebelumnya.

"Saya harap bapak menjawab dengan jujur ya, karena bapak sudah disumpah di sini. Saksi dalam persidangan sebelumnya telah mengatakan bahwa bertemu dengan Anda dan Pak Bowo di Penang Bistro," tegas Jaksa KPK Ferdian Adi Nugroho dalam sidang terdakwa Bowo Sidik di Pengadilan Negeri Tipikor, Jakarta, Rabu (4/9/2019).

Sidang Lanjutan Perkara Dugaan Suap dan Gratifikasi yang menyeret Bowo Sidik Pangarso di Tipikor Jakarta (foto: Okezone/Arie DS)	 

Menanggapi pertanyaan Jaksa KPK tersebut, Rahmad pun mengungkapkan bahwa semenjak beredar informasi di media yang mengkaitkan namanya dalam sebuah pertemuan di Penang Bistro tanggal 31 Oktober 2017, dirinya mengaingat-ingat kembali perihal tersebut. Rahmad mengaku sempat menanyakan kepada kesekretariatan PT Semen Baturaja, lantaran pada saat itu Rahmad masih menjabat Dirut Semen Baturaja.

"Disampaikan bahwa ada beberapa agenda internal rapat direksi dintaranya ada juga makan siang di resto Penang Bistro, dan kolega yang tercatat adalah PT Danareksa Sekuritas. Kemudian saya telpon teman yang waktu bertemu yaitu direktur Danareksa Sekuritas Saidu Solihin," ujar Rahmad.

Dalam kesempatan itu, Rahmad membantah segala tudingan yang menyerang dirinya. Rahmad merasa Bowo Sidik Pangarso telah mencatut namanya dalam kasus ini

"Semua sudah saya sampaikan di muka persidangan. Intinya, nama saya dicatut oleh terdakwa tanpa bukti-bukti yang jelas," kata Rahmad.

Rahmad kemudian menceritakan awal mula dirinya mengenal Bowo yakni saat dirinya menjabat sebagai Direktur SDM Petrokimia Gresik. Saat itu, Bowo sebagai anggota DPR melakukan kunjungan kerja ke Petrokimia Gresik

Rahmad mengakui adanya pertemuan dengan Bowo Pangarso. Namun, dia mengklaim pertemuan tersebut hanya sekadar makan siang.

"Ada juga agenda makan siang dan kolega yang tercatat PT. Danaresksa Sekuritas, kemudian saya telepon Direktur Danareksa Sekuritas Saidu Solihin, apa benar kita makan siang? betul. siapa yang mengundang, ada staf danareksa sekuritas, kami dan terdakwa," terang Rahmad.

Pada sidang pekan lalu, Asty Winasti menjelaskan bahwa perkara ini bermula dari PT HTK yang menyewakan kapal MTGriya Borneo kepada PT Kopindo Cipta (KCS) yang merupakan anak usaha PT Petrokimia Gresik untuk mengangkut amoniak dengan kontrak 5 tahun terhitung sejak 2013. 

Namun di tengah jalan, kontrak HTK dengan KCS terhenti, dan mengalihkan urusan pengangkutan dsn pelayaran ke PT PILOG. "Kami keberatan dengan keputusan itu. Kami somasi PT KCS dan PIHC. Tapi tidak ada tanggapan," kata Asty.

Pasca penghentian kontrak tersebut, Asty mengaku sempat bertemu dengan Rahmad Pribadi pada tahun lalu. Dalam pertemuan itu, Rahmad Pribadi menawarkan solusi untuk mengenalkan Bowo Sidik sebagai pihak yang bisa membantu bernegosiasi dengan Pupuk Indonesia Holding Company (PIHC).

"Sebelum kenal Bowo. Saya bertemu dengan Pak Rahmad Pribadi bersama Steven Wang di Pacific Place. Pak Rahmad Pribadi mengatakan bahwa Bowo Sidik bisa membantu sebagai orang yang kenal baik dengan Dirut PIHC," kata Asty.

Terdakwa Bowo Sidik pun berkali-kali membenarkan pengakuan Asty tersebut. Bowo mengaku terlibat pengurusan kontrak sewa kapal antara HTK dan PILOG lantaran awalnya dihubungi Rahmad Pribadi, yang sebelumnya menjabat sebagai Direktur Umum dan SDM Petrokimia Gresik.

Bowo mengaku pertemuan dengan Rahmad didampingi pemilik PT Tiga Macan, Steven Wang. Rahmad dan Steven memintanya untuk membantu PT Humpuss Transportasi Kimia (HTK) yang diputus kontraknya. "Kata Pak Rahmad, kontrak HTK diputus sepihak. Secara hukum, HTK sudah dimenangkan (pengadilan) tapi Pupuk Indonesia tidak mau melaksanakan," kata Bowo.

Kemudian, lanjut Bowo, ketiganya mengatur janji kembali bertemu untuk kenalan dengan Asty yang meminta Bowo membantu HTK agar sewa kapal Humpuss dilanjutkan. "Saat itu baru saya dikenalkan dengan Bu Asty," kata Bowo.

Dalam kasus ini, Bowo Sidik Pangarso didakwa menerima suap sebesar 163.733 dollar Amerika Serikat (AS) atau setara sekitar Rp 2,3 miliar dan uang tunai Rp 311,02 juta secara bertahap. Suap itu diberikan oleh Marketing Manager PT HTK Asty Winasti atas sepengetahuan Direktur PT HTK Taufik Agustono.

Pemberian uang itu dimaksudkan agar Bowo membantu PT HTK mendapatkan kerja sama pekerjaan pengangkutan dan atau sewa kapal dengan PT PILOG.

Baca Juga: Direktur PT Inersia Didakwa Sebagai Perantara Suap Anggota DPR Bowo Sidik Pangarso 

Atas perbuatannya tersebut, Bowo didakwa melanggar Pasal 12 huruf b atau Pasal 11 Undang-Undang (UU) Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Nomor 20 Tahun 2001 tentang‎ pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 ‎Juncto Pasal 64 ayat (1) KUHP.

‎Tak hanya suap, Jaksa penuntut umum pada KPK juga mendakwa Bowo telah menerima gratifikasi sebesar Rp8 miliar. Gratifikasi tersebut diterima Bowo Pangarso dalam pecahan dolar Singapura yang telah ditukar menjadi mata uang Indonesia serta pecahan rupiah dari sejumlah pihak.

Terkait penerimaan gratifikasi tersebut, Bowo Pangarso didakwa melanggar Pasal 12 B ayat (1) Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah ddiubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) juncto Pasal 65 KUHP.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini