Inggit Ganarsih, Bunga Desa Pendamping Soekarno di Masa Sulit

Demon Fajri, Okezone · Rabu 04 September 2019 07:00 WIB
https: img.okezone.com content 2019 09 03 337 2100247 inggit-ganarsih-bunga-desa-pendamping-soekarno-di-masa-sulit-o7jUsVjLMn.jpg Ilustrasi

MENDENGAR nama Soekarno mungkin sudah tidak asing bagi masyarakat Indonesia. Sosok pria yang akrab disapa Bung Karno ini adalah Presiden Pertama Republik Indonesia (RI).

Pria kelahiran Surabaya, Jawa Timur, 6 Juni 1901 merupakan pasangan suami istri (Pasutri) Raden Soekemi Sosrodihardjo dan Ida Ayu Nyoman Rai. Tidak sedikit perjuangan Bung Karno dalam memperjuangkan Kemerdekaan RI.

Di balik perjuangan dalam meraih kemerdekaan, pria yang meninggal dunia pada 21 Juni 1970 ini juga memiliki istri lebih dari satu orang. Siapa saja isri Sang Prolamator ini?

Dari catatan sejarah dan berbagai sumber yang diperoleh Okezone, Presiden Pertama Periode 1945 hingga 1967 ini memiliki 9 orang istri.

Yakni, Siti Oetari, Inggit Ginarsih, Fatmawati, Hartini, Ratna Sari Dewi Soekarno, Haryati, Yurike Sanger, Kartini Manoppo dan Heldy Djafar.

Saat Soekarno berusia 20 tahun, Soekarno menikah dengan sosok perempuan asal Bandung, Jawa Barat. Inggit Ginarsih, namanya. Ketika menikah, Inggit telah berumur 33 tahun. Inggit adalah istri kedua dari Bung Karno setelah Siti Oetari.

Inggit Ganarsih

Berdasarkan data dan berbagai sumber yang diperoleh Okezone, pertemuan Bung Karno dan Inggit, bermula saat Soekarno tinggal di Bandung, Jawa Barat. Ketika itu, Bung Karno nge-kost saat menempuh gelar insinyur.

Inggit adalah perempuan kelahiran Bandung, Jawa Barat. Di Desa Kamasan Kecamatan Banjaran Kabupaten Bandung Provinsi Jawa Barat, persisnya. Perempuan ini lahir pada 17 Februari 1888.

Bung Karno menikahi Inggit, pada 24 Maret 1923, di rumah orangtua Inggit, Bandung, Jawa Barat. Dalam pernikahan tersebut dikukuhkan dengan surat keterangan kawin, No. 1138, tertanggal 24 Maret 1923 dengan dibumbuhi materai 15 sen dalam bahasa Sunda.

Surat Kawin Soekarno-Inggit (Foto: Okezone/Demon)

Saat lahir, Inggit memiliki nama Garnasih. Garnasih merupakan singkatan dari kesatuan kata Hegar Asih. Di mana Hegar berarti segar menghidupkan dan Asih berarti kasih sayang.

Lalu, kata Inggit yang kemudian menyertai di depan namanya berasal dari jumlah uang seringgit. Semasa kecil Garnasih menjadi sosok yang dikasihi teman-teman sejawatnya. Bahkan, ketika tumbuh menjadi dewasa Inggit menjadi sosok perempuan berparas cantik di antara teman-teman sejawatnya.

Dari berbagai sumber yang diperoleh Okezone, kecantikan Inggit membuat muncul kata-kata dari kerabatnya semasa itu. Kata-kata itu ''Mendapatkan senyuman dari Garnasih ibarat mendapat uang seringgit''.

Semasa remaja, Inggit menjadi pujaan bagi kalangan kaum Adam. Bahkan, tidak sedikit kaula muda kaum Adam menaruh kasih padanya. Rasa kasih tersebut diberikan dalam bentuk uang, rata-rata berjumlah seringgit.

Berangkat dari hal tersebut, nama Garnasih, ditambah pada awal nama menjadi Inggit dan menjadi nama depannya. Ketika tumbuh menjadi remaja, sosok Inggit mejadi ''Bunga Desa'' di tanah kelahirannya.

Inggit Ganarsih

Memiliki paras yang cantik membuat kaum Adam kala itu berupaya mendapatkan perhatian dari sosok perempuan yang meninggal dunia, pada 13 April 1984, di Bandung, Jawa Barat, dalam usia 96 tahun.

Bahkan, semasa itu Inggit sempat dipersunting Nata Atmaja, salah satu Patih di Kantor Residen Priangan. Namun, pernikahan tersebut tidak bertahan lama dan berakhir dengan perceraian.

Kemudian, Inggit kembali membina rumah tangga dengan menikah kembali dengan Haji Sanusi, salah satu pengusaha yang aktif di Sarekat Islam. Dalam pernikahan kedua Inggit dengan Haji Sanusi, mula-mulanya baik-baik.

Namun, jalinan perkawinan tersebut tidak bisa dibilang bahagia. Hal tersebut ditandai dengan sang suami, Haji Sansi kerap kali meninggalkan Inggit, lantaran terlalu sibuk dengan pekerjaan. Hingga pada akhirnya memutuskan untuk bercerai.

Bahtera rumah tangga yang telah dijalin dengan Haji Sanusi, kandas. Hingga pada akhirnya, Inggit bertemu dengan sosok Soekarno. Pada waktu itu, Soekarno telah menikah dengan Siti Oetari.

Konon, rasa cinta, Bung Karno pada Siti Oetari lebih condong seperti cinta kepada saudara. Sehingga Soekarno menceraikan Oetari. Sementara, Inggit juga secara resmi berpisah dengan Sanusi. Lalu, Bung Karno dan Inggit, menikah di rumah orangtua Inggit di Jalan Javaveem, Bandung, Jawa Barat.

Meskipun berstatus janda, Bung Karno tetap menyayangi Inggit. Hal ini ditandai dengan pernikahan Bung Karno dan Inggit mencapai 20 tahun. Pada tahun tahun 1942, Inggit memutuskan untuk berpisah dengan Bung Karno.

Mereka bercerai lantaran Inggit tidak ingin dimadu. Meskipun demikian, Inggit tetap menyimpan perasaan terhadap Soekarno. Termasuk melayat, ketika Bung Karno menghembuskan nafas terakhir.

Dari pandangan masyarakat, Inggit merupakan sosok perempuan sekaligus pahlawan yang sebenarnya memiliki jasa sangat besar untuk kemerdekaan Indonesia. Sebab Inggit selalu setia mendampingi Bung Karno, ketika masa sulit. Namun, nama Inggit tidak disebut dalam catatan sejarah termasuk buku pelajaran.

Diketahui juga, jika istri kedua Bung Karno ini sempat membantu dalam pembiayaan perjuangan Bung Karno. Seperti, biaya kuliah hingga aktivitas politik Bung Karno.

Kisah cinta Inggit-Soekarno, sempat ditulis menjadi sebuah roman. Di susun Ramadhan KH Bahkan, buku tersebut sempat dicetak ulang beberapa kali sampai sekarang.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini