nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kronologi Penangkapan 8 Orang Papua Terkait Pengibaran Bintang Kejora di Depan Istana

Muhamad Rizky, Jurnalis · Senin 02 September 2019 09:01 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 09 02 337 2099443 kronologi-penangkapan-8-orang-papua-terkait-pengibaran-bintang-kejora-di-depan-istana-pDQjKpM5ES.jpg Pengunjuk rasa membawa bendera bintang kejora saat demo menuntut keadilan untuk Papua di depan Istana Negara, Jakarta (Achmad/Okezone)

JAKARTA - Koalisi Masyarakat Sipil untuk Demokrasi merilis kronologi dan nama delapan orang Papua yang ditangkap aparat Polda Metro Jaya atas dugaan pengibaran bendera bintang kejora saat demo di depan Istana Negara, Jakarta, pada Rabu 29 Agustus 2019.

Direktur LBH Jakarta Arif Maulana mengatakan, kedelapan orang tersebut ditangkap dalam waktu dan tempat yang berbeda-beda. Mereka adalah Carles Kossay, Dano Tabuni, Ambrosius Mulait, Isay Wenda, Naliana Wasiangge, Wenebita Wasiangge, Norince Kogoya, dan Surya Anta.

"Semua yang ditangkap telah dipindahkan ke Mako Brimob di Kelapa Dua," kata Arif kepada Okezone, Senin (2/9/2019).

Baca juga: Lokasi Penahanan 8 Tersangka Pengibaran Bendera Bintang Kejora Dirahasiakan

Arief menjelaskan, penangkapan tersebut pertama kali dilakukan pada tanggal 30 Agustus 2019 di sebuah asrama di Depok. Arif menyebut penangkapan ini dilakukan dengan mendobrak pintu dan menodongkan pistol.

 Papua

Penangkapan kedua dilakukan saat aksi solidaritas untuk Papua di depan Polda Metro Jaya pada 31 Agustus 2019.

Kemudian penangkapan ketiga kembali dilakukan oleh aparat gabungan TNI-Polri terhadap tiga orang perempuan, pada 31 Agustus 2019 di kontrakan mahasiswa asal Kabupaten Nduga di Jakarta.

Baca juga: 8 Orang Jadi Tersangka Pengibaran Bendera Bintang Kejora di Istana

"Penangkapan keempat Sabtu, 31 Agustus 2019 sekitar pukul 20.30 (terhadap) Surya Anta ditangkap oleh dua orang polisi yang berpakaian preman di Plaza Indonesia. Ia kemudian dibawa ke Polda Metro Jaya. Saat penangkapan, polisi menjelaskan pasal yang disangkakan adalah makar terkait Papua," ungkapnya.

Selain penangkapan, kata Arif, polisi diduga mulai mendatangi asrama-asrama Papua untuk melakukan sweeping tanpa alasan yang jelas. Ia menyesalkan adanya penangkapan tersebut lantaran dinilai sebagai satu diskriminasi terhadap orang Papua.

"Hal ini jelas berbahaya bagi demokrasi. Selain dapat mengarah pada diskriminasi etnis, hal ini juga dapat meningkatkan tensi yang akan berujung membahayakan keselamatan warga sipil," tukasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini