Jejak Pengasingan Bung Karno: Terkena Malaria di Ende, Dipindahkan ke Bengkulu

Demon Fajri, Okezone · Minggu 25 Agustus 2019 07:04 WIB
https: img.okezone.com content 2019 08 24 337 2096206 jejak-pengasingan-bung-karno-terkena-malaria-di-ende-dipindahkan-ke-bengkulu-IwmGBt4Yqj.jpg Rumah Pengasingan Bung Karno di Bengkulu (Foto: Okezone.com/Demon Fajri)

Setiba di Kota Lubuk Linggau, Sumatera Selatan, Bung Karno kembali melanjutkan perjalanan darat menuju Kota Bengkulu dengan menaiki bus pemerintah Hindia Belanda.

Tiba di Bengkulu, Soekarno turun di kelurahan Pintu Batu Kecamatan Teluk Segara Kota Bengkulu.

Kedatangan presiden pertama RI itu di Bengkulu telah diketahui tokoh pergerakan kemerdekaan Bengkulu. Namun, kedatangan Bung Karno tersebut tidak diketahui apakah menggunakan jalur darat atau jalur laut.

''Setiba di Kota Bengkulu, Bung Karno menginap di penginapan di kelurahan Pintu Batu Kecamatan Teluk Segara KOta Bengkulu. Beliau di sana selama satu minggu,'' kata pendiri Bengkulu Heritage Socety, Almidianto, kepada okezone, Jumat 22 Agustus 2019.

''Dalam kurun waktu satu minggu tersebut Bung Karno mencari penginapan. Alhasil, ditemukan rumah di jalan soekarno-hatta RT 05 RW 02 Nomor 02 Kelurahan Anggut Atas Kecamatan Ratu Samban Kota Bengkulu Provinsi Bengkulu. Saat ini menjadi rumah pengasingan Bung Karno,'' sambung Almidianto.

Rumah pengasingan Bung Karno tersebut dibersihkan. Lalu, disewa oleh Belanda. Selama dua minggu menempati rumah pengasingan istrinya Inggit Ganarsih, berserta anak angkatnya Ratna Djuami, dan Hanafi menuyusul ke Bengkulu.

Rumah yang ditempati Bung Karno tersebut merupakan rumah milik pedagang Tionghoa yang di sewa Belanda, Lion Bwe Seng.

Rumah Bung Karno di Bengkulu (Foto: Okezone.com/Demon Fajri)

Udara dan tanah Bengkulu yang lebih baik mengembalikan kesehatan semangat perjuangan Bung Karno, sewaktu di Ende, Flores, NTT.

Sembuh dari sakit, Bung Karno langsung mengambil hati rakyat Bengkulu dengan membangun masjid dan mengundang warga berdiskusi tentang kebangsaan dan kemerdekaan.

Bung Karno juga banyak berdiskusi dan berteman baik dengan pimpinan Muhammadiyah cabang Bengkulu dan tokoh agama lain serta tokoh-tokoh setempat.

Tidak hanya itu, Soekarno juga merangkul kaum muda. Bahkan, Bung Karno mengambil alih club musik Monte Carlo yang dikembangkan menjadi sandiwara musik (Tonil), sebagai medium penyebarluasan gagasan perjuangannya.

Bung Karno juga membentuk club olagraga Monte Carlo untuk cabang Badminton dan sepak bola.

''Pengasingan Bung karno di Bengkulu tetap mendapatkan pengawasan dari Polisi rahasia Belanda. Bung Karno diperbolehkan beraktivitas diluar rumah hanya saja tidak diperkenankan keluar dari Kota Bengkulu dengan radius 40 kilometer (KM),'' cerita Almidianto.

(kha)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini