Jejak Pengasingan Bung Karno: Terkena Malaria di Ende, Dipindahkan ke Bengkulu

Demon Fajri, Okezone · Minggu 25 Agustus 2019 07:04 WIB
https: img.okezone.com content 2019 08 24 337 2096206 jejak-pengasingan-bung-karno-terkena-malaria-di-ende-dipindahkan-ke-bengkulu-IwmGBt4Yqj.jpg Rumah Pengasingan Bung Karno di Bengkulu (Foto: Okezone.com/Demon Fajri)

PRESIDEN pertama Republik Indonesia (RI), Soekarno sempat menginjakkan kaki di provinsi berjuluk ''Bumi Rafflesia'', Bengkulu. Tidak kurang selama 4 tahun, terhitung sejak 1938 hingga 1942.

Sebelum diasingkan di provinsi dengan 10 kabupaten ini. Bung Karno konsisten melawan penjajah sempat diasingkan ke Kota Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Di Ende, Bung Karno menempati rumah milik, Abdullah Ambuwaru.

Di sana Bung Karno tinggal bersama istri, Inggit Ganarsih, ibu mertuanya Amsi serta anak angkat Soekarno, Ratna Djuami.

Di Ende, Bung Karno diasingkan selama 4 tahun terhitung sejak 1934 hinga 1938. Di sana, kondisi Bung Karno mengalami penurunan mental parah. Namun, berkat dukungan sang istri Inggit, secara perlahan kondisi Bung Karno mulai bangkit.

Rumah Bung Karno di Bengkulu (Foto: Okezone.com/Demon Fajri)

Hal tersebut ditandai dengan gejolak semangat Bung Karno untuk mulai memikirkan hobi seninya. Mulai dari melukis, menulis, memainkan biola dan berkeliling kota. Bahkan, presiden pertama RI ini juga mendirikan club sandiwara Kelimoetoe.

Dari club sandiwara itu Bung Karno dapat menyampaikan pemikiran-pemikiran tentang nasionalisme, kemerdekaan serta semangat gotong-royong.

Semasam di Ende, Bung Karno terkena malaria yang hampir merenggut nyawanya. Berita sakit kerasnya sampai ke telinga Muhammad Husin Thamrin.

Sehingga Thamrin mengajukan protes kepada Volksraad, agar Bung Karno dapat dipindahkan dari Ende guna mendapatkan perawatan lebih baik. Protes Thamrin sampai ke Den Haag Belanda, yang setuju memindahkan Bung Karno dari Ende.

Bung Karno Diasingkan ke Bumi Rafflesia

Rumah Bung Karno di Bengkulu (Foto: Okezone.com/Demon Fajri)

Tahun 1938, Bung Karno diasingkan ke Bengkulu. Pengasingan Bung Karno ke Bengkulu sebelumnya Bung Karno telah diasingkan di Ende, Flores, NTT selama empat tahun. Perjalanan pengasingan Bung Karno ke Bengkulu cukup panjang.

Di mana dari Ende, Flores, NTT Bung Karno menuju Jakarta dengan menggunakan kapal laut. Dari pulau Jawa, Bung Karno menuju Lampung dengan kapal laut dan bersandar di pelabuhan Tanjung Karang, Lampung.

Dari Tanjung Karang, Lampung. Soekarno kembali melanjutkan perjalanan menuju Kota Lubuk Linggau Sumatera Selatan dengan menaiki kereta api.

Setiba di Kota Lubuk Linggau, Sumatera Selatan, Bung Karno kembali melanjutkan perjalanan darat menuju Kota Bengkulu dengan menaiki bus pemerintah Hindia Belanda.

Tiba di Bengkulu, Soekarno turun di kelurahan Pintu Batu Kecamatan Teluk Segara Kota Bengkulu.

Kedatangan presiden pertama RI itu di Bengkulu telah diketahui tokoh pergerakan kemerdekaan Bengkulu. Namun, kedatangan Bung Karno tersebut tidak diketahui apakah menggunakan jalur darat atau jalur laut.

''Setiba di Kota Bengkulu, Bung Karno menginap di penginapan di kelurahan Pintu Batu Kecamatan Teluk Segara KOta Bengkulu. Beliau di sana selama satu minggu,'' kata pendiri Bengkulu Heritage Socety, Almidianto, kepada okezone, Jumat 22 Agustus 2019.

''Dalam kurun waktu satu minggu tersebut Bung Karno mencari penginapan. Alhasil, ditemukan rumah di jalan soekarno-hatta RT 05 RW 02 Nomor 02 Kelurahan Anggut Atas Kecamatan Ratu Samban Kota Bengkulu Provinsi Bengkulu. Saat ini menjadi rumah pengasingan Bung Karno,'' sambung Almidianto.

Rumah pengasingan Bung Karno tersebut dibersihkan. Lalu, disewa oleh Belanda. Selama dua minggu menempati rumah pengasingan istrinya Inggit Ganarsih, berserta anak angkatnya Ratna Djuami, dan Hanafi menuyusul ke Bengkulu.

Rumah yang ditempati Bung Karno tersebut merupakan rumah milik pedagang Tionghoa yang di sewa Belanda, Lion Bwe Seng.

Rumah Bung Karno di Bengkulu (Foto: Okezone.com/Demon Fajri)

Udara dan tanah Bengkulu yang lebih baik mengembalikan kesehatan semangat perjuangan Bung Karno, sewaktu di Ende, Flores, NTT.

Sembuh dari sakit, Bung Karno langsung mengambil hati rakyat Bengkulu dengan membangun masjid dan mengundang warga berdiskusi tentang kebangsaan dan kemerdekaan.

Bung Karno juga banyak berdiskusi dan berteman baik dengan pimpinan Muhammadiyah cabang Bengkulu dan tokoh agama lain serta tokoh-tokoh setempat.

Tidak hanya itu, Soekarno juga merangkul kaum muda. Bahkan, Bung Karno mengambil alih club musik Monte Carlo yang dikembangkan menjadi sandiwara musik (Tonil), sebagai medium penyebarluasan gagasan perjuangannya.

Bung Karno juga membentuk club olagraga Monte Carlo untuk cabang Badminton dan sepak bola.

''Pengasingan Bung karno di Bengkulu tetap mendapatkan pengawasan dari Polisi rahasia Belanda. Bung Karno diperbolehkan beraktivitas diluar rumah hanya saja tidak diperkenankan keluar dari Kota Bengkulu dengan radius 40 kilometer (KM),'' cerita Almidianto.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini