nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Monumen 14 Februari, Saksi Merah Putih Berkibar Pertama Kali di Bumi Minahasa

Subhan Sabu, Jurnalis · Sabtu 24 Agustus 2019 07:01 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 08 23 337 2095954 monumen-14-februari-saksi-merah-putih-berkibar-pertama-kali-di-bumi-minahasa-smcAe2B9xU.jpg Monumen 14 Februari (Foto: Okezone.com/Subhan Sabu)

MINAHASA - Monumen yang terletak di jalan raya Kawangkoan - Tompaso, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara ini diresmikan 30 November 1987 oleh Gubernur Sulut saat itu, CJ Rantung. Monumen ini dibangun untuk mengenang jasa-jasa perjuangan Bernard Wilhelm Lapian (B.W Lapian) dan Charles Choesoy Taulu (Ch. Ch Taulu) pada peristiwa Merah Putih 14 Februari 1946 di Manado.

Namun sayangnya, perjuangan para terdahulu di peristiwa Merah Putih tersebut seakan terlupakan. kondisi monumen ketika disambangi okezone sangat memprihatinkan. Tak terurus dan ditumbuhi rerumputan.

Padahal, di kawasan monumen ini dibangun tempat duduk yang bisa untuk bersantai. Jika kondisinya baik, tempat ini bisa dijadikan tempat bersantai menikmati hawa sejuk di Minahasa.

Letaknya pun cukup strategis, di pinggir jalan raya dan dekat dengan pusat kota Kawangkoan. Kondisi monumen yang memprihatinkan ini diharapkan mendapat perhatian dari pemerintah setempat.

Monumen 14 Februari (Foto: Okezone.com/Subhan Sabu)

BW Lapian dan CH Taulu merupakan pemimpin perjuangan RI di Minahasa. Keduanya merupakan tokoh penting peristiwa Merah Putih. Latar belakang peristiwa tersebut terjadi ketika provokasi Belanda terhadap dunia luar yang menyebut Proklamasi Kemerdekaan RI 17 Agustus 1945 hanyalah gertakan segelintir orang di pulau Jawa.

Dampak negatif dari provokasi tersebut dirasakan LN Palar, yang saat itu sebagai Duta Besar Pertama RI di PBB, yang sedang berjuang di PBB untuk mendapatkan dukungan PBB dan Negara-negara anggota PBB.

Palar kemudian mengontak para pejuang di Manado, meminta mereka melakukan perlawanan terhadap Belanda. Bangkitnya keberanian warga Minahasa untuk merebut kekuasaan dari tangan Belanda juga semakin terdorong ketika mereka membaca pesan rahasia dari Pahlawan Nasional Dr Sam Ratulangi yang saat itu sebagai Gubernur Sulawesi di Makassar.

Monumen 14 Februari (Foto: Okezone.com/Subhan Sabu)

Sam Ratulangi meminta tentara KNIL, asal Minahasa yang pro RI segera melakukan aksi militer di tangsi KNIL (Sekarang Markas Pomdam XIII/Merdeka) di Teling Manado. Surat rahasia itu kemudian dibawa ke BW Lapian yang adalah seorang politisi dan CH Taulu yang merupakan tokoh militer.

Sejumlah tentara KNIL dan tokoh masyarakat maupun politisi Minahasa yang pro RI langsung merancang perebutan tangsi tentara KNIL tersebut. Peristiwa itu direalisasikan para pejuang pada tanggal 14 Februari 1946 dinihari.

Seluruh pimpinan teras tentara di tangsi itu, termasuk seluruh pimpinan Garnizun Kota Manado yang juga bermarkas di tangsi ditangkap dan disel. Peristiwa itu berlangsung mulai pukul 01.00 hingga 05.00 Wita.

Tepat pukul 03.00 Wita, para pejuang menurunkan bendera Kerajaan Belanda Merah Putih Biru. Merobek warna birunya dan menaikkan kembali warna Merah Putih ke puncak tiang bendera di markas tentara yang disebut-sebut angker karena dihuni pasukan KNIL pasukan berani mati, andalan Belanda.

Dengan cepat kejadian ini tersebar ke Australia, Inggris dan Amerika Serikat. Peristiwa ini sangat bernilai strategis, sebab hanya beberapa jam kemudian seluruh dunia mengetahui bahwa tidak benar provokasi Belanda bahwa Kemerdekaan RI cuma sebatas perjuangan di Jawa. Dunia lewat peristiwa ini, akhirnya tahu, Proklamasi Kemerdekaan RI 17 Agustus 1945 didukung oleh seluruh rakyat Indonesia.

Ben Wowor, tokoh perjuangan peristiwa heroik tersebut mengatakan bahwa ini merupakan kudeta, murni suatu perebutan kekuasaan yang diakui Tentara Sekutu, dan dilakukan dengan memakai otak, gunakan strategi jitu, sehingga berlangsung secara lancar tanpa chaos dan jauh dari aksi vandalisme.

"Dan hasilnya, bendera Merah Putih bisa berkibar di Sulawesi Utara, seluruh tahanan pro Proklamasi Kemerdekaan RI 17 Agustus 1945 berhasil dibebaskan, dan kami menahan serta mengasingkan para pejabat NICA ke Ternate,” ujar saksi hidup yang kini berusia 97 tahun itu.

Penulis buku Peristiwa Heroik Merah Putih 14 Februari 1946 itu juga mengatakan bahwa mereka berhasil membentuk pemerintahan sipil dipimpin BW Lapian didampingi Ch Taulu selaku Pimpinan Ketentaraan, didampingi SD 'Mais' Wuisan. Waktu itu juga diangkat panglima-panglima teritorial, dipimpin Hulubalang Eng Johannes dari NTT, dengan Kepala Staf John Rahasia.

Satu hal penting, ini bukan semata perjuangan Orang Minahasa. Selain dari Nusa Tenggara Timur (NTT), di dalamnya ada pejuang dari Sangihe Talaud (Pontoh dkk), Arnold Mononutu (Maluku Utara), para raja Bolaang Mongondow, Danuphoyo dkk (Gorontalo).

Monumen 14 Februari (Foto: Okezone.com/Subhan Sabu)

Sejumlah laskar dari Sulawesi Selatan hingga Papua, Hidayat dkk (Sunda), juga beberapa anggota Kompi 7 pimpinan Mambik Runtukahu yang berasal dari tanah Jawa, Sumatera dan Kalimantan.

"Yang saya harapkan agar sejarah tentang 14 Februari ini diketahui, jangan sampai anak cucu lebih tahu 14 Februari hanya merupakan hari valentine day. Padahal Bung Karno sendiri mengakui 14 Februari adalah Hari Patriotik, sehingga dinyatakannya sebagai Hari Sulawesi Utara. Ingat, ini sejarah heroik yang dahsyat. Jangan lupa itu sejarah, agar jangan digilas sejarah," pungkasnya.

B.W Lapian meninggal pada tanggal 5 April 1977 di Jakarta dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Pada tahun 1958, Lapian dianugerahi penghargaan Bintang Gerilya dan pada tahun 1976 ia menerima penghargaan Bintang Mahaputra Pratama. Ia dinyatakan sebagai Pahlawan Nasional oleh Presiden Joko Widodo dalam sebuah upacara di Istana Negara pada tanggal 5 November 2015.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini