nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Cerita Pengemis dari Kota Bogor, Ketagihan karena Mudah Dapat Uang

Putra Ramadhani Astyawan, Jurnalis · Sabtu 24 Agustus 2019 12:31 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 08 23 337 2095924 cerita-pengemis-dari-kota-bogor-ketagihan-karena-mudah-dapat-uang-EiuWb9GuIe.jpg Pengemis kaya pembawa mobil (Foto: Okezone.com/Putra)

KEBERADAAN pengemis memang sudah tidak lagi asing di mata kita terutama di wilayah kota-kota besar. Mayoritas dari mereka memilih beraksi di persimpangan jalan protokol untuk meminta belas kasihan kepada para pengendara yang melintas.

Berbagai cara dilakukan mereka mulai dari membawa anak kecil hingga memamerkan kekurangan tubuhnya untuk mendapat rasa iba bagi siapapun yang melihat. Namun, tidak sedikit semua itu hanyalah ide kreatif mereka demi mendapatkan rupiah dengan singkat.

Seperti yang dilakukan oleh Herman (80), salah satu pengemis di wilayah Kota Bogor, Jawa Barat yang sempat viral di media sosial dengan aksinya mengemis. Kakek yang mempunyai kekurangan di bagian wajahnya itu diketahui kerap pulang-pergi mengemis dengan menaiki mobil sewaan.

Kepada Okezone, Herman yang merupakan warga Kampung Cisauk, Desa Cemplang, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat itu mengakui hal tersebut. Ia berdalih, sengaja menyewa mobil dengan alasan tidak kuat berjalan kaki.

Pengemis Kaya dari Bogor (Foto: Ist)

"Bukan itu bukan mobil saya, saya cuma nyewa dari rental buat nganter pulang pergi. Soalnya kalau naik umum kaki saya suka sakit, jadi saya nyewa mobil," ucap Herman, ketika berbincang dengan Okezone.

Herman menambahkan, mobil tersebut disewanya hanya setengah hari dengan harga Rp 80 ribu berikut dengan sopir. Nantinya, mobil itu mengantarkannya ke tempat yang dituju yang biasanya di persimpangan jalan kemudian kembali dijemput pulang siang hari.

"Saya sewa Rp 80 ribu setengah hari sama sopir. Saya setiap hari berangkat (ngemis) jam 6 pagi kalau pulang jam 11-12 siang. Hari Jumat libur," jelasnya.

Ia pun menceritakan sudah menjadi pengemis di wilayah Kota Bogor sejak tahun 1980-an. Dalam sehari, lanjut Herman, dirinya bisa mendapat uang dari para pengendara yang melintas sekitar Rp 100-150 ribu hanya dalam waktu hitungan beberapa jam.

"Uang itu buat kebutuhan sehari-hari. Saya tinggal sama anak, dia kerja jadi petugas kebersihan di Pamulang. Karena uang gaji anak saya cuma Rp800 ribu, tidak cukup jadi saya ngemis," tambahnya.

Herman mengaku terkejut bahwa foto dirinya menjadi viral di media sosial lantaran disinyalir memakai mobil pribadi saat pergi mengemis di persimpangan jalan. Ia pun menampik jika dirinya merupakan orang mampu yang hanya berkedok menjadi pencari iba.

"Saya memang mengemis pakai mobil, tapi itu mobil rental bukan punya saya pribadi. Saya keget ada berita saya di Facebook ada yang bilang orang kaya, juragan angkot itu enggak benar," kilahnya.

Ketagihan

Para pengemis cenderung memiliki rasa ketagihan karena mendapat uang dengan cara mudah dengan penghasilan yang terbilang cukup besar. Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial pada Dinas Sosial (Dinsos) Kota Bogor Siti Nur Sarah.

Siti mengatakan, bahwa keberadan para pengemis di wilayah Kota Bogor mayoritas berasal dari luar daerah. Berbagai cara pun sudah dilakukan Dinsos Kota Bogor mulai dari razia hingga pembinaan serta namun hasilnya mereka tetap kembali ke jalan.

"Mereka ketagihan, ketika kami amankan dan sudah dibina tetap saja tidak bertahan lama. Balik lagi ke jalan (ngemis), kata Siti, saat dihubungi Okezone.

Selain itu, keberadaan para pengemis juga dipengaruhi oleh masih banyaknya masyarakat yang memberi mereka uang atas dasar rasa iba. Namun, tindakan tersebut justru memanjakan dan membuat mereka malas mencari pekerjaan yang layak.

"Ketika merka diberi keterampilan dan bekerja yang ditempat yang layak mereka tidak akan betah. Karena apa? Penghasilan di jalan lebih menjajikan, mereka bisa dapat Rp 200- Rp 300 ribu hanya dalam beberapa jam di jalan. Memang kelihatannya kecil dapat seribu dua ribu, tapi kalau dikalikan sangat besar," paparnya.

Infografis Pengemis (Foto: Okezone)

Untuk itu, pihaknya berharap agar masyarakat juga memahami imbas dari rasa iba mereka terhadap para pengemis. Alangkah baiknya, agar masyarakat menyalurkan uang kepada orang yang benar-benar membutuhkan dan di tempat yang semestinya.

"Ketika sedikit orang yang memeberi mereka (uang), pasti lama-lama mereka jenuh dan mencari pekerjaan layak. Tetapi jika masih banyak, jumlah mereka terus bertambah dan menghiasi sudut kota," ungkap Siti.

Kurang Optimal

Kepala Bidang Trantibum Linmas Satpol PP Kota Bogor Sahib Khan mengakui penanganan terhadap keberadaan pengemis di wilayahnya masih belum berjalam secara optimal karena berbagai faktor.

"Yang pertama itu kurang anggaran, misalnya kita habis razia dapat 10 atau 20 pengemis kan setelah itu kita data. Nah, pasti karena kita manusiawi kita beri makan mereka, kalau sekali dua kali tidak masalah, kalau sering kan anggaran terbatas," ucap Sahib.

Kemudian, faktor kurangnya personel untuk melakukan monitoring di wilayah Bogor. Karena, sifat dari para pengemis tersebit kerap berpindah-pindah lokasi sehingga menyulitkan anggotanya.

"Patroli itu pasti, tetapi kita juga kurang personel, hasilnya kita hanya bisa menjangkau jalan-jalan besar saja akhirnya di wilayah perbatasan tidak termonitor. Mereka itu juga suka berpindah, sekarang di lampu merah sini, besok di lampu merah lain," bebernya.

Terakhir, regulasi pemerintah yang belum optimal. Kota Bogor, lanjut Sahib, memiliki Peraturan Daerah Nomor 8 Tahun 2009 tentang Penyelenggaraan dan Penanganan Kesejahteraan Sosial.

Berdasarkan perda tersebut, disebutkan bahwa setiap orang dilarang melakukan kegiatan gelandangan atau mengemis. Setiap orang juga dilarang mengkoordinir dan mengeksploitasi, serta menjadikan gelandangan dan pengemis sebagai alat mencari keuntungan bagi kepentingan diri sendiri dan orang lain.

"Aturan ada masuknya Tipiring (Tindak Pidana Ringan). Tetapi kan semua itu harus berjalan sesuai SOP karena melalui berbagai proses kejaksaan, pengadilan dan lain-lain. Juga ketika orang memberi harus tertangkap basah. Tapi yang saya bilang, tidak bisa terus menunggu sampai ada yang ngasih karena kita kurang personel. Jadi intinya penanganan soal pengemis saya jujur saja belum optimal," tutupnya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini