nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Dilema Pengemis: Gagal Bersaing di Ibu Kota, Ogah Pulang Kampung karena Malu

Wijayakusuma, Jurnalis · Sabtu 24 Agustus 2019 11:02 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 08 23 337 2095911 dilema-pengemis-gagal-bersaing-di-ibu-kota-ogah-pulang-kampung-karena-malu-FwhBp5aTQt.jpg Ilustrasi (Foto: Dokumentasi Okezone)

GEMERLAP kota-kota besar dengan semua kemajuannya, kerap membuat masyarakat di pelosok terpana dan berkeinginan menetap disana. Tak heran jika sebuah kota besar selalu dipenuhi dengan pendatang dari berbagai daerah, yang berharap dapat merubah nasib.

Namun ibarat panggang jauh dari api, impian ternyata jauh dari kenyataan. Harapan untuk bisa memperoleh pekerjaan yang lebih baik, harus kandas ditengah jalan lantaran terkendala hal-hal, seperti biaya, keahlian serta pendidikan yang minim.

Kebutuhan hidup pun akhirnya memaksa para pendatang tersebut untuk bekerja seadanya. Tak banyak yang bisa dilakukan selain mengandalkan rasa iba orang lain untuk menghasilkan uang. Dan jadilah mereka pengemis atau pengamen demi bisa bertahan hidup ditengah ganasnya kota.

Kendati demikian, masih banyak pendatang yang malu mengakui profesinya sebagai pengemis kepada orang-orang di kampung halaman. Mereka malu karena sampai meninggalkan kampung halaman demi bisa merubah nasib di kota besar.

Pengemis Bekasi

"Ya sebenarnya begini (mengemis) tuh malu. Sama orang di kampung juga malu, karena kan niatnya mau kerja bener," kata Sunari, pengemis asal Indramayu yang kerap beroperasi di perumahan warga di Bekasi, saat diwawancarai Okezone, Kamis (22/8/2019).

Lelaki 67 tahun warga Kampung Kombo, Kecamatan Krisi, Indramayu, Jawa Barat itu tak pernah menyangka bakal menggeluti profesi pengemis. Ia mengaku sempat mencicipi menjadi kuli bangunan di awal-awal kedatangannya ke kota Patriot itu. Namun hal tersebut tak berlangsung lama, karena dirinya jatuh sakit.

"Jadi dada saya itu sakit kalau pas kerja. Setiap hari begitu makanya berhenti," ujarnya.

Karena tak punya pilihan lain, Sunari pun terpaksa mengemis demi bisa menyambung hidupnya bersama istri dan kelima anaknya yang kala itu masih kecil-kecil. Setiap hari ia mengemis bersama sang bibi, Sitem, yang memiliki kaki agak pengkor. Keduanya keluar selepas maghrib, mengemis dari satu pintu ke pintu lain hingga jelang tengah malam.

Infografis Pengemis (Foto: Okezone)

"Malu, tapi ya mau gimana lagi. Kalau gak begini, gak bisa makan," ucapnya.

Kendati anak-anaknya tak ada yang mengecap bangku sekolah lantaran ketiadaan biaya, Sunari tak ingin satu pun dari buah hatinya sampai mengikuti jejaknya mengemis. Ia pun tak pernah membawa serta anak cucunya saat mengemis, seperti yang kebanyakan dilakukan pengemis lainnya untuk menambah rasa iba masyarakat.

"Ya kalau anak cucu jangan seperti saya lah. Cukup saya aja yang begini, anak cucu saya jangan lagi. Anak saya kebetulan yang menikah sudah 4," imbuhnya.

Meski telah meninggalkan kampung halaman selama lebih dari satu dekade, Sunari mengaku masih enggan untuk kembali. Rasa malu terhadap profesi yang dilakoninya, membuat niatan untuk mudik urung terlaksana.

"Bertahun-tahun gak pernah pulang kampung. Ya sebenarnya sih mau pulang, cuma masih malu," celetuknya.

Sunari juga tak berharap banyak dengan bantuan dari Pemerintah terhadap orang-orang kecil sepertinya. Terlebih ia bisa menerima kondisinya seperti ini dengan ikhlas.

"Ya sekarang ini cuma bisa pasrah, karena kan mau minta tolong sama siapa," tandasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini