nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

MUI Ingin Kasus UAS Diselesaikan dengan Bijak, Jangan Ditarik ke Politik

Fahreza Rizky, Jurnalis · Kamis 22 Agustus 2019 07:21 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 08 22 337 2095082 mui-ingin-kasus-uas-diselesaikan-dengan-bijak-jangan-ditarik-ke-politik-t0GzHFEtnE.jpg Majelis Ulama Indonesia (Fahreza/Okezone)

JAKARTA – Dai kondang asal Riau, Ustadz Abdul Somad alias UAS sudah mengklarifikasi soal ceramahnya yang viral tentang salib di Kantor Pusat Majelis Ulama Indonesia (MUI), Jakarta, Rabu 21 Agustus kemarin. MUI berharap masalah ini bisa selesai lewat musyawarah antartokoh agama, tanpa masuk ke ranah hukum.

“Oleh karena itu ya harus diselesaikan secara lebih arif dan bijaksana. Misalnya tokoh-tokoh agama ini bertemu supaya arif dan bijaksana. Kalau ini dilakukan, ini selesai persoalannya,” kata Wakil Sekretaris Jenderal MUI, KH Amirsyah Tambunan saat berbincang dengan Okezone, Kamis (22/8/2019).

MUI khawatir bila kasus ini ditarik-tarik oleh pihak yang tidak bertanggung jawab ke ranah politik. Untuk mengantisipasi perembetan kasus ini, maka hendaknya diselesaikan melalui jalur musyarah. Namun bila ada pihak yang tidak puas, menempuh jalur hukum sah-sah saja karena Indonesia negara hukum.

“Misalnya ingin jalur hukum, ya negara memberi sarana untuk itu. Tapi kan itu tidak jalan satu-satunya. Yang terbaik adalah musyawarah,” ucap Amirsyah.Ustadz Abdul Somad

“Yang justru kita khawatir nanti ditarik-tarik ke wilayah politik. Itu repot lagi. Jangan sampai persoalan ini merembet ke mana-mana. Hal-hal yang besar harus diperkecil. Hal yang kecil harus diselesaikan,” tuturnya.

Pertama dalam rangka kehidupan berbangsa dan bernegara ada dua tugas dan tanggung jawab dari warga negara. Pertama memelihara kehidupan beragama, baik yang bersifat internal ataupun eksternal.

Baca juga: MUI: Ceramah UAS Sebaiknya Tak Masuk ke Ranah Hukum

Amirsyah mengatakan salah tugas warga negara adalah menjaga kerukunan dalam kehidupan beragama, baik secara internal maupun eksternal. Umat beragama yang meyakini keyakinannya tidak boleh diintervensi oleh kehidupan beragama lainnya.

Baca juga: 5 Poin Penjelasan UAS soal Tudingan Penodaan Simbol Agama

“Misalkan ketika Somad menjelaskan seperti itu. Itu konteksnya kehidupan internal umat beragama ketika menjawab pertanyaan jamaahnya. Itu sah-sah saja jawabnya seperti itu. Yang jadi masalah ketika yang internal tadi ditarik-tarik ke wilayah eksternal,” jelasnya.

Penyelesaian masalah lewat jalur hukum adalah jalan terakhir apabila dialog dan musyarah tidak mencapai titik temu. Ia mengingatkan agar kehidupan umat beragama di Indonesia tidak diisi oleh hal-hal yang kontraproduktif. Sebaliknya ia menginginkan terjadinya keguyuban antar kehidupan umat beragama.

“Jadi kalau kita tidak rukun, kita membuat kehidupan beragama menjadi kontraproduktif,” tukas Amirsyah.

UAS sendiri sudah mengklarifikasi isi ceramahnya saat bertandang ke Kantor Pusat MUI. UAS berkata bahwa pernyataannya soal salib adalah untuk menjawab pertanyaan dari jamaah.

Hal itu juga disampaikan pada umat Islam di tempat tertutup. Dalam konteks itu dirinya sedang menjelaskan akidah Islam, bukan berdebat, berdialog atau perbandingan agama. (sal)

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini