Masyarakat Diimbau Jangan Sebarkan Hoaks Perkeruh Situasi di Papua

Fakhrizal Fakhri , Okezone · Rabu 21 Agustus 2019 15:44 WIB
https: img.okezone.com content 2019 08 21 337 2094823 masyarakat-diimbau-jangan-sebarkan-hoaks-perkeruh-situasi-di-papua-L74oRcCtxM.jpg Kerusuhan di Manokwari (Foto: Ist)

JAKARTA - Direktur Eksekutif The Jakarta Institute (TJI) Reza Fahlevi mendukung langkah yang diambil pemerintah dan TNI-Polri dalam menjaga stabilitas keamanan di seluruh Indonesia, terutama keamanan seluruh warganya dari berbagai gangguan dan intimidasi serta sikap rasis. Terutama ketika meredam gejolak di Papua.

Pihaknya pun turut mengimbau seluruh pihak untuk bersama-sama menjaga kondusifitas di Papua. "Hal itu bisa dilakukan dengan hal yang paling sederhana dimulai dari diri kita sendiri yaitu tidak ikut menyebar berita hoax yang turut menjadi penyebab kemarahan masyarakat di Papua," kata Levi, dalam keterangan tertulisnya, Rabu (21/8/2019).

Baca Juga: Polri: Situasi di Fakfak Papua Barat Sudah Tenang 

Levi juga meminta aparat kepolisian segera mengusut dalang utama penyebar hoaks terkait bentrok mahasiswa asal Papua dengan warga di Jawa Timur. Di mana, kabar bohong yang berisi konten provokatif itu memicu kerusuhan di Manokwari, Papua Barat, dan daerah lainnya.

Ilustrasi 

Menurut Levi, kekisruhan ini bermula dari postingan video penggerebekan di asrama mahasiswa asal Papua di Malang dan Surabaya, yang sudah diedit dan dibumbui sentimen rasis dan pelecehan terhadap simbol negara. Sehingga membuat amarah masyarakat Papua meledak.

Ia mengganggap, sosial media bila disalahgunakan dan disusupi kepentingan politik dari pihak-pihak yang mencoba merongrong keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) akan semakin melebarkan jurang terbelahnya persatuan dan kesatuan bangsa.

"Awalnya, kerusuhan yang pecah di Manokwari Papua Barat kemarin kan disebabkan sikap reaksioner massa terkait adanya insiden yang berkenaan dengan mahaiswa Papua di dua daerah di Jatim saat perayaan HUT RI akhir pekan lalu," kata Levi.

Levi menambahkan, gejolak di Papua Barat timbul karena adanya konstruksi sosial yang dilakukan oknum tertentu. Ia menduga ada pihak-pihak yang mengembangkan informasi-informasi seperti itu hanya untuk tujuan dan kepentingan pihak-pihak tertentu itu.

"Kami mengapresiasi respons cepat pemerintah melalui kepolisian dan TNI yang telah mengondisikan gejolak di sejumlah daerah di Papua terutama di Manokwari," tuturnya.

Baca Juga: Polri Imbau Masyarakat Papua dan Papua Barat Tak Termakan Hoaks

Bahkan, Presiden Joko Widodo (Jokowi), kata Levi, yang mengimbau masyarakat Papua untuk memaafkan patut diapresiasi setinggi-tingginya. Begitu pula dengan sikap negarawan dan teladan kepala daerah, seperti Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, Wali Kota Surabaya Risma Tri Rismaharini serta Wali Kota Malang Sutiaji yang langsung meminta maaf.

"Kata Presiden Jokowi emosi boleh, memaafkan lebih baik. Artinya Presiden memaklumi kemarahan rakyat Papua yang kerap mengalami intimidasi dan sentimen rasis. Tapi di sisi lain Presiden berharap kemarahan tidak diluapkan dengan merusak fasilitas negara dan mengganggu ketertiban umum," ujarnya.

Levi mengajak seluruh rakyat Indonesia untuk mengantisipasi kejadian yang sama agar tidak terulang kembali dengan berpegang teguh terhadap prinsip Bhinneka Tunggal Ika.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini