KPK Konfrontir 2 Legislator PDI-P Diduga Terkait Aliran Suap Proyek Meikarta

Arie Dwi Satrio, Okezone · Selasa 20 Agustus 2019 14:48 WIB
https: img.okezone.com content 2019 08 20 337 2094303 kpk-konfrontir-2-legislator-pdi-p-diduga-terkait-aliran-suap-proyek-meikarta-yYPwtPenN1.jpg Anggota DPRD Bekasi Soleman (Foto: Arie/Okezone)

JAKARTA - Anggota DPRD Bekasi fraksi PDI-Perjuangan, Soleman mengakui dikonfrontir oleh tim penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dengan anggota DPRD Provinsi Jawa Barat (Jabar) yang juga fraksi PDI-Perjuangan, Waras Wasisto.

Demikian diakui Soleman usai diperiksa dalam kapasitasnya sebagai saksi terkait kasus dugaan suap pengurusan izin proyek Meikarta di Kabupaten Bekasi. Soleman dan Waras diduga dikonfrontir terkait aliran suap proyek Meikarta.

"‎Hanya dikonfrontir saja sama Pak Waras tadi," singkat Soleman di pelataran Gedung Merah Putih KPK, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Selasa (20/8/2019).

Soleman juga mengakui bahwa pernah mengenalkan Waras Wasisto dengan mantan Kabid Penataan Ruang Dinas PUPR Kabupaten Bekasi, Neneng Rahmi Nurlaili yang kini sudah menjadi terpidana perkara suap proyek Meikarta.

"Saya cuma memperkenalkan Pak waras dengan Bu Neneng (Rahmi Nurlaili) saja‎," ucapnya.

Korupsi

Baca Juga: Dua Legislator PDIP Diperiksa KPK Terkait Suap Proyek Meikarta

Kendati demikian, Soleman mengklaim tidak pernah bertemu dengan Neneng Rahmi untuk membahas Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten Bekasi. Hal itu, kata dia, dibahas oleh tim panitia khusus (pansus) RDTR DPRD Kabupaten Bekasi.

"Itu ditanyakan sama kawan-kawan yang bahas RDTR," kata Soleman.

Sekadar informasi, KPK memeriksa dua legislator PDI-P sebagai saksi pada hari ini. Keduanya yakni, anggota DPRD Bekasi, Soleman dan anggota DPRD Jawa Barat, Waras Wasisto. Keduanya diperiksa sebagai saksi untuk tersangka Sekda Jawa Barat non-aktif, Iwa Karniwa (IWK).

Dalam persidangan kasus Meikarta beberapa waktu lalu, Waras disebut berperan mengalirkan uang suap proyek Meikarta ke Pemprov Jawa Barat dalam hal ini Iwa Karniwa. Awalnya, Neneng Rahmi diminta oleh mantan Bupati Bekasi, Neneng Hasannah untuk mengurus Rencana Detail Tata Ruang untuk Proyek Meikarta.

Neneng Rahmi mendapat informasi bahwa Sekretaris Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Henry Lincoln memiliki jaringan di Pemprov Jabar yakni melalui Anggota DPRD Kabupaten Bekasi Soleman dan Anggota DPRD Jabar Waras Wasisto.

Kemudian Henry Lincoln bertemu dengan Iwa, Waras, dan Soleman di rest area. Dari hasil pertemuan itu, Iwa meminta Rp1 miliar untuk mengurus RDTR Kabupaten Bekasi. Permintaan itu pun dipenuhi oleh Neneng Rahmi. Ia pun kemudian meminta uang Rp1 miliar itu ke pihak Meikarta.

Akhirnya Neneng memberikan uang senilai Rp900 juta kepada Soleman untuk kemudian disampaikan kepada Iwa. Sebelum sampai ke tangan Iwa Soleman memberikannya terlebih dahulu kepada Waras. Sisa Rp100 juta dari yang belum diberikan kepada Iwa pun diminta oleh Waras.

KPK sendiri telah menetapkan Sekretaris Daerah (Sekda) Pemprov Jawa Barat (Jabar), Iwa Karniwa (IWK) sebagai tersangka pengembangan kasus dugaan suap pengurusan izin Meikarta di Cikarang.

Iwa Karniwa diduga menerima suap Rp900 juta untuk mengurus Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten Bekasi yang masih berkaitan dengan proyek Meikarta.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini