nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

AJI: Terapkan Jurnalisme Damai dalam Memberitakan Peristiwa Papua

Salman Mardira, Jurnalis · Selasa 20 Agustus 2019 08:57 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 08 20 337 2094136 aji-terapkan-jurnalisme-damai-dalam-memberitakan-peristiwa-papua-7AKpaaZQZn.jpeg Massa turun ke jalan di Manokwari, Papua Barat memprotes tindakan rasisme terhadap mahasiswa Papua di Jawa hingga berujung rusuh (Okezone/Istimewa)

JAKARTA – Aliansi Jurnalis Independen (AJI) meminta jurnalis dan media menerapkan prinsip jurnalisme damai dalam pemberitaan peristiwa bernuansa konflik. Contohnya seperti terjadi di Papua yang dinilai buntut dari perlakuan tak etis terhadap mahasiswa Papua di beberapa daerah terutama Jawa Timur.

Prinsip jurnalisme damai dinilai penting diterapkan untuk menurunkan tensi sekaligus mengantisipasi konflik membesar.

“Jurnalisme damai tak berpretensi untuk menghilangkan fakta. Tapi, yang lebih diutamakan adalah memilih atau menonjolkan fakta yang bisa mendorong turunnya tensi konflik dan ditemukannya penyelesaiannya secara segera,” kata Ketua Umum AJI Indonesia, Abdul Manan dalam keterangannya, Selasa (20/8/2019)

Media massa dalam beberapa hari ini memberitakan peristiwa pengepungan organisasi massa, satuan polisi pamong praja Kota Surabaya, polisi dan tentara terhadap asrama mahasiswa Papua di Jalan Kalasan Nomor 10, Surabaya, Jawa Timur, pada 16 Agustus 2019.

Pemicunya adalah kabar tentang adanya perusakan tiang bendera, informasi yang dibantah mahasiswa Papua. Selama pengepungan itulah terlontar umpatan bernada rasis, menggunakan nama binatang kepada mahasiswa Papua.Demo Manokwari

Suasana Manokwari saat demo rusuh 19 Agustus 2019 (Istimewa)

Peristiwa itu disusul sejumlah insiden lain di kota Malang dan Semarang. Puncaknya, Senin 19 Agustus 2019, ribuan orang di Papua dan Papua Barat memblokade sejumlah jalan dengan merobohkan pohon. Salah satunya terjadi di Jalan Yos Sudarso, Manokwari, Papua Barat.

Massa juga membakar Gedung DPRD di Kota Manokwari. Protes serupa juga terjadi di Jayapura. Massa turun ke jalan dan memblokir jalan utama menuju Bandara Sentani.

Baca juga: Polri Dalami Video Viral Berisi Ujaran Diduga Rasis dan Penghinaan ke Warga Papua

Dalam memberitakan peristiwa itu, ada media yang menggunakan istilah yang terkesan memberi stigma negatif. Misalnya, menulis judul berita yang antara lain menyebut soal mahasiswa Papua "keras kepala", "melakukan aksi anarkis", "membuat rusuh", dengan tanpa dukungan data dan informasi yang memadai.

Baca juga: Demo di Manokwari Rusuh, Massa Bakar Kantor DPRD Papua Barat

Ada juga yang informasinya tak berimbang, dengan tak meminta pihak yang dituduh berbuat rusuh tersebut menyampaikan versinya.

Saat memberitakan peristiwa di Papua ini, ada media massa yang tak cukup sensitif atas keadaan, yaitu dengan mengangkat dampaknya terhadap etnis tertentu. Secara tak sengaja, pemilihan sudut pandang seperti ini mengabaikan prinsip jurnalisme damai dalam pemberitaan bernuansa konflik karena bisa memicu dampak susulan.

Menyikapi pemberitaan media tentang peristiwa di Surabaya, Malang, Semarang dan Papua, AJI menyatakan sikap:

1. Mengimbau jurnalis dan media menerapkan prinsip jurnalisme damai dalam pemberitaan peristiwa bernuansa konflik seperti ini. Jurnalisme damai tak berpretensi untuk menghilangkan fakta. Tapi, yang lebih diutamakan adalah memilih atau menonjolkan fakta yang bisa mendorong turunnya tensi konflik dan ditemukannya penyelesaiannya secara segera.

2. Mengimbau jurnalis dan media mematuhi kode etik jurnalistik dalam peliputan dan pemberitaannya. Pasal 8 Kode Etik Jurnalistik mengingatkan jurnalis dan media untuk "tidak menulis atau menyiarkan berita berdasarkan prasangka atau diskriminasi terhadap seseorang atas dasar perbedaan suku, ras...". Sikap itu ditunjukkan antara lain dengan tidak mudah mempercayai informasi, apalagi sekadar tuduhan, dari ormas, TNI atau Polri. Dalam membuat berita juga hendaknya jangan mengesankan membenarkan tindakan yang rasis itu, baik oleh ormas mauapun aparat keamanan.Asrama Mahasiswa Papua

Penjagaan di depan Asrama Mahasiswa Papua di Surabaya (Syaiful/Okezone)

3. Mengimbau jurnalis dan media memberitakan peristiwa di Manokwari dan Jayapura sesuai kaidah Kode Etik Jurnalistik. Sikap itu antara lain dengan melakukan verifikasi sebelum melansir berita, menghindari memuat berita dari sumber yang tidak jelas, dan menuliskannya seakurat mungkin berdasarkan fakta. Media hendaknya tidak tergoda untuk memuat berita sensasional, meski itu mengundang jumlah pembaca yang tinggi.

Baca juga: Kerusuhan di Papua Barat Meluas, Kepala Suku Turun Tangan Kendalikan Massa

4. Meminta pemerintah melakukan proses hukum terhadap massa organisasi massa, TNI atau Polri, yang bersikap rasis karena itu merupakan pidana menurut Undang undang Nomor 40 tahun 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis. Aparat keamanan harus menghormati aspirasi yang disampaikan warga Papua, yang disampaikan secara damai dan memenuhi ketentuan hukum, karena itu merupakan bagian dari kebebasan berekspresi yang dilindungi Konstitusi.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini